Bekerja memang menjadi salah satu aktivitas untuk mendapatkan uang, demi menjalani kehidupan. Sangat manusiawi, jika para pekerja membutuhkan tempat kerja yang dapat membuat mereka nyaman.
Banyak orang tidak puas dengan pekerjaan mereka karena berbagai alasan: gaji kecil, jobdesk tidak jelas, keterampilan stagnan, minat untuk bekerja berkurang, dan sebagainya.
Jangan gegabah saat memutuskan ingin berhenti dari pekerjaan. Anda harus benar-benar punya satu alasan yang baik untuk keluar dari pekerjaan Anda, yakni untuk tujuan kehidupan yang lebih baik.
Namun, jika Anda merasa kurang nyaman bekerja di tempat Anda sekarang, ada baiknya untuk memikirkan tempat kerja baru.
Meski kenyamanan tersebut berbeda persepsi dari masing-masing pekerja, namun ada 12 tanda-tanda umum yang merupakan sinyal, Anda harus mengundurkan diri dan mencari tempat kerja baru.
1. Atasan Anda ternyata gemar mem-bully stafnyaIni perlu diwaspadai karena bisa jadi sebenarnya atasan Anda tidak menyukai kehadiran Anda. Bisa jadi, Anda akan dilecehkan olehnya.
2. Rekan sekerja yang juga gemar mem-bully
Bekerja dengan rekan sekerja yang suka mem-bully memang tidak menyenangkan. Kalau dibiarkan, bisa jadi akan timbul masalah pribadi yang nantinya akan berpengaruh terhadap kinerja Anda.
3. Rekan kerja terlalu ambisius
Penah mengalami rekan kerja ingin menonjol sendirian? Tidak mau bekerja dalam tim? Atau merasa apa yang Anda kerjakan diakui merupakan pekerjaanya? Apalagi jika ia terlalu ambisius untuk menggunakan beragam cara demi menduduki posisi tertentu. Lebih baik, segera rapikan perlengkapan Anda di kantor dan segera pindah kerja.
4. Bekerja keras sendirian
Jika Anda merasa bekerja sendirian dalam tim sementara atasan dan rekan-rekan kerja Anda dalam satu tim hanya bersantai. Lebih baik Anda cepat-cepat angkat kaki dari kantor.
5. Rekan sekantor memiliki kebiasaan buruk
Memiliki rekan kerja dengan kebiasaan buruk akan mengganggu pekerjaan Anda. Apalagi jika atasan Anda seakan tidak peduli dengan hal tersebut. Jadi, tunggu apa lagi untuk segera pindah kerja.
6. Orang-orang di kantor saling melempar kesalahan
Dalam melakukan pekerjaan, tanggung jawab merupakan hal yang penting. Namun tidak jarang, banyak pekerja yang merasakan rekan-rekannya saling tuding atas sebuah kesalahan. Mereka sepertinya tidak mau disalahkan. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk melamar ke kantor lainnya.
7. Atasan Anda tidak bisa bersikap tegas
Sebagai atasan, ketegasan sangat diperlukan untuk menjaga timnya. Namun jika Anda menemui atasan yang tidak dapat bertindak tegas atas kesemrawutan di dalam kantor, jangan tunda lagi untuk mencoba peruntungan di tempat lain.
8. Atasan Anda tidak adil dan pilih kasih
Anda merasa sudah bekerja dengan sebaik-baiknya, namun rekan Anda yang santai malah diberikan penghargaan oleh atasan. Mungkin jika di tempat lain, Anda akan lebih dihargai.
9. Peraturan yang selalu berubah dan membingungkan
Dalam menjalankan pekerjaan, perlu aturan yang tegas. Namun, jika di tempat kerja Anda saat ini sistem yang berjalan berdasarkan aturan yang tidak tegas dan membingungkan, daripada Anda dibuat pusing dan tidak berkembang, lebih bijaksana untuk mencari tempat baru.
10. Tidak ada yang memberikan Anda pelatihan
Sebagai seorang yang baru, tentu Anda membutuhkan bimbingan atau pelatihan dari rekan-rekan. Setidaknya ada rekan kerja Anda yang memberikan arahan untuk mengerjakan pekerjaan Anda. Namun jika tidak ada, Anda mungkin akan banyak terkena imbas dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan tim. Jadi, tunggu apa lagi? Segera buat surat lamaran baru.
11. Tidak ada penghargaan yang jelas
Sebagai pekerja, tentunya Anda ingin melakukan yang terbaik. Dan tentu saja harapannya, perusahaan akan memberikan perhatian dengan reward. Jika hal tersebut tidak Anda dapatkan bertahun-tahun selama bekerja, mungkin di tempat lain Anda akan menerimanya.
12. Atasan Anda tidak pernah memberikan arahan yang jelas
Secara hierarki atasan Anda berhak memerintahkan Anda untuk melakukan sebuah pekerjaan yang memang Anda kuasai. Namun, jika arahan tersebut selalu tidak jelas dan membingungkan, Anda pasti akan menjadi "sasaran tembak" jika ada kesalahan yang terjadi. Daripada Anda stress di tempat kerja Anda, lebih baik mencoba untuk melamar ke tempat baru.
13. Gaji Kecil
Berhenti dari pekerjaan tidak akan membuat hidup Anda lebih baik, terutama jika masa kerja Anda belum begitu lama.
Perusahaan hanya akan membayar tinggi jika Anda memiliki pengalaman kerja yang lama dan bagus di perusahaan sebelumnya. Nilai "jual" Anda juga bisa turun, jika saat melamar pekerjaan posisi Anda sedang menganggur.
Solusi terbaik adalah dengan menegosiasikan kenaikan gaji Anda kepada perusahaan. Atau, berusahalah mencari pekerjaan baru yang lebih baik sebelum Anda mengundurkan diri.
14. Tidak Dihargai
Apakah perusahaan menyediakan promosi, kenaikan gaji, atau reward lainnya untuk karyawan berprestasi? Berhenti dari pekerjaan hanya karena perusahaan tidak memenuhi hal-hal di atas, sama sekali tidak akan memperbaiki kualitas hidup Anda.
Solusinya, mintalah apa yang Anda inginkan kepada atasan. Bos Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda merasa tidak dihargai.
15. Tidak Lagi Menikmati Pekerjaan
Apa sebenarnya yang membuat Anda tidak bisa lagi menikmati pekerjaan? Cari tahu dulu penyebabnya dan hal apa sebenarnya yang bisa membuat Anda bergairah dalam bekerja. Bisa saja, saat ini Anda sedang bosan saja.
Cobalah untuk belajar menyukai pekerjaan Anda sambil terus mencari alternatif sesuatu atau tempat kerja lain yang lebih menyenangkan. Atau, cari kegiatan di sela-sela pekerjaan yang bisa mengalihkan perhatian Anda dari kejenuhan.
16. Tidak Cocok Lagi dengan Lingkungan Perusahaan (Atasan, Rekan Kerja, dan Budaya) Sebelum memutuskan berhenti, cobalah membangun hubungan di luar pekerjaan dan lihat apakah cocok bagi Anda. Bersamaan dengan itu, usahakan untuk membuat perubahan di tempat Anda bekerja agar atmosfer atau kebijakannya "bergerak" sesuai dengan yang Anda inginkan.
17. Perbedaan Nilai Moral Jika atasan terlibat dalam perilaku yang tidak baik (tidak harus ilegal tetapi katakanlah tidak kompetitif atau kolaboratif), Anda harus memutuskan, apakah nilai itu sesuatu yang bertentangan dengan prinsip Anda.
18. Ketidakseimbangan Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan
Pertama-tama, bagaimana Anda mendefinisikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi? Apakah keduanya mampu berkesinambungan? Sederhananya, apakah di akhir pekan Anda mampu lepas dari email dan telepon yang berhubungan dengan pekerjaan?
Kedua, tentukan langkah ideal selanjutnya, baik secara profesional maupun pribadi? Ada banyak alasan mengapa Anda mungkin tidak puas dengan situasi saat ini. Sebelum berhenti, tanyakan pada diri, apakah alasan ketidakpuasan Anda akan benar-benar sembuh setelah keluar dari pekerjaan?
Alasan terbaik untuk berhenti dari pekerjaan Anda adalah untuk memperbaiki situasi kehidupan Anda, secara pribadi maupun profesional. Fokus pada bagaimana meningkatkan situasi keseluruhan, bukan pada "berhenti" atau "tidak berhenti".
Tampilkan postingan dengan label keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keuangan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 April 2014
Dua Minggu Pemberitahuan Sebelum Resign Bikin Transisi Nyaman
Resign alias keluar dari pekerjaan bisa dialami siapa saja. Tentu ada etikanya. Karyawan harus mengundur-kan diri dengan elegan.
YOU can employ men and hire handsto work for you, but you will have to win their hearts to have them work with you. Kutipan flUri William J.H Boetcker tersebut mengingatkan kita bahwa bukan hanya orang tersayang
yang harus di menangkan hatinya tapi juga tim kerja kantor.
Meski lumrah, resign sejatinya bukan pilihan pertama dan tidak disarankan. Jika masih banyak yang worth it untuk dipertahankan di perusahaan lama, karyawan tidak perlu mengundurkan diri, Tapi, ketika mentok dan harus keluar kerja, lakukanlah dengan cara yang elegan.
Career coach Jaleh Bisharat menjelaskan, keluar kerja tidak selalu mudah diwujudkan. "Meski sebenarnya membenci pekerjaan dan bos secara bersamaan serta kenyataannya Anda memang akan dipecat sekalipun, berhenti bekerja tetap harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan baik-baik paparnya.
Sebelum mewujudkan niat keluar kerja, karyawan harus mempelajari sesuatu yang membuat dirinya sampai pada titik ingin resign. Bos menyebalakan memang berpotensi bikin stress. Itu sama halnya ketika mendapat begitu banyak pekerjaan secara mendadak.
Tapi jangan terburu=buru mengetok palu sebelum hal yang di alami benar-benar parah. Jika memang sudah mentok, ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Pertama, menemui atasan langsung menyatakan maksud untuk resign pekerjaan dengan baik-baik. Buat surat resmi secara tertulis dengan bahasa yang enak dibaca.
Karyawan harus menunjukkan profesionalitas meski sedang mengajukan pengunduran diri.
Selanjutnya,pikirkan lingkungan dan teman-teman kantor. Jangan memutuskan tiba-tiba berhenti. Pasti banyak orang yang akan direpotkan jika ada salah seorang karyawan yang resign mendadak. Respek kolega sangat mungkin menurun drastis karena mendapat tambahan beban kerja.
"Setidaknya, utarakan maksud ingin berhenti bekerja dalam waktu dekat. Alasan yang tepat dan masuk akal akan membuat komunikasi dengan bos menjadi lebih mudah," tuturnya. "Alangkah lebih baik jika sudah mempersiapkan bahan pekerjaan yang akan diwariskan sebelum resign. Atau, mengajukan pegawai yang potensial untuk menjadi pengganti,"tegasnya.
Persiapan tersebut akan memberikan dampak transisi yang nyaman. Beragam friksi yang berpotensi menimbulkan konflik pun dapat tereduksi. Usahakan supervisor atau atasan langsung mengetahui persiapan itu.
Bila bos dan kolega-kolega lain berkenan, kita bisa meminta surat referensi dari mereka. Selain bersedia dikontak via e-mail dan telepon, minta mereka untuk memasukkan referensi di Linkedln. Itu memudahkan kita untuk mencari kerja di tempat lain.
Ketika mengutarakan keinginan untuk resign kepada bos, perjelas hak-hakyang didapatkan, Misalnya, gaji yang masih terutang, uang asuransi yang tidak digunakan, dan uang pensiun.
YOU can employ men and hire handsto work for you, but you will have to win their hearts to have them work with you. Kutipan flUri William J.H Boetcker tersebut mengingatkan kita bahwa bukan hanya orang tersayang
yang harus di menangkan hatinya tapi juga tim kerja kantor.
Meski lumrah, resign sejatinya bukan pilihan pertama dan tidak disarankan. Jika masih banyak yang worth it untuk dipertahankan di perusahaan lama, karyawan tidak perlu mengundurkan diri, Tapi, ketika mentok dan harus keluar kerja, lakukanlah dengan cara yang elegan.
Career coach Jaleh Bisharat menjelaskan, keluar kerja tidak selalu mudah diwujudkan. "Meski sebenarnya membenci pekerjaan dan bos secara bersamaan serta kenyataannya Anda memang akan dipecat sekalipun, berhenti bekerja tetap harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan baik-baik paparnya.
Sebelum mewujudkan niat keluar kerja, karyawan harus mempelajari sesuatu yang membuat dirinya sampai pada titik ingin resign. Bos menyebalakan memang berpotensi bikin stress. Itu sama halnya ketika mendapat begitu banyak pekerjaan secara mendadak.
Tapi jangan terburu=buru mengetok palu sebelum hal yang di alami benar-benar parah. Jika memang sudah mentok, ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Pertama, menemui atasan langsung menyatakan maksud untuk resign pekerjaan dengan baik-baik. Buat surat resmi secara tertulis dengan bahasa yang enak dibaca.
Karyawan harus menunjukkan profesionalitas meski sedang mengajukan pengunduran diri.
Selanjutnya,pikirkan lingkungan dan teman-teman kantor. Jangan memutuskan tiba-tiba berhenti. Pasti banyak orang yang akan direpotkan jika ada salah seorang karyawan yang resign mendadak. Respek kolega sangat mungkin menurun drastis karena mendapat tambahan beban kerja.
"Setidaknya, utarakan maksud ingin berhenti bekerja dalam waktu dekat. Alasan yang tepat dan masuk akal akan membuat komunikasi dengan bos menjadi lebih mudah," tuturnya. "Alangkah lebih baik jika sudah mempersiapkan bahan pekerjaan yang akan diwariskan sebelum resign. Atau, mengajukan pegawai yang potensial untuk menjadi pengganti,"tegasnya.
Persiapan tersebut akan memberikan dampak transisi yang nyaman. Beragam friksi yang berpotensi menimbulkan konflik pun dapat tereduksi. Usahakan supervisor atau atasan langsung mengetahui persiapan itu.
Bila bos dan kolega-kolega lain berkenan, kita bisa meminta surat referensi dari mereka. Selain bersedia dikontak via e-mail dan telepon, minta mereka untuk memasukkan referensi di Linkedln. Itu memudahkan kita untuk mencari kerja di tempat lain.
Ketika mengutarakan keinginan untuk resign kepada bos, perjelas hak-hakyang didapatkan, Misalnya, gaji yang masih terutang, uang asuransi yang tidak digunakan, dan uang pensiun.
Sabtu, 10 Agustus 2013
Merencanakan Keuangan untuk Perubahan Karier
Ketika hendak memutuskan untuk mencoba sebuah tantangan baru yang telah lama kita dambakan: membuka butik, menjadi konsultan spa, mengejar gelar master di bidangmarketing communication, lagi-lagi keraguan menghadang, “Siapkah saya?”
Setiap perubahan membutuhkan “harga” tersendiri. Salah satu yang paling menakutkan adalah masalah keuangan. Karenanya, sebelum memutuskan untuk banting stir dari pegawai kantoran menjadi wirausaha, menurut financologist Alviko Ibnugroho, Anda perlu merencanakan finansial yang matang. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
Apakah ada kenaikan penghasilan dengan Anda membuka usaha?
Karena kenaikan penghasilan biasanya diikuti oleh kenaikan harga-harga kebutuhan lain yang berdampak pada makin besarnya pengeluaran walaupun kebutuhan kita tetap.
Apakah ada penghasilan tambahan di luar usaha tersebut?
Penghasilan yang dimaksud adalah hasil investasi yang telah ditanamkan beberapa tahun sebelumnya. Pendapatan tambahan ini sangat membantu kestabilan keuangan kita.
Bagaimana kondisi perekonomian negara kita?
Untuk itu, Anda harus aktif mengikuti perkembangan ekonomi makro dari berbagai media. Poin terpenting dalam hal ini adalah bagaimana tingkat investasi kita bisa selalu di atas rata-rata tingkat inflasi yang ada.
Apakah antisipasi risiko bila terjadi kegagalan investasi atau usaha?
Antisipasi ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan diversifikasi investasi yang tersedia di pasar keuangan. Untuk itu Anda perlu memilih jenis investasi yang memiliki prospek cerah di tahun tersebut.
Bagaimana mengantisipasi risiko tak terduga?
Risiko tak terduga bisa berupa risiko sesaat (misalnya sakit atau kehilangan penghasilan) maupun risiko jangka panjang (misalnya cacat tetap atau kematian). Semua ini hanya bisa diantisipasi dengan melakukan manajemen risiko melalui persiapan dana darurat dan asuransi.
Hal-hal lain yang perlu perhatian khusus untuk dipertimbangkan adalah:
1. Tentukan jenis usaha Anda dan kalkulasikan semua biaya untuk memulainya. Perhitungkan biaya pendirian usaha, mulai dari pembuatan akta, sewa kantor, biaya renovasi, dan lain-lain.
2. Identifikasi permasalahan keuangan yang muncul, termasuk biaya pendidikan anak, pajak, penyakit parah, dan lainnya, yang dapat menjadi masalah di masa yang akan datang.
3. Tentukan asumsi yang dipakai dalam merencanakan keuangan, seperti tingkat inflasi rata-rata, bunga dan hasil investasi yang diinginkan secara rata-rata, atau risiko yang dapat Anda tanggung.
4. Pertimbangkan kebutuhan keuangan khusus, seperti perencanaan masa pensiun. Lakukan analisis keuangan yang dibutuhkan di masa depan sesuai dengan kebutuhan tersebut yang meliputi:
-Berapa biaya akan kebutuhan tersebut saat ini?
-Berapa proyeksinya di masa yang akan datang?
-Kapan biaya tersebut dibutuhkan?
-Sudah tersediakah dana tersebut sekarang?
-Apabila belum, berapa besar cicilan investasi yang harus dimulai sekarang?
5. Siapkan dana kebutuhan hidup setahun. Jika Anda ingin alih profesi, mulailah untuk mengatur alur kas keuangan Anda minimal setahun ke depan (termasuk cicilan rumah, mobil, belanja bulanan, dll). Kalau sebelumnya Anda dan suami bekerja, asumsikan jika Anda bisa hidup dari satu penghasilan dan pangkas pengeluaran yang tak perlu
untuk tabungan.
6. Benahi utang Anda. Usahakan segera melunasi utang-utang Anda di bank agar dapat memperoleh kredibilitas jika Anda mengajukan pinjaman usaha ke bank.
7. Pertahankan pekerjaan Anda. Sebelum Anda yakin mampu menghidupi kebutuhan keluarga dari pekerjaan baru Anda, jangan dulu berhenti dari pekerjaan lama Anda. Lakukan dulu sebagai usaha sampingan, sampai Anda mendapat penghasilan tetap dan lebih baik.
8. Buatlah rencana cadangan. Sebelum terjun menjalankan rencana A, pastikan Anda memiliki rencana B sebagai cadangan. Kesuksesan Anda di bidang pekerjaan yang baru sangat tergantung pada kondisi ekonomi dan 'kesehatan' industri yang Anda pilih. Bersiaplah bahwa tidak selamanya kenyataan yang ada sesuai dengan harapan Anda.
Intinya, keputusan untuk memulai karier kedua merupakan langkah tepat yang dapat mengantarkan hidup Anda lebih baik dan berharga. Karena itu mulailah melakukan perencanaan dari sekarang. Kata orang bijak : Planning or nothing.
Setiap perubahan membutuhkan “harga” tersendiri. Salah satu yang paling menakutkan adalah masalah keuangan. Karenanya, sebelum memutuskan untuk banting stir dari pegawai kantoran menjadi wirausaha, menurut financologist Alviko Ibnugroho, Anda perlu merencanakan finansial yang matang. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
Apakah ada kenaikan penghasilan dengan Anda membuka usaha?
Karena kenaikan penghasilan biasanya diikuti oleh kenaikan harga-harga kebutuhan lain yang berdampak pada makin besarnya pengeluaran walaupun kebutuhan kita tetap.
Apakah ada penghasilan tambahan di luar usaha tersebut?
Penghasilan yang dimaksud adalah hasil investasi yang telah ditanamkan beberapa tahun sebelumnya. Pendapatan tambahan ini sangat membantu kestabilan keuangan kita.
Bagaimana kondisi perekonomian negara kita?
Untuk itu, Anda harus aktif mengikuti perkembangan ekonomi makro dari berbagai media. Poin terpenting dalam hal ini adalah bagaimana tingkat investasi kita bisa selalu di atas rata-rata tingkat inflasi yang ada.
Apakah antisipasi risiko bila terjadi kegagalan investasi atau usaha?
Antisipasi ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan diversifikasi investasi yang tersedia di pasar keuangan. Untuk itu Anda perlu memilih jenis investasi yang memiliki prospek cerah di tahun tersebut.
Bagaimana mengantisipasi risiko tak terduga?
Risiko tak terduga bisa berupa risiko sesaat (misalnya sakit atau kehilangan penghasilan) maupun risiko jangka panjang (misalnya cacat tetap atau kematian). Semua ini hanya bisa diantisipasi dengan melakukan manajemen risiko melalui persiapan dana darurat dan asuransi.
Hal-hal lain yang perlu perhatian khusus untuk dipertimbangkan adalah:
1. Tentukan jenis usaha Anda dan kalkulasikan semua biaya untuk memulainya. Perhitungkan biaya pendirian usaha, mulai dari pembuatan akta, sewa kantor, biaya renovasi, dan lain-lain.
2. Identifikasi permasalahan keuangan yang muncul, termasuk biaya pendidikan anak, pajak, penyakit parah, dan lainnya, yang dapat menjadi masalah di masa yang akan datang.
3. Tentukan asumsi yang dipakai dalam merencanakan keuangan, seperti tingkat inflasi rata-rata, bunga dan hasil investasi yang diinginkan secara rata-rata, atau risiko yang dapat Anda tanggung.
4. Pertimbangkan kebutuhan keuangan khusus, seperti perencanaan masa pensiun. Lakukan analisis keuangan yang dibutuhkan di masa depan sesuai dengan kebutuhan tersebut yang meliputi:
-Berapa biaya akan kebutuhan tersebut saat ini?
-Berapa proyeksinya di masa yang akan datang?
-Kapan biaya tersebut dibutuhkan?
-Sudah tersediakah dana tersebut sekarang?
-Apabila belum, berapa besar cicilan investasi yang harus dimulai sekarang?
5. Siapkan dana kebutuhan hidup setahun. Jika Anda ingin alih profesi, mulailah untuk mengatur alur kas keuangan Anda minimal setahun ke depan (termasuk cicilan rumah, mobil, belanja bulanan, dll). Kalau sebelumnya Anda dan suami bekerja, asumsikan jika Anda bisa hidup dari satu penghasilan dan pangkas pengeluaran yang tak perlu
untuk tabungan.
6. Benahi utang Anda. Usahakan segera melunasi utang-utang Anda di bank agar dapat memperoleh kredibilitas jika Anda mengajukan pinjaman usaha ke bank.
7. Pertahankan pekerjaan Anda. Sebelum Anda yakin mampu menghidupi kebutuhan keluarga dari pekerjaan baru Anda, jangan dulu berhenti dari pekerjaan lama Anda. Lakukan dulu sebagai usaha sampingan, sampai Anda mendapat penghasilan tetap dan lebih baik.
8. Buatlah rencana cadangan. Sebelum terjun menjalankan rencana A, pastikan Anda memiliki rencana B sebagai cadangan. Kesuksesan Anda di bidang pekerjaan yang baru sangat tergantung pada kondisi ekonomi dan 'kesehatan' industri yang Anda pilih. Bersiaplah bahwa tidak selamanya kenyataan yang ada sesuai dengan harapan Anda.
Intinya, keputusan untuk memulai karier kedua merupakan langkah tepat yang dapat mengantarkan hidup Anda lebih baik dan berharga. Karena itu mulailah melakukan perencanaan dari sekarang. Kata orang bijak : Planning or nothing.
Yakinkah Untuk Resign?
Perhatikan hal-hal berikut sebagai pertimbangan sebelum memutuskan untuk keluar dari tempat kerja Anda. Siapa tahu setelah membaca artikel ini, Anda akan mempertimbangkannya kembali.
Sesuaikah dengan Prioritas?
Yang dimaksud di sini adalah maksud dan tujuan Anda memilih sebuah tempat sebagai tempat bekerja. Mungkin saja tujuan Anda terkesan janggal, seperti semata mencari teman baru atau karena bosnya baik hati. Ya, memang terkadang sebuah tempat kerja akan menawarkan keistimewaan tersendiri yang tidak ditawarkan di tempat lain. Jika prioritas tersebut sudah terpenuhi, hal-hal lainnya—seperti manajemen kantor yang buruk atau kolega yang menyebalkan—tidak menjadi terlalu signifikan. Ingatlah, seberapapun anehnya prioritas Anda, it’s never wrong. Hal itu justru sangat penting untuk membuat Anda bertahan pada suatu posisi.
Berpikir dengan Logis
Kebanyakan wanita ingin resign dari pekerjaannya bukan karena hal-hal krusial, seperti tidak bisa menangani tugas yang diberikan, namun karena hal-hal lain seperti perselisihan dengan kolega atau bos yang… intimidating. Andaikan seperti itu keadaannya, cobalah mencari jalan keluar terlebih dahulu, atau seburuk-buruknya…BERTAHANLAH jika memang kantor tersebut menawarkan kelebihan lainnya. Semua ketidaknyamanan tersebut sebenarnya baik untuk mengasah karakter Anda. Toh, dunia kerja bukan untuk si manja, kan?
Apakah Anda tidak senang dengan pekerjaan Anda saat ini?
Beberapa orang berpikir mereka ingin menjadi pengusaha hanya karena tidak senang dengan peran mereka saat ini, ungkap Pamela Slim, Mesa, Arizona penulis Escape dari Cubicle Nation (Penguin, 2010). Mengembangkan rencana bisnis menyeluruh dapat membantu Anda menghindari keputusan influsif. “Selain ingin berhenti, Anda harus memiliki ide bisnis yang layak dan rencana pemasaran dan operasi yang efektif.”
Apa yang Anda suka lakukan di hari-hari rutin?
Kebebasan instan bisa berbahaya. Ogle merekomendasikan untuk mengembangkan jadwal harian untuk diikuti. “Ketika saat ini Anda memiliki semua waktu luang Anda, ini benar-benar mudah untuk berkata, ‘oh, saya akan melakukannya nanti’,” ungkapnya. Seminggu setelah berhenti kerja, Ogle mulai pergi ke gym pada saat yang sama ketika ia tiba di kantornya yang lama setiap pagi. Dan setelah dari gym, ia bekerja di jam yang sama dengan yang ia lakukan ketika di kantornya yang lama.
Bagaimana Anda akan mengumpulkan uang untuk menjaga bisnis tetap berjalan?
Kurang modal merupakan salah satu rintangan untuk berwirausaha. Daripada menghitung arus kas Anda terus-menerus, yang terbaik adalah mendatangkan proyeksi yang realitas sebagai bagian dari rencana bisnis Anda sebelum memutuskan apakah Anda dapat mampu meninggalkan pekerjaan Anda. Bisnis Anda mungkin tidak menguntungkan selama tiga sampai lima tahun, oleh karena itu penting untuk bersikap realistis tentang bagaimana Anda akan mendukung diri sendiri secara finansial, ungkap Sharon Lechter, penulis Three Feet From Gold : Turn Your Obstacles Into Opportunities (Sterling Publishing, 2009) dan seorang ahli keuangan di Phoenix.
Bertambahnya Keterampilan
Sudah bekerja lebih dari satu tahun, apa yang Anda dapatkan? Keterampilan di bidang tertentu, atau percaya diri yang bertambah? Ini harus Anda pertimbangkan. Jika ini salah satu indikatornya, mungkin hal-hal lain yang mengganggu –yang membuat Anda ingin meninggalkan pekerjaan itu– tidak perlu dihiraukan lagi.
Materi yang Didapat
Loyalitas pada suatu perusahaan biasanya dihargai dengan tunjangan, insentif, atau bonus. Jika Anda berpindah ke perusahaan lain, mungkinkah perusahaan yang baru menawarkan semua itu? Coba cek terlebih dahulu. Jangan sampai pandangan Anda yang semula menganggap “rumput tetangga lebih hijau,” ternyata tak terbukti.
Apakah Anda memperhitungkan kemungkinan adanya biaya tak terduga?
Ketika Jody Dyer meluncurkan Tees Blackbird, sebuah perusahaan pakaian di Richmond, Va, ia terkejut dengan banyaknya biaya rencana bisnisnya yang tidak terduga. Kami menghabiskan “ribuan dolar untuk eksperimen dengan gaya kain yang berbeda, mengotori kain, merusak kemeja, membuat pilihan warna yang salah,” ungkap Dyer, yang menjual produk-produknya di Esty. “Pada saat itu, kesalahan-kesalahan yang melemahkan finansial.” Daripada keluar dari bisnis, Dyer kembali lagi menjadi freelance copywriting. “Melengkapi penghasilan Anda melalui freelance atau kerja paruh waktu dapat mengurangi beberapa ketegangan itu,” ungkapnya.
Apakah Anda bersedia untuk mengambil peran ganda?
Memulai bisnis berarti Anda akan mengenakan banyak topi. “Suatu hari Anda adalah seorang teknik, suatu hari Anda adalah seorang penjual, suatu hari Anda adalah seorang tukang kebersihan,” ungkap Shobha Tummala, pendiri salon kecantikan di New York City. “Anda tidak dapat memiliki ego.” Jadi sebelum Anda meninggalkan pekerjaan Anda,Anda perlu memutuskan apakah Anda akan senang melakukan berbagai tugas, dari pemasaran hingga pemeliharaan.
Apakah kekuatan dan kelemahan Anda?
Ketika Anda mempertimbangkan peran ganda, jujurlah terhadap diri sendiri tentang apa yang terbaik bagi Anda dan dimana Anda perlu memperbaiki, Tummala menyarankan. Mungkin Anda perlu untuk meningkatkan keahlian memprogram Anda atau mengerti keuangan atau menemukan mitra dengan keahlian yang saling melengkapi. Jika Anda tidak memiliki cara untuk mengatasi kelemahan Anda, mungkin lebih baik untuk tetap berada dalam peran Anda saat ini.
Siapa pelanggan masa depan Anda?
Meskipun Anda mungkin tidak dapat benar-benar menguji potensi pasar untuk konsep bisnis Anda, Anda setidaknya harus memahami siapa kemungkinan pelanggan Anda dan jenis kompetisi apa yang akan Anda hadapi.
Apakah jaringan pendukung ada di ‘papan’?
Untuk membantu memudahkan peralihan, Anda harus berbagi rencana kewirausahaan Anda dengan anggota keluarga dan melihat apakah mereka mendukung dan terlibat dalam memulai bisnis. Slim mengatakan, “Ketika seseorang masuk ke dalam dunia bisnis, setiap orang dalam keluarga akan memberi pengaruh.” Jika pasangan Anda dan anggota keluarga Anda enggan memberikan dukungan ide, Anda mungkin bisa memikirkan kembali untuk berhenti dari pekerjaan Anda saat ini.
Apakah Anda memiliki pilihan cadangan?
Mengembangkan rencana B sebelum Anda memulai akan membantu Anda menghindari hal-hal yang mengejutkan.
Bagaimana Anda menghindari ‘pembakaran jembatan’?
Jika Anda memutuskan untuk berhenti, ingatlah bahwa atasan Anda bisa membantu Anda saat Anda memulai usaha baru Anda. Daripada mengundurkan diri tiba-tiba, mancari cara untuk meninggalkan pekerjaan dengan memberikan kesan yang baik. Berikan banyak pemberitahuan untuk membantu atasan Anda dalam menangani pengalihan Anda dan terbukalah mengenai rencana masa depan kewirausahaan Anda, ungkap Ogle. “Biasanya perusahaan akan memahaminya dan bahkan menawarkan untuk membantu sebisa mereka.”
Sesuaikah dengan Prioritas?
Yang dimaksud di sini adalah maksud dan tujuan Anda memilih sebuah tempat sebagai tempat bekerja. Mungkin saja tujuan Anda terkesan janggal, seperti semata mencari teman baru atau karena bosnya baik hati. Ya, memang terkadang sebuah tempat kerja akan menawarkan keistimewaan tersendiri yang tidak ditawarkan di tempat lain. Jika prioritas tersebut sudah terpenuhi, hal-hal lainnya—seperti manajemen kantor yang buruk atau kolega yang menyebalkan—tidak menjadi terlalu signifikan. Ingatlah, seberapapun anehnya prioritas Anda, it’s never wrong. Hal itu justru sangat penting untuk membuat Anda bertahan pada suatu posisi.
Berpikir dengan Logis
Kebanyakan wanita ingin resign dari pekerjaannya bukan karena hal-hal krusial, seperti tidak bisa menangani tugas yang diberikan, namun karena hal-hal lain seperti perselisihan dengan kolega atau bos yang… intimidating. Andaikan seperti itu keadaannya, cobalah mencari jalan keluar terlebih dahulu, atau seburuk-buruknya…BERTAHANLAH jika memang kantor tersebut menawarkan kelebihan lainnya. Semua ketidaknyamanan tersebut sebenarnya baik untuk mengasah karakter Anda. Toh, dunia kerja bukan untuk si manja, kan?
Apakah Anda tidak senang dengan pekerjaan Anda saat ini?
Beberapa orang berpikir mereka ingin menjadi pengusaha hanya karena tidak senang dengan peran mereka saat ini, ungkap Pamela Slim, Mesa, Arizona penulis Escape dari Cubicle Nation (Penguin, 2010). Mengembangkan rencana bisnis menyeluruh dapat membantu Anda menghindari keputusan influsif. “Selain ingin berhenti, Anda harus memiliki ide bisnis yang layak dan rencana pemasaran dan operasi yang efektif.”
Apa yang Anda suka lakukan di hari-hari rutin?
Kebebasan instan bisa berbahaya. Ogle merekomendasikan untuk mengembangkan jadwal harian untuk diikuti. “Ketika saat ini Anda memiliki semua waktu luang Anda, ini benar-benar mudah untuk berkata, ‘oh, saya akan melakukannya nanti’,” ungkapnya. Seminggu setelah berhenti kerja, Ogle mulai pergi ke gym pada saat yang sama ketika ia tiba di kantornya yang lama setiap pagi. Dan setelah dari gym, ia bekerja di jam yang sama dengan yang ia lakukan ketika di kantornya yang lama.
Bagaimana Anda akan mengumpulkan uang untuk menjaga bisnis tetap berjalan?
Kurang modal merupakan salah satu rintangan untuk berwirausaha. Daripada menghitung arus kas Anda terus-menerus, yang terbaik adalah mendatangkan proyeksi yang realitas sebagai bagian dari rencana bisnis Anda sebelum memutuskan apakah Anda dapat mampu meninggalkan pekerjaan Anda. Bisnis Anda mungkin tidak menguntungkan selama tiga sampai lima tahun, oleh karena itu penting untuk bersikap realistis tentang bagaimana Anda akan mendukung diri sendiri secara finansial, ungkap Sharon Lechter, penulis Three Feet From Gold : Turn Your Obstacles Into Opportunities (Sterling Publishing, 2009) dan seorang ahli keuangan di Phoenix.
Bertambahnya Keterampilan
Sudah bekerja lebih dari satu tahun, apa yang Anda dapatkan? Keterampilan di bidang tertentu, atau percaya diri yang bertambah? Ini harus Anda pertimbangkan. Jika ini salah satu indikatornya, mungkin hal-hal lain yang mengganggu –yang membuat Anda ingin meninggalkan pekerjaan itu– tidak perlu dihiraukan lagi.
Materi yang Didapat
Loyalitas pada suatu perusahaan biasanya dihargai dengan tunjangan, insentif, atau bonus. Jika Anda berpindah ke perusahaan lain, mungkinkah perusahaan yang baru menawarkan semua itu? Coba cek terlebih dahulu. Jangan sampai pandangan Anda yang semula menganggap “rumput tetangga lebih hijau,” ternyata tak terbukti.
Apakah Anda memperhitungkan kemungkinan adanya biaya tak terduga?
Ketika Jody Dyer meluncurkan Tees Blackbird, sebuah perusahaan pakaian di Richmond, Va, ia terkejut dengan banyaknya biaya rencana bisnisnya yang tidak terduga. Kami menghabiskan “ribuan dolar untuk eksperimen dengan gaya kain yang berbeda, mengotori kain, merusak kemeja, membuat pilihan warna yang salah,” ungkap Dyer, yang menjual produk-produknya di Esty. “Pada saat itu, kesalahan-kesalahan yang melemahkan finansial.” Daripada keluar dari bisnis, Dyer kembali lagi menjadi freelance copywriting. “Melengkapi penghasilan Anda melalui freelance atau kerja paruh waktu dapat mengurangi beberapa ketegangan itu,” ungkapnya.
Apakah Anda bersedia untuk mengambil peran ganda?
Memulai bisnis berarti Anda akan mengenakan banyak topi. “Suatu hari Anda adalah seorang teknik, suatu hari Anda adalah seorang penjual, suatu hari Anda adalah seorang tukang kebersihan,” ungkap Shobha Tummala, pendiri salon kecantikan di New York City. “Anda tidak dapat memiliki ego.” Jadi sebelum Anda meninggalkan pekerjaan Anda,Anda perlu memutuskan apakah Anda akan senang melakukan berbagai tugas, dari pemasaran hingga pemeliharaan.
Apakah kekuatan dan kelemahan Anda?
Ketika Anda mempertimbangkan peran ganda, jujurlah terhadap diri sendiri tentang apa yang terbaik bagi Anda dan dimana Anda perlu memperbaiki, Tummala menyarankan. Mungkin Anda perlu untuk meningkatkan keahlian memprogram Anda atau mengerti keuangan atau menemukan mitra dengan keahlian yang saling melengkapi. Jika Anda tidak memiliki cara untuk mengatasi kelemahan Anda, mungkin lebih baik untuk tetap berada dalam peran Anda saat ini.
Siapa pelanggan masa depan Anda?
Meskipun Anda mungkin tidak dapat benar-benar menguji potensi pasar untuk konsep bisnis Anda, Anda setidaknya harus memahami siapa kemungkinan pelanggan Anda dan jenis kompetisi apa yang akan Anda hadapi.
Apakah jaringan pendukung ada di ‘papan’?
Untuk membantu memudahkan peralihan, Anda harus berbagi rencana kewirausahaan Anda dengan anggota keluarga dan melihat apakah mereka mendukung dan terlibat dalam memulai bisnis. Slim mengatakan, “Ketika seseorang masuk ke dalam dunia bisnis, setiap orang dalam keluarga akan memberi pengaruh.” Jika pasangan Anda dan anggota keluarga Anda enggan memberikan dukungan ide, Anda mungkin bisa memikirkan kembali untuk berhenti dari pekerjaan Anda saat ini.
Apakah Anda memiliki pilihan cadangan?
Mengembangkan rencana B sebelum Anda memulai akan membantu Anda menghindari hal-hal yang mengejutkan.
Bagaimana Anda menghindari ‘pembakaran jembatan’?
Jika Anda memutuskan untuk berhenti, ingatlah bahwa atasan Anda bisa membantu Anda saat Anda memulai usaha baru Anda. Daripada mengundurkan diri tiba-tiba, mancari cara untuk meninggalkan pekerjaan dengan memberikan kesan yang baik. Berikan banyak pemberitahuan untuk membantu atasan Anda dalam menangani pengalihan Anda dan terbukalah mengenai rencana masa depan kewirausahaan Anda, ungkap Ogle. “Biasanya perusahaan akan memahaminya dan bahkan menawarkan untuk membantu sebisa mereka.”
Sabtu, 15 Juni 2013
10 Tips Manajemen Waktu yang Baik
Anda mungkin telah pernah mengikuti seminar mengenai manajemen waktu, dan mungkin anda sudah sering membaca buku untuk mempelajari bagaimana cara mengatur waktu dengan baik. Anda mungkin juga telah membuat serangkaian perencanaan di buku atau bahkan gadget yang khusus untuk mengatur jadwal anda. Tapi apakah Anda benar-benar membutuhkan semua gadget dan buku itu? Apakah Anda tidak bisa mengatur pekerjaan Anda tanpa alat-alat itu?
Jawabannya sangat sederhana. Semua hal peralatan dan gadget yang Anda pakai untuk mengorganisir waktu Anda tidak akan berguna. Sebelum Anda bisa mengatur waktu Anda, Anda sendiri harus memahami arti dari waktu. Dalam kamus waktu dijelaskan sebagai sebuah periode atau titik dimana suatu hal terjadi.
Ada dua jenis waktu, waktu pada jam dan waktu sebenarnya (waktu nyata). Dalam waktu pada jam, ada 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, dua puluh empat jam dalam sehari dan 365 hari dalam setahun. Waktu ini berlalu sama cepatnya. Saat seseorang berusia 50, mereka benar-benar berusia 50. Tidak ada yang kurang ataupun lebih.
Dalam waktu sebenarnya atau waktu nyata, semua waktu itu relatif. Waktu bisa berlalu tergantung dengan apa yang Anda lakukan. Dua jam dalam sebuah pabrik motor bisa terasa seperti dua belas tahun. Dan dua belas tahun masa kanak-kanak anda bisa terasa seperti dua jam saja.
Jenis waktu yang mana yang mewakili Anda di kehidupan Anda?
Alasan mengapa semua gadget, peralatan dan sistem pengaturan waktu yang Anda gunakan tidak akan berhasil adalah karena semua sistem dan gadget yang Anda miliki itu hanya mengatur waktu pada jam. Waktu pada jam tidak relevan. Anda tidak tidak memiliki akses pada waktu tersebut. Anda hidup di waktu yang nyata, sebuah dunia dimana waktu berjalan begitu cepat saat Anda bahagia, dan terasa begitu lambat saat Anda melakukan hal yang tidak Anda suka.
Berita baiknya adalah bahwa waktu nyata itu terkait dengan mental dan pola pikir. Anda dapat menciptakannya. Apapun yang dapat Anda ciptakan, pasti dapat anda atur. Ini saatnya untuk membuang segala jenis sabotase diri, dan pembatasan diri. Tidak ada lagi alasan “tidak memiliki waktu yang cukup” atau “hari ini bukanlah waktu yang tepat” untuk memulai suatu hal.
Hanya ada tiga cara untuk menghabiskan waktu: berpikir, bercakap-cakap, melakukan sesuatu. Terlepas dari tipe bisnis yang Anda jalani saat ini, bisnis Anda tidak akan terlepas dari ketiga hal ini.
Sebagai seorang pengusaha, waktu yang Anda miliki pasti akan sering terbagi. Saat Anda tidak bisa menghilangkan interupsi-interupsi itu, Anda harus mempertimbangkan berapa banyak waktu yang harus Anda luangkan untuk interupsi tersebut, dan berapa banyak waktu yang harus anda luangkan untuk berpikir, berinteraksi dengan orang lain, dan mengambil tindakan untuk kesuksesan bisnis Anda.
Praktekan ke-sepuluh teknik di bawah ini untuk menguasai pengaturan waktu Anda!
Jawabannya sangat sederhana. Semua hal peralatan dan gadget yang Anda pakai untuk mengorganisir waktu Anda tidak akan berguna. Sebelum Anda bisa mengatur waktu Anda, Anda sendiri harus memahami arti dari waktu. Dalam kamus waktu dijelaskan sebagai sebuah periode atau titik dimana suatu hal terjadi.
Ada dua jenis waktu, waktu pada jam dan waktu sebenarnya (waktu nyata). Dalam waktu pada jam, ada 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, dua puluh empat jam dalam sehari dan 365 hari dalam setahun. Waktu ini berlalu sama cepatnya. Saat seseorang berusia 50, mereka benar-benar berusia 50. Tidak ada yang kurang ataupun lebih.
Dalam waktu sebenarnya atau waktu nyata, semua waktu itu relatif. Waktu bisa berlalu tergantung dengan apa yang Anda lakukan. Dua jam dalam sebuah pabrik motor bisa terasa seperti dua belas tahun. Dan dua belas tahun masa kanak-kanak anda bisa terasa seperti dua jam saja.
Jenis waktu yang mana yang mewakili Anda di kehidupan Anda?
Alasan mengapa semua gadget, peralatan dan sistem pengaturan waktu yang Anda gunakan tidak akan berhasil adalah karena semua sistem dan gadget yang Anda miliki itu hanya mengatur waktu pada jam. Waktu pada jam tidak relevan. Anda tidak tidak memiliki akses pada waktu tersebut. Anda hidup di waktu yang nyata, sebuah dunia dimana waktu berjalan begitu cepat saat Anda bahagia, dan terasa begitu lambat saat Anda melakukan hal yang tidak Anda suka.
Berita baiknya adalah bahwa waktu nyata itu terkait dengan mental dan pola pikir. Anda dapat menciptakannya. Apapun yang dapat Anda ciptakan, pasti dapat anda atur. Ini saatnya untuk membuang segala jenis sabotase diri, dan pembatasan diri. Tidak ada lagi alasan “tidak memiliki waktu yang cukup” atau “hari ini bukanlah waktu yang tepat” untuk memulai suatu hal.
Hanya ada tiga cara untuk menghabiskan waktu: berpikir, bercakap-cakap, melakukan sesuatu. Terlepas dari tipe bisnis yang Anda jalani saat ini, bisnis Anda tidak akan terlepas dari ketiga hal ini.
Sebagai seorang pengusaha, waktu yang Anda miliki pasti akan sering terbagi. Saat Anda tidak bisa menghilangkan interupsi-interupsi itu, Anda harus mempertimbangkan berapa banyak waktu yang harus Anda luangkan untuk interupsi tersebut, dan berapa banyak waktu yang harus anda luangkan untuk berpikir, berinteraksi dengan orang lain, dan mengambil tindakan untuk kesuksesan bisnis Anda.
Praktekan ke-sepuluh teknik di bawah ini untuk menguasai pengaturan waktu Anda!
- Bawalah jadwal, dan ingatlah seluruh isi pemikiran Anda, percakapan, dan kegiatan yang harus Anda lakukan selama seminggu. Ini akan membantu Anda untuk memahami berapa banyak hal yang dapat Anda selesaikan dalam satu hari, dan kapan waktu-waktu berharga Anda akan berlalu. Anda akan dapat melihat berapa banyak waktu yang Anda luangkan untuk mencapai hasil, dan berapa banyak waktu yang telah Anda buang untuk kegiatan-kegiatan yang tidak produktif.
- Segala kegiatan dan percakapan yang penting untuk kesuksesan Anda harus ada jangka waktunya. List pekerjaan Anda akan bertambah sangat banyak jika Anda mengisinya dengan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan. Buatlah jadwal untuk diri Anda sendiri dimana Anda bisa meluangkan waktu untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang produktif bagi diri Anda. Lakukanlah hal ini secara disiplin.
- Rencanakanlah setidaknya 50% dari waktu yang Anda miliki untuk menghasilkan hal yang produktif.
- Rencanakanlah waktu untuk beristirahat, menarik diri dari semua kesibukan yang Anda miliki.
- Luangkan 30 menit pertama setiap harinya untuk merencanakan hari Anda. Jangan memulai aktivitas Anda sebelum Anda selesai merencanakannya. Saat yang paling penting dalam hari Anda adalah saat dimana Anda merencanakannya.
- Luangkan waktu selama 5 menit untuk setiap undangan dan keputusan yang harus Anda datangi dan Anda ambil. Ini akan membantu Anda memperlihatkan prioritas yang harus diutamakan, dan membuat Anda merasa bahwa waktu tidak berlalu begitu cepat. Luangkan pula 5 menit setelah aktivitas atau keputusan yang Anda ambil untuk menentukan apakah target yang Anda tentukan hari ini tercapai atau tidak. Apakah ada yang terlewat, atau tidak.
- Jangan ragu-ragu untuk menolak interupsi dari siapapun juga saat Anda benar-benar harus mengerjakan sesuatu sampai selesai.
- Berlatihlah untuk tidak mengangkat semua telepon yang masuk, atau mengecek e-mail yang masuk hanya karena handphone Anda berdering. Matikanlah koneksi telepon Anda. Jangan berikan perhatian Anda secara mudah kepada orang lain kecuali hal itu benar-benar krusial dalam bisnis Anda. Jika hal itu benar-benar menentukan bisnis Anda kedepannya, Anda malah harus menyediakan jadwal khusus untuk meladeninya.
- Blokirlah semua hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan seperti Facebook dan sosial media yang lain, kecuali Anda menggunakan hal itu untuk membantu bisnis Anda.
- Ingatlah bahwa mustahil untuk menyelesaikan semuanya. Dan ingatlah bahwa hal yang baik adalah membuat dua puluh persen kegiatan Anda menghasilkan delapan puluh persen dari hasil anda.
Selasa, 11 Juni 2013
Jangan Hidup Dengan Mimpi "Pinjaman"
Beberapa hotel di Indonesia masih tidak dilengkapi sensor otomatis yang langsung mematikan aliran listrik ketika si pengguna hotel meninggalkan ruangan. Akibatnya, pihak hotel hanya pasrah mengharapkan agar pengguna hotel secara sadar mematikan pendingin ruangan atau televisi di dalam ruangan sebelum meninggalkannya. Saya yakin banyak pengguna hotel secara sadar malah tidak mematikan pendingin ruangan di kamarnya dengan harapan kamar tetap dingin ketika ia kembali ke kamar hotel, lagi pula mereka berprinsip 'Loh sudah bayar'.
Demikian juga ketika menggunakan shower di hotel, mungkin sambil bersabun, si pengguna juga tidak mematikan aliran air karena ia berpikir toh sudah termasuk dalam biaya hotel. Bahkan, ketika pihak hotel mengimbau agar menggunakan handuk secukupnya dengan alasan penyelamatan lingkungan, banyak pengguna jasa yang tidak begitu rnenghiraukan seruan itu. Mengapa? Karena hal itu berlangsung di hotel, bukan di rumah mereka; tidak ada konsekuensi biaya tambahan bagi mereka sehingga banyak yang mengabaikannya.
Pada zaman dahulu kala, di pegunungan Andes, Amerika Selatan, hidup dua suku yang saling bermusuhan. Suku Atas tinggal di atas gunung yang curam dan terjal dan Suku Bawah tinggal di bawah kaki gunung. Pada suatu hari, Suku Atas menyerang perkampungan Suku Bawah, dan menculik seorang bayi perempuan. Setelah penyerangan selesai, Kepala Suku Bawah memerintahkan 20 orang anak muda yang gagah berani untuk berupaya mengembalikan bayi perempuan itu.
Pada zaman dahulu kala, di pegunungan Andes, Amerika Selatan, hidup dua suku yang saling bermusuhan. Suku Atas tinggal di atas gunung yang curam dan terjal dan Suku Bawah tinggal di bawah kaki gunung. Pada suatu hari, Suku Atas menyerang perkampungan Suku Bawah, dan menculik seorang bayi perempuan. Setelah penyerangan selesai, Kepala Suku Bawah memerintahkan 20 orang anak muda yang gagah berani untuk berupaya mengembalikan bayi perempuan itu.
Selama tiga hari tiga malam, para pemuda tersebut berusaha mencari jalan naik ke pemukiman Suku Atas namun usaha mereka sia-sia karena terjalnya pegunungan itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyerah dan berjalan pulang, namun tiba-tiba mereka melihat seorang ibu menggendong bayi turun dari pegunungan yang terjal itu. Para pemuda sangat kaget melihatnya dan langsung bertanya, "Bagaimana caranya Anda memanjati gunung yang terjal ina dan mampu membawa pulang bayi Anda sedangkan kami yang jauh lebih kuat daripada Anda tidak mampu memanjat gunung ini?"
Carilah tujuan dalam hidup ini yang begitu besar sehingga Anda perlu mengerahkan seluruh kapasitas Anda yang terbaik
Carilah tujuan dalam hidup ini yang begitu besar sehingga Anda perlu mengerahkan seluruh kapasitas Anda yang terbaik
Hidup sulit, apa itu?
Seorang remaja baru punya mobil. Mobilnya bekas, tapi masih bagus. Setelah seminggu berbangga-bangga dengan mobil itu, sang mobil mogok. Ia pun mencoba mencari-cari sumber masalahnya. Setelah dua jam mengotak-atik, masalahnya tak ketemu juga. Akhirnya, ia dorong mobil kebanggaannya ke bengkel terdekat. Untung bengkelnya sedang sepi. Maka montir di bengkel itu segera bisa menangani masalahnya. Dan tak lebih dari lima menit, mobil tersebut hidup lagi dan bisa digunakan. Rupanya hanya ada kabel yang kendor.
Saudara, ternyata masalah mobil mogok itu mendatangkan kesulitan untuk sang remaja. Tapi untuk montir mobil, masalah itu mudah saja. Jadi apa itu kesulitan? Secara sederhana, kesulitan adalah ketika seorang siswa kelas dua SD harus menghadapi soal kelas dua SMP, misalnya. Artinya, sesuatu dikatakan sulit bila kemampuan anda di bawah masalah yang harus dihadapi. Hidup mudah jelas sebaliknya. Siswa SMP yang harus menyelesaikan masalah SD jelas akan mudah menyelesaikannya. Jadi kesulitan (atau kemudahan) itu adalah perbandingan masalah dan kemampuan anda.
Apakah hidup anda terus sulit?
Bila anda menilai hidup anda sekarang, apakah dipenuhi lebih banyak kesulitan atau kemudahan? Bila anda merasa anda selalu dirundung kesulitan, berarti ada satu kesadaran yang harus ditimbulkan : Kemampuan anda tidak meningkat. Dengan kemampuan yang tetap atau malah turun, maka hidup anda memang akan selalu sulit.
Kesadaran ini penting. Karena dengan begitu, anda punya peluang untuk keluar dari kesulitan hidup anda. Tentu anda akan benar-benar keluar dari kesulitan bila anda merubah tindakan anda.
Setelah kesulitan ada kemudahan
”Setelah kesulitan ada kemudahan” berasal dari kitab suci. Untuk meraih kemudahan, anda harus melalui suatu kesulitan. Mudah adalah ketika kamampuan anda lebih hebat dari masalah anda. Jadi, kesulitan dalam konteks ini adalah proses anda dalam meningkatkan kemampuan diri. Kenapa sulit? Karena peningkatan kualitas diri adalah sesuatu yang anda tidak ketahui. Kesulitan berasal dari ketidaktahuan itu. Ketidaktahuan bukan hanya mendatangkan kesulitan, tapi juga ketakutan. Nah, ketika anda berhasil mengatasi ketidaktahuan, kesulitan dan ketakutan itu, maka kemampuan anda pun meningkat. Ketika kemampuan meningkat, anda akan mudah mengatasi masalah yang anda hadapi.
Ingin hidup terus mudah?
Jadi, bila anda ingin terus hidup dalam kemudahan teruslah meningkatkan kemampuan. Atasi kesulitan-kesulitan yang anda rencanakan (terus belajar kemampuan-kemampuan baru). Dengan begitu, anda akan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan masalah yang datang pada hidup anda. Koq bisa? Karena anda telah punya kemampuan yang lebih dari masalah yang datang tersebut. Itulah salah satu sebab kenapa anda diwajibkan belajar dari buaian sampai liang kubur. Agar kemampuan anda terus meningkat dan membuat tak satu masalah pun menjadi cukup besar untuk mempersulit hidup anda.
Masalah, I Love You
Jadi, bagi anda yang terus belajar, anda akan bilang : ”Masalah, I Love You” bagi setiap masalah yang datang pada anda. Bila masalahnya lebih kecil dari kemampuan, maka anda akan senang dan mudah menyelesaikannya. Bila masalahnya lebih besar dari kemampuan, maka anda akan senang mendapatinya. Kenapa? Karena anda bisa belajar dan membuat kemampuan anda lebih meningkat lagi
Saudara, ternyata masalah mobil mogok itu mendatangkan kesulitan untuk sang remaja. Tapi untuk montir mobil, masalah itu mudah saja. Jadi apa itu kesulitan? Secara sederhana, kesulitan adalah ketika seorang siswa kelas dua SD harus menghadapi soal kelas dua SMP, misalnya. Artinya, sesuatu dikatakan sulit bila kemampuan anda di bawah masalah yang harus dihadapi. Hidup mudah jelas sebaliknya. Siswa SMP yang harus menyelesaikan masalah SD jelas akan mudah menyelesaikannya. Jadi kesulitan (atau kemudahan) itu adalah perbandingan masalah dan kemampuan anda.
Apakah hidup anda terus sulit?
Bila anda menilai hidup anda sekarang, apakah dipenuhi lebih banyak kesulitan atau kemudahan? Bila anda merasa anda selalu dirundung kesulitan, berarti ada satu kesadaran yang harus ditimbulkan : Kemampuan anda tidak meningkat. Dengan kemampuan yang tetap atau malah turun, maka hidup anda memang akan selalu sulit.
Kesadaran ini penting. Karena dengan begitu, anda punya peluang untuk keluar dari kesulitan hidup anda. Tentu anda akan benar-benar keluar dari kesulitan bila anda merubah tindakan anda.
Setelah kesulitan ada kemudahan
”Setelah kesulitan ada kemudahan” berasal dari kitab suci. Untuk meraih kemudahan, anda harus melalui suatu kesulitan. Mudah adalah ketika kamampuan anda lebih hebat dari masalah anda. Jadi, kesulitan dalam konteks ini adalah proses anda dalam meningkatkan kemampuan diri. Kenapa sulit? Karena peningkatan kualitas diri adalah sesuatu yang anda tidak ketahui. Kesulitan berasal dari ketidaktahuan itu. Ketidaktahuan bukan hanya mendatangkan kesulitan, tapi juga ketakutan. Nah, ketika anda berhasil mengatasi ketidaktahuan, kesulitan dan ketakutan itu, maka kemampuan anda pun meningkat. Ketika kemampuan meningkat, anda akan mudah mengatasi masalah yang anda hadapi.
Ingin hidup terus mudah?
Jadi, bila anda ingin terus hidup dalam kemudahan teruslah meningkatkan kemampuan. Atasi kesulitan-kesulitan yang anda rencanakan (terus belajar kemampuan-kemampuan baru). Dengan begitu, anda akan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan masalah yang datang pada hidup anda. Koq bisa? Karena anda telah punya kemampuan yang lebih dari masalah yang datang tersebut. Itulah salah satu sebab kenapa anda diwajibkan belajar dari buaian sampai liang kubur. Agar kemampuan anda terus meningkat dan membuat tak satu masalah pun menjadi cukup besar untuk mempersulit hidup anda.
Masalah, I Love You
Jadi, bagi anda yang terus belajar, anda akan bilang : ”Masalah, I Love You” bagi setiap masalah yang datang pada anda. Bila masalahnya lebih kecil dari kemampuan, maka anda akan senang dan mudah menyelesaikannya. Bila masalahnya lebih besar dari kemampuan, maka anda akan senang mendapatinya. Kenapa? Karena anda bisa belajar dan membuat kemampuan anda lebih meningkat lagi
Senin, 10 Juni 2013
Mengubah Utang Menjadi Kekayaan
Pak Hasan, kolega saya di Institut Kemandirian. Suatu ketika ia menyampaikan ceramah singkat setelah shalat zuhur. Ceramahnya tentang seorang pengusaha di Bandung. Suatu ketika, sang pengusaha ditimpa bencana. Ia pun down dan frustasi. Bisnisnya hampir-hampir hancur. Sang pengusaha lalu melakukan perjalanan dari mesjid ke mesjid. Dari perjalanan inilah, ia memperoleh pola pikir baru. Ia benar-benar tercerahkan.
Pencerahan yang ia alami adalah tentang shalat. Untuknya dulu, shalat adalah aktivitas jeda di tengah kesibukan bekerja. Sekarang berubah menjadi: ”Kerja adalah aktivitas selingan untuk menunggu shalat”.
Perubahan yang dilakukan sang pengusaha ini ternyata berhasil membuat bisnisnya meningkat lagi. Ia bahkan merubah sistem bisnisnya sesuai prinsip baru tersebut. Bisnisnya bisa kembali maju seperti semula.
Itulah isi ringkas dari ceramah Pak Hasan. Cerita tentang sang pengusaha itu menyentak hati saya. Saya dan semua jamaah shalat zuhur langsung berniat dan bertekad untuk juga membuat perubahan yang sama.
Nah saudara, itulah hebatnya pikiran. Ia menjadi awal dari tindakan yang bisa membuat perubahan menuju pada kesuksesan. Karenanya, gunakanlah pikiran anda untuk mendukung anda, bukan untuk mensabotase kesuksesan diri anda sendiri.
Dalam kaitannya dengan topik: ”Kaya dari berutang”, maka diperlukan beberapa pola pikir yang yang mendasarinya. Dengan pola pikir ini, maka kondisi kaya dari utang menjadi mungkin.
Penolakan pada pola pikir ini akan menjauhkan anda menggunakan utang sebagai alat menuju kaya. Anda akan menghindari utang. Langkah-langkah yang diterangkan berikutnya mungkin menjadi tak berarti. Itulah sebabnya, kenapa bagian ini menjadi bagian mendasar yang sangat penting.
Bagian kaya sejati memberikan gambaran pada anda tentang tujuan yang ingin diraih. Dari sana lah semuanya berasal. Setelah tujuan jelas, maka anda harus mempersiapkan diri. Inilah fungsinya bagian menjadi achiever. Dengan menjadi achiever berarti anda telah siap untuk melangkah menuju tujuan kaya sejati. Nah, sekarang saatnya anda memilih alat. Apakah anda mau gunakan mobil, motor, sepeda, kereta, pesawat terbang, kapal laut, atau hanya jalan kaki?
Naik pesawat terbang bisa lebih cepat menghantar anda ke tujuan. Tapi bila anda belum terbiasa menggunakan pesawat terbang, tentu tidak mudah juga. Apalagi bila di benak anda tersimpan file-file buruk tentang pesawat terbang. Misalnya tiketnya mahal, bahaya karena pesawat terbang bisa jatuh, ada tetangga yang meninggal karena kecelakan pesawat terbang, dan sebagainya.
Nah, untuk memutuskan menggunakan pesawat terbang, anda tentu saja harus mengganti file-file buruk di benak anda itu. Ganti lah file buruk itu dengan file baik. Misalnya, menggunakan pesawat terbang itu lebih nyaman, cepat, relatif aman dibanding yang alat transportasi lain, lebih bergengsi, terjamin asuransi, dan sebagainya.
Sama juga dengan utang. Untuk menggunakan utang sebagai alat meraih kualitas kaya sejati, maka anda harus mengganti file buruk di benak anda tentang untang dengan file baik. Dengannya, anda akan semangat melakukannya. Berbagai rintangan, hambatan dan masalah yang kemudian terjadi akan anda hadapi dengan lapang dada, kreatif dan fokus.
Lalu, apa saja file-file baik yang harus mengganti file-file buruk di benak anda. Bila menyangkut utang, maka ada lima file baik yang anda butuhkan bila anda ingin menggunakan utang. Berikut kelima file baik tersebut.
1. Utang itu baik-baik saja.
Berutang adalah hal yang baik-baik saja. Utang itu tidak buruk. Ia tergantung kepada orangnya. Utang bisa buruk di tangan orang yang lemah dan salah. Tapi utang bisa baik dan memperbaiki di tangan orang yang kuat dan benar. Itulah sebabnya, bila anda mau kaya dari utang, anda harus mempunyai kualitas achiever. Para achiever adalah orang-orang yang kuat dan teguh memegang kebenaran.
Suatu ketika, saya baca buku Pak Quraish Shihab. Judulnya Lentera Hati. Salah satu bab dalam buku itu menerangkan adanya kesamaan antara agama (dalam bahasa Arab istilahnya : Din) dengan utang (dalam bahasa Arab istilahnya: dain).
Akar kata agama dan utang ternyata sama. Pak Quraish menyimpulkan bahwa bila anda beragama dengan benar, maka hal itu sama saja seperti anda membayar utang pada Allah SWT. Apakah anda merasa berutang pada Allah karena telah memberikan banyak nikmat untuk anda?
Terus terang saja, uraian Pak Quraish mengagetkan saya. Hal itu adalah pencerahan baru untuk saya. Salah satu motivasi saya menulis buku ini adalah uraian tersebut. Selama ini di benak saya pun tersimpan file: ”Utang itu buruk”. Dengan begitu saya berusaha sekuat tenaga menghindarinya. Sekarang, file itu telah berganti menjadi: ”Utang itu baik-baik saja”.
Dengan yakin bahwa utang adalah hal yang baik-baik saja, maka anda sedang membuka pintu peluang menggunakan utang dengan sebuah rencana yang baik. Iya, kan? Mungkinkah anda membuat rencana yang baik akan sesuatu yang menurut anda buruk? Bagi anda yang masih manusia normal, nggak mungkin, kan?
Misalnya korupsi. Korupsi adalah sesuatu yang buruk. Apakah ada orang yang merencanakan korupsi dengan sangat baik sehingga tidak pernah terungkap? Banyak. Siapa mereka? Tentu saja mereka orang-orang yang jahat. Hanya orang jahat yang merencanakan keburukan dengan sangat baik dan rapi. Pernahkah anda korupsi? Bila pernah, bertaubatlah segera.
2. Utang adalah alat yang hebat.
Pernahkah anda mendengar istilah BODOL? Istilah ini kepanjangannya adalah Berani Optimis Duit Orang Lain. Istilah BODOL sering dilekatkan pada orang yang mau wirausaha tetapi nggak punya modal. Modal mereka adalah keberanian dan optimismenya saja.
Banyak orang yang sukses dengan prinsip BODOL ini. Tentu, pada prakteknya bukan hanya berani dan optimis saja modalnya, tapi juga didukung hal-hal lain, seperti kompetensi, komunikasi yang bagus, relasi yang banyak dan sebagainya.
Prinsip BODOL membuktikan bahwa utang adalah salah satu alat yang hebat. Nah, di dunia ini banyak alat hebat yang bisa membantu anda meraih sukses. Kita mengenal bola lampu yang ditemukan oleh Thomas Alfa Edison. Setelah melalui 10.000 kali kegagalan, Pak Edison berhasil ’menerangi’ dunia ini. Bola lampu membuat revolusi di dunia. Ia alat yang hebat.
Bola lampu adalah salah satu contoh. Contoh lain ada mesin cetak, motor, mobil, telepon, pesawat terbang, kapal laut, mikroskop, energi atom, lensa, komputer, internet dan sebagainya. Semua alat-alat ini membuat hidup manusia lebih mudah dan lebih nyaman.
Tapi itu semua hanya alat. Manusia di belakang alat itu lah yang menentukan apakah alat hebat itu bisa membangun atau menghancurkan. Pesawat terbang contohnya. Dengan pesawat terbang, anda bisa berpindah tempat di bumi ini dengan cepat, dibanding alat-alat lain. Ketika pesawat terbang digunakan untuk transportasi massal, maka ia bermanfaat besar.
Tapi ketika pesawat terbang digunakan untuk mesin perang, maka kehancuran yang terjadi. Pada perang dunia pertama dan kedua, pesawat terbang berperan sangat besar untuk menghancurkan lawan. Bom atom yang diledakkan Amerika di Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada 1945, diangkut menggunakan pesawat terbang. Akibat bom atom itu, terjadi perusakan luar biasa di Jepang.
Sama juga dengan internet misalnya. Dengan alat ini, anda bisa berkomunikasi dengan lebih murah, cepat dan mudah. Tapi, internet juga bisa sangat merusak ketika banyak virus ’dilepas’ ke jaringan. Banyak komputer yang rusak, data hilang, dan sebagainya. Atau ketika internet itu dipenuhi situs-situs porno. Wah, dia benar-benar buruk dan merusak.
Demikian pula halnya dengan utang. Utang adalah akses keuangan yang cepat. Dibandingkan menabung, maka utang bisa menyediakan uang dengan lebih cepat. Kecepatan memperoleh uang ini adalah keunggulan utang.
Misalnya anda seorang karyawan yang ingin berbisnis kecil-kecilan. Modalnya Rp. 5 juta. Anda sebenarnya bisa menabung dari gaji anda sebesar Rp. 500 ribu per bulan. Nah, dengan menabung berarti anda harus menunggu sampai 10 bulan dulu agar uang Rp. 5 juta itu ada di tangan anda.
Bagaimana dengan utang? Dibutuhkan berapa lama untuk mendapatkan Rp. 5 juta? Mungkin tidak sampai satu bulan. Anda bisa menghubungi lembaga keuangan mikro untuk mendapatkan modal tersebut. Setiap bulan anda bayar utang itu dengan mencicil. Nah, karena uang Rp. 5 juta itu digunakan untuk bisnis, maka anda bisa mencicil utang itu bukan dari gaji anda, tapi dari hasil bisnis anda.
Anda mungkin bertanya: ”Oke lah utang itu lebih cepat, tapi resikonya kan juga lebih besar?” Yap, anda relatif benar. Mengapa relatif benar? Karena utang itu akan menimbulkan resiko besar, bila anda tidak siap. Tapi, bila anda siap, resiko itu jadi mengecil.
Berbisnis dengan modal dari utang akan beresiko besar bila anda belum tahu apa-apa tentang bisnis itu. Atau anda percayakan saja bisnis itu ke orang lain yang juga belum berpengalaman. Atau anda berbisnis di bidang yang sudah ditinggalkan orang lain. Atau lagi, anda berbisnis di bidang yang melawan pesaing yang sudah besar.
Tapi, resiko bisnis itu menjadi mengecil bila anda sudah berpengalaman di bisnis itu atau bekerja sama dengan orang yang sudah berpengalaman. Modal bisnisnya bukan semua dari anda, tapi ada juga dari orang lain. Atau anda membeli waralaba bisnis yang sudah terbukti kehandalan sistemnya. Nah, banyak kan cara untuk mengecilkan resiko bisnis. Bila demikian yang anda lakukan, maka anda berutang pun untuk dapat modal bisnis, kemungkinan anda untuk sukses menjadi lebih besar.
3. Utang adalah salah satu sumber kekayaan.
Siapa orang paling kaya yang anda tahu di Indonesia ini? Darimana beliau (orang kaya tersebut) memperoleh kekayaannya? Kerja keras? Pasti. Orangnya jujur terpercaya? Pasti. Beliau sangat kompeten? Pasti juga.
Hal-hal yang disebutkan di atas adalah fondasi bagi siapapun untuk meraih kekayaan. Tapi, apakah semua orang kaya itu benar-benar kaya? Belum tentu. Ada banyak orang kaya yang tidak benar-benar kaya. Kekayaannya bisa saja banyak, tapi cenderung tetap. Pertambahannya kecil.
Nah saudara, anda boleh percaya boleh tidak. Orang-orang yang benar-benar kaya adalah orang-orang yang mempunyai fondasi kekayaan tersebut, dan mereka menggunakan utang sebagai salah satu sumber kekayaannya. Orang kaya yang tidak menggunakan utang, maka kekayaannya sangat mungkin terbatas. Tapi orang kaya yang juga menggunakan utang, maka kekayaannya bisa bertambah dengan cepat.
Kenapa?
Karena ketika anda hanya mengandalkan kemampuan uang anda sendiri, maka anda akan terbentur oleh keterbatasan uang anda. Tapi, ketika anda menggunakan utang, maka batas jumlah uang anda itu menjadi tidak ada. Bila anda berbisnis, maka modal anda bisa dikatakan tidak berbatas bila menggunakan utang. Hasilnya? Ya,... juga tidak berbatas.
Inilah kunci orang-orang yang benar-benar kaya. Mereka gunakan utang sebagai alat meraih kekayaan. Mereka atasi ketakutan akan utang itu dengan perhitungan yang akurat dan kemampuan yang terasah. Mereka berani mencobanya. Pada kenyataannya, mereka juga gagal koq menggunakan alat ini. Tapi kegagalan itu lah yang justru menajamkan perhitungan mereka dan membesarkan keberanian mereka. Keseimbangan antara kebesaran keberanian dan ketajaman perhitungan akan utang ini lah yang membuka pintu kekayaan luar biasa.
Apakah anda sudah siap untuk jadi orang yang benar-benar kaya? Gunakan uang anda untuk itu. Dan gunakan juga utang!
4. Utang, dekatilah...
Saudara, anda sudah tahu sekarang tiga file baik tentang utang. Utang itu baik-baik saja, alat yang hebat dan sumber kekayaan. Karena itu, dekati lah utang saudara.
Anda, saya yakin, senang berdekatan dengan hal-hal atau orang-orang yang baik dan hebat, kan? Nah, tiga file baik sebelumnya telah membuktikan bahwa utang memenuhi kriteria baik dan hebat ini, kan? Karena itu, mulailah dekati utang.
Pada prakteknya, mulailah tidak alergi dengan lembaga-lembaga keuangan seperti bank. Bahkan, bukan hanya tidak alergi, tapi anda mulai senang dengan fungsi bank yang lain, yaitu memberi utang. Inilah sebenarnya fungsi bank yang lebih hebat dari memberikan keamanan pada uang anda yang anda simpan disana. Bank adalah sumber uang. Utang adalah jalannya.
Pada bab-bab berikutnya, anda akan dipandu untuk menggunakan kekuatan bank dalam memberikan utang ini untuk kesuksesan anda. Bukan hanya kesuksesan bank semata.
Pada prakteknya lagi, ternyata sumber utang itu bukan hanya bank, tapi juga orang-orang di sekitar anda. Orang-orang di sekitar anda kan punya uang, sedikit atau sebanyak apapun. Nah, itu berarti anda bisa gunakan uang tersebut melalui jalan sah dan halal yang namanya utang.
Anda boleh percaya atau tidak, orang-orang di sekitar anda sebenarnya sangat senang bisa memberi utang pada anda. Toh, anda teman mereka. Mereka tahu anda orang baik. Tentu, asal tujuan dan cara anda berutang adalah benar dan baik. Iya, kan?
5. Utang harus dikembalikan.
Ini pola pikir tentang utang yang sangat penting. Tanpa pola pikir ini, sebaiknya anda jangan pernah berutang. Bukannya kekayaan dan kesuksesan yang akan anda raih, tapi justru kecelakaan dan mungkin penjara. Itu bila anda berutang.
Bagaimana bila orang lain yang berutang?
Sama saja. Utang itu pun harus dikembalikan pada anda. Jadi, baik anda yang berutang atau orang lain yang berutang pada anda, maka utang itu harus dikembalikan. Inilah pola pikir dan prinsip sangat penting bila anda ingin kaya dari utang. Utang itu harus dikembalikan.
Bagaimana bila utang anda justru tidak ditagih oleh yang punya uang? Sama saja. Anda harus kembalikan.
Bagaimana bila utang anda justru dihadiahkan oleh yang punya uang? Saran saya: Tolak. Jangan mau. Katakan terima kasih padanya, lalu tolak. Anda mampu mengembalikan utang itu koq. Kenapa harus dihadiahkan? Dengan menolak, anda tetap mempertahankan nilai baik di mata semua orang. Tentu saja, dalam kasus ini, anda harus juga melihat kondisi anda. Bila kondisi anda memang sedang sangat susah, maka tidak apa-apa juga anda menerima hadiah itu. Tapi tetap dengan satu syarat. Bila anda lalu memiliki kemampuan, maka anda akan juga menghadiahi orang tersebut. Tidak mesti dalam bentuk uang. Bisa dalam bentuk hadiah barang. Dengan begitu, anda dan dia sudah sama-sama berbuat baik.
Bagaimana bila orang lain yang berutang pada anda. Lihatlah kemampuannya. Bila ia berada dalam keadaan susah, maka silakan menghadiahkan utang tersebut padanya. Semuanya atau sebagian. Dan yakinlah, tindakan anda tersebut adalah perbuatan mulia dan akan dibalas dengan balasan yang lebih baik lagi.
Terus terang saja, kalau tentang utang, banyak orang yang pola pikirnya justru berbeda. ”Pengennya dapat utang, tapi nggak mau atau malas mengembalikan”. Wah, dengan pola pikir begini, anda tidak akan pernah kaya dari utang.
Alasan penting kenapa utang harus dikembalikan adalah kepercayaan. Bila anda tidak atau telat mengembalikan utang, maka kepercayaan orang lain pada anda akan menurun dan akhirnya rusak. Ini kondisi yang sangat buruk. Bila orang-orang lain sudah tidak percaya pada anda, maka jalan anda menuju sukses makin kecil, terjal dan lebih banyak rintangannya. Awal dari kesuksesan anda adalah kepercayaan orang lain pada anda.
Sayangnya, banyak orang yang sudah ’gila’. Mereka menukar kepercayaan dengan uang. Sayang sekali. Padahal bila kepercayaan sudah ternoda, uang sebanyak apapun akan susah menggantinya.
Tekanan hidup di jaman sekarang ternyata bisa membuat orang menjadi ’gila’. Uang telah menjadi hal yang sangat penting. Sampai bisa lebih penting dari kepercayaan, keluarga, agama, gelar, ilmu, rasa malu, nilai-nilai luhur kemanusiaan dan sebagainya. Bila sudah begini, para orang ’gila’ ini bisa melakukan apa saja demi uang. Meski dengan resiko yang luar biasa besarnya.
Banyak kasus tentang utang di Indonesia yang bisa kita jadikan pelajaran. Ada pengusaha pertanian yang membuat program investasi yang nggak rasional. Bisa memberikan keuntungan sampai 30% per bulan dari modal.
Pada bulan-bulan pertama program itu berjalan lancar. Para investor benar-benar mendapatkan keuntungan sebesar 30% dari modal yang ditanamnya. Mereka pun berinvestasi lagi. Terus begitu. Sampai pada akhirnya, bisnis pertanian itu pun terbuka topengnya. Ternyata, bisnis itu hanya omong kosong. Lahan pertanian yang dikelola tidak seluas yang dipromosikan. Jelas hasilnya pun tidak memadai dibanding investasi yang didapat.
Keuntungan 30% dari modal dibayarkan dari dana investasi yang baru. Seperti gali lobang tutup lobang. Hanya saja lobang yang digali makin besar dari bulan ke bulan. Dan terbongkarlah topeng itu. Masyarakat tahu kebohongan bisnis itu. Dana investasi itu jadi utang yang harus dikembalikan. Ketika kemampuan bayarnya tidak ada, sang pemilik bisnis pertanian fiktif itu pun jadi buronan. Lalu diproses pengadilan dan menginaplah ia di hotel prodeo. Masyarakat yang kena tipu ternyata banyak sekali. Koq bisa ya?
Saudara, itulah lima pola pikir tentang utang yang bisa membuat anda menjadi kaya. Gantilah file-file buruk tentang utang di benak anda dengan lima file baik tersebut. Bila ini sudah anda lakukan, berarti anda sudah siap menggunakan utang sebagai alat meraih kekayaan. Langkah selanjutnya, anda harus mengetahui dan menguasai keterampilan mengelola utang ini.
Pencerahan yang ia alami adalah tentang shalat. Untuknya dulu, shalat adalah aktivitas jeda di tengah kesibukan bekerja. Sekarang berubah menjadi: ”Kerja adalah aktivitas selingan untuk menunggu shalat”.
Perubahan yang dilakukan sang pengusaha ini ternyata berhasil membuat bisnisnya meningkat lagi. Ia bahkan merubah sistem bisnisnya sesuai prinsip baru tersebut. Bisnisnya bisa kembali maju seperti semula.
Itulah isi ringkas dari ceramah Pak Hasan. Cerita tentang sang pengusaha itu menyentak hati saya. Saya dan semua jamaah shalat zuhur langsung berniat dan bertekad untuk juga membuat perubahan yang sama.
Nah saudara, itulah hebatnya pikiran. Ia menjadi awal dari tindakan yang bisa membuat perubahan menuju pada kesuksesan. Karenanya, gunakanlah pikiran anda untuk mendukung anda, bukan untuk mensabotase kesuksesan diri anda sendiri.
Dalam kaitannya dengan topik: ”Kaya dari berutang”, maka diperlukan beberapa pola pikir yang yang mendasarinya. Dengan pola pikir ini, maka kondisi kaya dari utang menjadi mungkin.
Penolakan pada pola pikir ini akan menjauhkan anda menggunakan utang sebagai alat menuju kaya. Anda akan menghindari utang. Langkah-langkah yang diterangkan berikutnya mungkin menjadi tak berarti. Itulah sebabnya, kenapa bagian ini menjadi bagian mendasar yang sangat penting.
Bagian kaya sejati memberikan gambaran pada anda tentang tujuan yang ingin diraih. Dari sana lah semuanya berasal. Setelah tujuan jelas, maka anda harus mempersiapkan diri. Inilah fungsinya bagian menjadi achiever. Dengan menjadi achiever berarti anda telah siap untuk melangkah menuju tujuan kaya sejati. Nah, sekarang saatnya anda memilih alat. Apakah anda mau gunakan mobil, motor, sepeda, kereta, pesawat terbang, kapal laut, atau hanya jalan kaki?
Naik pesawat terbang bisa lebih cepat menghantar anda ke tujuan. Tapi bila anda belum terbiasa menggunakan pesawat terbang, tentu tidak mudah juga. Apalagi bila di benak anda tersimpan file-file buruk tentang pesawat terbang. Misalnya tiketnya mahal, bahaya karena pesawat terbang bisa jatuh, ada tetangga yang meninggal karena kecelakan pesawat terbang, dan sebagainya.
Nah, untuk memutuskan menggunakan pesawat terbang, anda tentu saja harus mengganti file-file buruk di benak anda itu. Ganti lah file buruk itu dengan file baik. Misalnya, menggunakan pesawat terbang itu lebih nyaman, cepat, relatif aman dibanding yang alat transportasi lain, lebih bergengsi, terjamin asuransi, dan sebagainya.
Sama juga dengan utang. Untuk menggunakan utang sebagai alat meraih kualitas kaya sejati, maka anda harus mengganti file buruk di benak anda tentang untang dengan file baik. Dengannya, anda akan semangat melakukannya. Berbagai rintangan, hambatan dan masalah yang kemudian terjadi akan anda hadapi dengan lapang dada, kreatif dan fokus.
Lalu, apa saja file-file baik yang harus mengganti file-file buruk di benak anda. Bila menyangkut utang, maka ada lima file baik yang anda butuhkan bila anda ingin menggunakan utang. Berikut kelima file baik tersebut.
1. Utang itu baik-baik saja.
Berutang adalah hal yang baik-baik saja. Utang itu tidak buruk. Ia tergantung kepada orangnya. Utang bisa buruk di tangan orang yang lemah dan salah. Tapi utang bisa baik dan memperbaiki di tangan orang yang kuat dan benar. Itulah sebabnya, bila anda mau kaya dari utang, anda harus mempunyai kualitas achiever. Para achiever adalah orang-orang yang kuat dan teguh memegang kebenaran.
Suatu ketika, saya baca buku Pak Quraish Shihab. Judulnya Lentera Hati. Salah satu bab dalam buku itu menerangkan adanya kesamaan antara agama (dalam bahasa Arab istilahnya : Din) dengan utang (dalam bahasa Arab istilahnya: dain).
Akar kata agama dan utang ternyata sama. Pak Quraish menyimpulkan bahwa bila anda beragama dengan benar, maka hal itu sama saja seperti anda membayar utang pada Allah SWT. Apakah anda merasa berutang pada Allah karena telah memberikan banyak nikmat untuk anda?
Terus terang saja, uraian Pak Quraish mengagetkan saya. Hal itu adalah pencerahan baru untuk saya. Salah satu motivasi saya menulis buku ini adalah uraian tersebut. Selama ini di benak saya pun tersimpan file: ”Utang itu buruk”. Dengan begitu saya berusaha sekuat tenaga menghindarinya. Sekarang, file itu telah berganti menjadi: ”Utang itu baik-baik saja”.
Dengan yakin bahwa utang adalah hal yang baik-baik saja, maka anda sedang membuka pintu peluang menggunakan utang dengan sebuah rencana yang baik. Iya, kan? Mungkinkah anda membuat rencana yang baik akan sesuatu yang menurut anda buruk? Bagi anda yang masih manusia normal, nggak mungkin, kan?
Misalnya korupsi. Korupsi adalah sesuatu yang buruk. Apakah ada orang yang merencanakan korupsi dengan sangat baik sehingga tidak pernah terungkap? Banyak. Siapa mereka? Tentu saja mereka orang-orang yang jahat. Hanya orang jahat yang merencanakan keburukan dengan sangat baik dan rapi. Pernahkah anda korupsi? Bila pernah, bertaubatlah segera.
2. Utang adalah alat yang hebat.
Pernahkah anda mendengar istilah BODOL? Istilah ini kepanjangannya adalah Berani Optimis Duit Orang Lain. Istilah BODOL sering dilekatkan pada orang yang mau wirausaha tetapi nggak punya modal. Modal mereka adalah keberanian dan optimismenya saja.
Banyak orang yang sukses dengan prinsip BODOL ini. Tentu, pada prakteknya bukan hanya berani dan optimis saja modalnya, tapi juga didukung hal-hal lain, seperti kompetensi, komunikasi yang bagus, relasi yang banyak dan sebagainya.
Prinsip BODOL membuktikan bahwa utang adalah salah satu alat yang hebat. Nah, di dunia ini banyak alat hebat yang bisa membantu anda meraih sukses. Kita mengenal bola lampu yang ditemukan oleh Thomas Alfa Edison. Setelah melalui 10.000 kali kegagalan, Pak Edison berhasil ’menerangi’ dunia ini. Bola lampu membuat revolusi di dunia. Ia alat yang hebat.
Bola lampu adalah salah satu contoh. Contoh lain ada mesin cetak, motor, mobil, telepon, pesawat terbang, kapal laut, mikroskop, energi atom, lensa, komputer, internet dan sebagainya. Semua alat-alat ini membuat hidup manusia lebih mudah dan lebih nyaman.
Tapi itu semua hanya alat. Manusia di belakang alat itu lah yang menentukan apakah alat hebat itu bisa membangun atau menghancurkan. Pesawat terbang contohnya. Dengan pesawat terbang, anda bisa berpindah tempat di bumi ini dengan cepat, dibanding alat-alat lain. Ketika pesawat terbang digunakan untuk transportasi massal, maka ia bermanfaat besar.
Tapi ketika pesawat terbang digunakan untuk mesin perang, maka kehancuran yang terjadi. Pada perang dunia pertama dan kedua, pesawat terbang berperan sangat besar untuk menghancurkan lawan. Bom atom yang diledakkan Amerika di Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada 1945, diangkut menggunakan pesawat terbang. Akibat bom atom itu, terjadi perusakan luar biasa di Jepang.
Sama juga dengan internet misalnya. Dengan alat ini, anda bisa berkomunikasi dengan lebih murah, cepat dan mudah. Tapi, internet juga bisa sangat merusak ketika banyak virus ’dilepas’ ke jaringan. Banyak komputer yang rusak, data hilang, dan sebagainya. Atau ketika internet itu dipenuhi situs-situs porno. Wah, dia benar-benar buruk dan merusak.
Demikian pula halnya dengan utang. Utang adalah akses keuangan yang cepat. Dibandingkan menabung, maka utang bisa menyediakan uang dengan lebih cepat. Kecepatan memperoleh uang ini adalah keunggulan utang.
Misalnya anda seorang karyawan yang ingin berbisnis kecil-kecilan. Modalnya Rp. 5 juta. Anda sebenarnya bisa menabung dari gaji anda sebesar Rp. 500 ribu per bulan. Nah, dengan menabung berarti anda harus menunggu sampai 10 bulan dulu agar uang Rp. 5 juta itu ada di tangan anda.
Bagaimana dengan utang? Dibutuhkan berapa lama untuk mendapatkan Rp. 5 juta? Mungkin tidak sampai satu bulan. Anda bisa menghubungi lembaga keuangan mikro untuk mendapatkan modal tersebut. Setiap bulan anda bayar utang itu dengan mencicil. Nah, karena uang Rp. 5 juta itu digunakan untuk bisnis, maka anda bisa mencicil utang itu bukan dari gaji anda, tapi dari hasil bisnis anda.
Anda mungkin bertanya: ”Oke lah utang itu lebih cepat, tapi resikonya kan juga lebih besar?” Yap, anda relatif benar. Mengapa relatif benar? Karena utang itu akan menimbulkan resiko besar, bila anda tidak siap. Tapi, bila anda siap, resiko itu jadi mengecil.
Berbisnis dengan modal dari utang akan beresiko besar bila anda belum tahu apa-apa tentang bisnis itu. Atau anda percayakan saja bisnis itu ke orang lain yang juga belum berpengalaman. Atau anda berbisnis di bidang yang sudah ditinggalkan orang lain. Atau lagi, anda berbisnis di bidang yang melawan pesaing yang sudah besar.
Tapi, resiko bisnis itu menjadi mengecil bila anda sudah berpengalaman di bisnis itu atau bekerja sama dengan orang yang sudah berpengalaman. Modal bisnisnya bukan semua dari anda, tapi ada juga dari orang lain. Atau anda membeli waralaba bisnis yang sudah terbukti kehandalan sistemnya. Nah, banyak kan cara untuk mengecilkan resiko bisnis. Bila demikian yang anda lakukan, maka anda berutang pun untuk dapat modal bisnis, kemungkinan anda untuk sukses menjadi lebih besar.
3. Utang adalah salah satu sumber kekayaan.
Siapa orang paling kaya yang anda tahu di Indonesia ini? Darimana beliau (orang kaya tersebut) memperoleh kekayaannya? Kerja keras? Pasti. Orangnya jujur terpercaya? Pasti. Beliau sangat kompeten? Pasti juga.
Hal-hal yang disebutkan di atas adalah fondasi bagi siapapun untuk meraih kekayaan. Tapi, apakah semua orang kaya itu benar-benar kaya? Belum tentu. Ada banyak orang kaya yang tidak benar-benar kaya. Kekayaannya bisa saja banyak, tapi cenderung tetap. Pertambahannya kecil.
Nah saudara, anda boleh percaya boleh tidak. Orang-orang yang benar-benar kaya adalah orang-orang yang mempunyai fondasi kekayaan tersebut, dan mereka menggunakan utang sebagai salah satu sumber kekayaannya. Orang kaya yang tidak menggunakan utang, maka kekayaannya sangat mungkin terbatas. Tapi orang kaya yang juga menggunakan utang, maka kekayaannya bisa bertambah dengan cepat.
Kenapa?
Karena ketika anda hanya mengandalkan kemampuan uang anda sendiri, maka anda akan terbentur oleh keterbatasan uang anda. Tapi, ketika anda menggunakan utang, maka batas jumlah uang anda itu menjadi tidak ada. Bila anda berbisnis, maka modal anda bisa dikatakan tidak berbatas bila menggunakan utang. Hasilnya? Ya,... juga tidak berbatas.
Inilah kunci orang-orang yang benar-benar kaya. Mereka gunakan utang sebagai alat meraih kekayaan. Mereka atasi ketakutan akan utang itu dengan perhitungan yang akurat dan kemampuan yang terasah. Mereka berani mencobanya. Pada kenyataannya, mereka juga gagal koq menggunakan alat ini. Tapi kegagalan itu lah yang justru menajamkan perhitungan mereka dan membesarkan keberanian mereka. Keseimbangan antara kebesaran keberanian dan ketajaman perhitungan akan utang ini lah yang membuka pintu kekayaan luar biasa.
Apakah anda sudah siap untuk jadi orang yang benar-benar kaya? Gunakan uang anda untuk itu. Dan gunakan juga utang!
4. Utang, dekatilah...
Saudara, anda sudah tahu sekarang tiga file baik tentang utang. Utang itu baik-baik saja, alat yang hebat dan sumber kekayaan. Karena itu, dekati lah utang saudara.
Anda, saya yakin, senang berdekatan dengan hal-hal atau orang-orang yang baik dan hebat, kan? Nah, tiga file baik sebelumnya telah membuktikan bahwa utang memenuhi kriteria baik dan hebat ini, kan? Karena itu, mulailah dekati utang.
Pada prakteknya, mulailah tidak alergi dengan lembaga-lembaga keuangan seperti bank. Bahkan, bukan hanya tidak alergi, tapi anda mulai senang dengan fungsi bank yang lain, yaitu memberi utang. Inilah sebenarnya fungsi bank yang lebih hebat dari memberikan keamanan pada uang anda yang anda simpan disana. Bank adalah sumber uang. Utang adalah jalannya.
Pada bab-bab berikutnya, anda akan dipandu untuk menggunakan kekuatan bank dalam memberikan utang ini untuk kesuksesan anda. Bukan hanya kesuksesan bank semata.
Pada prakteknya lagi, ternyata sumber utang itu bukan hanya bank, tapi juga orang-orang di sekitar anda. Orang-orang di sekitar anda kan punya uang, sedikit atau sebanyak apapun. Nah, itu berarti anda bisa gunakan uang tersebut melalui jalan sah dan halal yang namanya utang.
Anda boleh percaya atau tidak, orang-orang di sekitar anda sebenarnya sangat senang bisa memberi utang pada anda. Toh, anda teman mereka. Mereka tahu anda orang baik. Tentu, asal tujuan dan cara anda berutang adalah benar dan baik. Iya, kan?
5. Utang harus dikembalikan.
Ini pola pikir tentang utang yang sangat penting. Tanpa pola pikir ini, sebaiknya anda jangan pernah berutang. Bukannya kekayaan dan kesuksesan yang akan anda raih, tapi justru kecelakaan dan mungkin penjara. Itu bila anda berutang.
Bagaimana bila orang lain yang berutang?
Sama saja. Utang itu pun harus dikembalikan pada anda. Jadi, baik anda yang berutang atau orang lain yang berutang pada anda, maka utang itu harus dikembalikan. Inilah pola pikir dan prinsip sangat penting bila anda ingin kaya dari utang. Utang itu harus dikembalikan.
Bagaimana bila utang anda justru tidak ditagih oleh yang punya uang? Sama saja. Anda harus kembalikan.
Bagaimana bila utang anda justru dihadiahkan oleh yang punya uang? Saran saya: Tolak. Jangan mau. Katakan terima kasih padanya, lalu tolak. Anda mampu mengembalikan utang itu koq. Kenapa harus dihadiahkan? Dengan menolak, anda tetap mempertahankan nilai baik di mata semua orang. Tentu saja, dalam kasus ini, anda harus juga melihat kondisi anda. Bila kondisi anda memang sedang sangat susah, maka tidak apa-apa juga anda menerima hadiah itu. Tapi tetap dengan satu syarat. Bila anda lalu memiliki kemampuan, maka anda akan juga menghadiahi orang tersebut. Tidak mesti dalam bentuk uang. Bisa dalam bentuk hadiah barang. Dengan begitu, anda dan dia sudah sama-sama berbuat baik.
Bagaimana bila orang lain yang berutang pada anda. Lihatlah kemampuannya. Bila ia berada dalam keadaan susah, maka silakan menghadiahkan utang tersebut padanya. Semuanya atau sebagian. Dan yakinlah, tindakan anda tersebut adalah perbuatan mulia dan akan dibalas dengan balasan yang lebih baik lagi.
Terus terang saja, kalau tentang utang, banyak orang yang pola pikirnya justru berbeda. ”Pengennya dapat utang, tapi nggak mau atau malas mengembalikan”. Wah, dengan pola pikir begini, anda tidak akan pernah kaya dari utang.
Alasan penting kenapa utang harus dikembalikan adalah kepercayaan. Bila anda tidak atau telat mengembalikan utang, maka kepercayaan orang lain pada anda akan menurun dan akhirnya rusak. Ini kondisi yang sangat buruk. Bila orang-orang lain sudah tidak percaya pada anda, maka jalan anda menuju sukses makin kecil, terjal dan lebih banyak rintangannya. Awal dari kesuksesan anda adalah kepercayaan orang lain pada anda.
Sayangnya, banyak orang yang sudah ’gila’. Mereka menukar kepercayaan dengan uang. Sayang sekali. Padahal bila kepercayaan sudah ternoda, uang sebanyak apapun akan susah menggantinya.
Tekanan hidup di jaman sekarang ternyata bisa membuat orang menjadi ’gila’. Uang telah menjadi hal yang sangat penting. Sampai bisa lebih penting dari kepercayaan, keluarga, agama, gelar, ilmu, rasa malu, nilai-nilai luhur kemanusiaan dan sebagainya. Bila sudah begini, para orang ’gila’ ini bisa melakukan apa saja demi uang. Meski dengan resiko yang luar biasa besarnya.
Banyak kasus tentang utang di Indonesia yang bisa kita jadikan pelajaran. Ada pengusaha pertanian yang membuat program investasi yang nggak rasional. Bisa memberikan keuntungan sampai 30% per bulan dari modal.
Pada bulan-bulan pertama program itu berjalan lancar. Para investor benar-benar mendapatkan keuntungan sebesar 30% dari modal yang ditanamnya. Mereka pun berinvestasi lagi. Terus begitu. Sampai pada akhirnya, bisnis pertanian itu pun terbuka topengnya. Ternyata, bisnis itu hanya omong kosong. Lahan pertanian yang dikelola tidak seluas yang dipromosikan. Jelas hasilnya pun tidak memadai dibanding investasi yang didapat.
Keuntungan 30% dari modal dibayarkan dari dana investasi yang baru. Seperti gali lobang tutup lobang. Hanya saja lobang yang digali makin besar dari bulan ke bulan. Dan terbongkarlah topeng itu. Masyarakat tahu kebohongan bisnis itu. Dana investasi itu jadi utang yang harus dikembalikan. Ketika kemampuan bayarnya tidak ada, sang pemilik bisnis pertanian fiktif itu pun jadi buronan. Lalu diproses pengadilan dan menginaplah ia di hotel prodeo. Masyarakat yang kena tipu ternyata banyak sekali. Koq bisa ya?
Saudara, itulah lima pola pikir tentang utang yang bisa membuat anda menjadi kaya. Gantilah file-file buruk tentang utang di benak anda dengan lima file baik tersebut. Bila ini sudah anda lakukan, berarti anda sudah siap menggunakan utang sebagai alat meraih kekayaan. Langkah selanjutnya, anda harus mengetahui dan menguasai keterampilan mengelola utang ini.
Senin, 03 Juni 2013
7 Resolusi Keuangan Bagi Orangtua
Setiap tahunnya, pasti ada saja kebutuhan anak yang harus dipenuhi, entah biaya masuk sekolah, membeli perlengkapannya, atau liburan bersama anak. Agar kondisi keuangan tak berantakan, ada beberapa resolusi keuangan yang harus dibuat oleh orangtua.
1. Siapkan dana darurat
Setiap orang pasti sudah menyadari pentingnya dana darurat. Dana cadangan ini bisa menjadi penyelamat di saat Anda mengalami masalah keuangan yang terduga. Jika Anda masih memiliki tanggungan keuangan untuk membiayai keluarga (misalnya adik yang masih sekolah), maka dana darurat bisa jadi solusi untuk masalah keuangan Anda. Jadi, mulailah untuk menyisihkan sedikit pendapatan Anda untuk dana cadangan. Sehingga, saat si kecil tiba-tiba sakit, Anda tak kebingungan membayar ongkos perawatannya.
2. Jangan habiskan banyak uang untuk satu "event"
Karena ingin menyenangkan anak dan mengekspresikan rasa bangga atas keberhasilan anak, Anda seringkali mengadakan pesta atau rencana liburan dengan cara yang berlebihan. Berlibur, pernikahan, ulang tahun, atau merayakan kelulusan, bisa menghabiskan banyak uang. Bukannya tak boleh merayakan keberhasilan anak, tapi sebaiknya rayakan saja dengan sederhana. Selain bisa menghemat pengeluaran, suasananya pun bisa dibuat lebih hangat.
Untuk menyiapkan berbagai perayaan tersebut, buat perencanaan biaya masing-masing acara. Cara ini akan membantu Anda untuk mengalokasikan keuangan Anda dengan lebih cermat.
3. Belanja lebih bijak
Setiap orangtua, terutama ibu, pasti sudah punya anggaran khusus untuk belanja bulanan. Pada saat itu, tak ada salahnya untuk memanjakan diri sendiri dan keluarga dengan membeli barang-barang baru. Tetapi akan lebih baik jika Anda belanja dengan lebih bijak dan membeli barang yang benar-benar dibutuhkan. Untuk menghemat belanjaan Anda, manfaatkan program promo atau sale yang sering digelar di hipermarket atau department store.
4. Rutin mengecek anggaran
Sekalipun sudah direncanakan dengan rapi, rencana anggaran masih bisa berubah karena berbagai keperluan mendadak. Jangan abaikan perubahan kondisi keuangan sekecil apapun, karena perubahan kecil tetap akan memengaruhi keseluruhan rencana Anda. Sering-seringlah mengecek kondisi keuangan Anda. Hal ini berguna untuk menstabilkan kondisi keuangan dan menyusun kembali budget jika terjadi beberapa perubahan.
5. Investasikan pendidikan anak
Saat memiliki anak, Anda juga harus memikirkan rencana pendidikannya sampai lulus kuliah. Biaya pendidikan tidak murah dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan antara tahun 2008-2010 biaya pendidikan meningkat sampai 15 persen sampai lulus kuliah. Untuk menyiasati kenaikan biaya pendidikan, sebaiknya Anda mulai mencicilnya. Anda bisa menabung atau menginvestasikan biaya pendidikan anak dalam berbagai cara.
6. Jujur tentang kondisi keuangan pada keluarga
Menurut penelitian berjudul Parents, Kids & Money Survey oleh T. Rowe Price, 77 persen orangtua tidak pernah jujur tentang kondisi keuangan keluarga kepada anak-anak mereka. Padahal, anak-anak selalu belajar mengelola uang dengan mencontoh orang tuanya. Belajarlah untuk bicara jujur pada anak-anak tentang kondisi keuangan yang dihadapi. Jangan pernah berpikir bahwa anak masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah semacam itu. Anda bisa kok, menyampaikannya dengan cara yang sederhana agar mereka lebih paham cara mengatur uang dengan tepat saat dewasa.
7. Prioritaskan keluarga
Jika tahun lalu Anda lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, tahun ini luangkan waktu lebih banyak untuk keluarga Anda. Buatlah beragam kegiatan menarik untuk keluarga, misalnya makan malam bersama di rumah, berolahraga bersama, dan lain-lain. Selain membantu Anda lebih dekat dengan keluarga, cara ini juga bisa membantu Anda memangkas pengeluaran. Dengan sering makan bersama di rumah, Anda bisa menghemat uang makan di luar rumah. Olahraga bersama di hari Minggu, bisa membuat Anda lebih sehat sekaligus memangkas biaya listrik karena anak-anak jadi jarang nonton televisi atau bermain video game.
1. Siapkan dana darurat
Setiap orang pasti sudah menyadari pentingnya dana darurat. Dana cadangan ini bisa menjadi penyelamat di saat Anda mengalami masalah keuangan yang terduga. Jika Anda masih memiliki tanggungan keuangan untuk membiayai keluarga (misalnya adik yang masih sekolah), maka dana darurat bisa jadi solusi untuk masalah keuangan Anda. Jadi, mulailah untuk menyisihkan sedikit pendapatan Anda untuk dana cadangan. Sehingga, saat si kecil tiba-tiba sakit, Anda tak kebingungan membayar ongkos perawatannya.
2. Jangan habiskan banyak uang untuk satu "event"
Karena ingin menyenangkan anak dan mengekspresikan rasa bangga atas keberhasilan anak, Anda seringkali mengadakan pesta atau rencana liburan dengan cara yang berlebihan. Berlibur, pernikahan, ulang tahun, atau merayakan kelulusan, bisa menghabiskan banyak uang. Bukannya tak boleh merayakan keberhasilan anak, tapi sebaiknya rayakan saja dengan sederhana. Selain bisa menghemat pengeluaran, suasananya pun bisa dibuat lebih hangat.
Untuk menyiapkan berbagai perayaan tersebut, buat perencanaan biaya masing-masing acara. Cara ini akan membantu Anda untuk mengalokasikan keuangan Anda dengan lebih cermat.
3. Belanja lebih bijak
Setiap orangtua, terutama ibu, pasti sudah punya anggaran khusus untuk belanja bulanan. Pada saat itu, tak ada salahnya untuk memanjakan diri sendiri dan keluarga dengan membeli barang-barang baru. Tetapi akan lebih baik jika Anda belanja dengan lebih bijak dan membeli barang yang benar-benar dibutuhkan. Untuk menghemat belanjaan Anda, manfaatkan program promo atau sale yang sering digelar di hipermarket atau department store.
4. Rutin mengecek anggaran
Sekalipun sudah direncanakan dengan rapi, rencana anggaran masih bisa berubah karena berbagai keperluan mendadak. Jangan abaikan perubahan kondisi keuangan sekecil apapun, karena perubahan kecil tetap akan memengaruhi keseluruhan rencana Anda. Sering-seringlah mengecek kondisi keuangan Anda. Hal ini berguna untuk menstabilkan kondisi keuangan dan menyusun kembali budget jika terjadi beberapa perubahan.
5. Investasikan pendidikan anak
Saat memiliki anak, Anda juga harus memikirkan rencana pendidikannya sampai lulus kuliah. Biaya pendidikan tidak murah dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan antara tahun 2008-2010 biaya pendidikan meningkat sampai 15 persen sampai lulus kuliah. Untuk menyiasati kenaikan biaya pendidikan, sebaiknya Anda mulai mencicilnya. Anda bisa menabung atau menginvestasikan biaya pendidikan anak dalam berbagai cara.
6. Jujur tentang kondisi keuangan pada keluarga
Menurut penelitian berjudul Parents, Kids & Money Survey oleh T. Rowe Price, 77 persen orangtua tidak pernah jujur tentang kondisi keuangan keluarga kepada anak-anak mereka. Padahal, anak-anak selalu belajar mengelola uang dengan mencontoh orang tuanya. Belajarlah untuk bicara jujur pada anak-anak tentang kondisi keuangan yang dihadapi. Jangan pernah berpikir bahwa anak masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah semacam itu. Anda bisa kok, menyampaikannya dengan cara yang sederhana agar mereka lebih paham cara mengatur uang dengan tepat saat dewasa.
7. Prioritaskan keluarga
Jika tahun lalu Anda lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, tahun ini luangkan waktu lebih banyak untuk keluarga Anda. Buatlah beragam kegiatan menarik untuk keluarga, misalnya makan malam bersama di rumah, berolahraga bersama, dan lain-lain. Selain membantu Anda lebih dekat dengan keluarga, cara ini juga bisa membantu Anda memangkas pengeluaran. Dengan sering makan bersama di rumah, Anda bisa menghemat uang makan di luar rumah. Olahraga bersama di hari Minggu, bisa membuat Anda lebih sehat sekaligus memangkas biaya listrik karena anak-anak jadi jarang nonton televisi atau bermain video game.
3 Cara Utang Merusak Masa Pensiun
Bicara keuangan, utang menjadi faktor penghambat utama dari semua rencana finansial yang Anda persiapkan, termasuk rencana masa pensiun. Menurut perencana keuangan Jeff Rose, utang menghancurkan rencana pensiun Anda dengan tiga cara:
1. Utang menunda pensiun.
Jangan harap bisa merencanakan pensiun apalagi pensiun dini jika Anda masih terlilit utang. Artinya, jika masih banyak utang yang harus Anda bayarkan, bagaimana mau pensiun? Yang ada, Anda harus merivisi kembali rencana pensiun.
Untuk membayar utang butuh penghasilan rutin, artinya Anda masih harus bekerja. Semakin besar utang, Anda bahkan harus bekerja di usia saat Anda semestinya sudah pensiun.
Jika tak ingin menunda pensiun, segera kelola utang Anda. Buat perencanaan matang untuk membayar semua utang Anda, tanpa harus menunda rencana pensiun. Semakin sedikit jumlah utang yang harus dibayarkan, semakin cepat Anda bisa pensiun.
Sebaliknya, semakin lama menunda pensiun (karena masih banyak utang belum terbayar), semakin besar kemungkinan kesehatan menurun dan semakin sedikit waktu yang bisa Anda gunakan menikmati masa pensiun.
2. Utang membatasi pilihan pensiun.
Hal apa yang ingin Anda lakukan di masa pensiun, setelah bekerja keras sekian tahun dengan apa pun profesi Anda? Utang membuat semua impian masa pensiun buyar, atau setidaknya pilihannya semakin sempit. Tanpa berutang, Anda memiliki lebih banyak pilihan menikmati masa pensiun karena kesediaan dana yang Anda punya.
Ketika Anda punya utang cicilan mobil, kartu kredit, atau apa pun yang Anda dapatkan dengan berutang, Anda berkewajiban membayarnya. Padahal, uang untuk membayar utang ini bisa Anda gunakan untuk mewujudkan berbagai impian Anda di masa mendatang, entah traveling atau melakukan perjalanan ibadah misalnya.
Utang membuat pilihan finansial Anda terbatas. Anda tidak bisa hidup sesuai keinginan, membatasi atau bahkan tak bisa travel sesuka hari, bahkan kesulitan menjalani hobi. Pasalnya, uang yang Anda hasilkan dari bekerja pindah ke "kantong orang lain" yang memberikan Anda utang, ditambah lagi Anda harus membayar bunga utang.
Karenanya pastikan utang Anda sudah lunas menjelang masa pensiun, agar masih ada dana yang bisa Anda gunakan untuk menikmati hasil kerja keras Anda di waktu yang sudah Anda rencanakan nanti. Selain juga kurangi utang dan jangan pernah menambahnya lagi, perhitungkan batas waktu pelunasan agar lebih leluasa memilih kegiatan di masa pensiun nanti.
3. Utang membuat Anda tak menikmati pensiun.
Utang jelas membebani pikiran. Jika Anda tak segera merencanakan pengelolaan utang dan pelunasannya, hanya beban pikiran yang tersisa dan menghantui selama masa pensiun. Anda punya uang namun masih harus berkewajiban membayar semua utang.
Jika Anda memutuskan pensiun sebelum melunasi utang, Anda pun akan merasa terjebak dan cemas dengan masa depan. Persoalan semacam ini bisa memicu kecemasan dan gangguan kesehatan. Kesehatan menurun sama dengan peningkatan biaya. Kondisi keuangan pun lebih parah jadinya.
Jika semua hal ini terjadi, dampaknya semakin luas termasuk mengganggu hubungan berpasangan. Masa pensiun yang semestinya menyenangkan, menikmati waktu luang dengan sehat dan bahagia bersama pasangan, dengan kondisi keuangan stabil dan terkontrol, tak didapat karena banyak utang yang terkumpul selama Anda masih bekerja dan produktif.
1. Utang menunda pensiun.
Jangan harap bisa merencanakan pensiun apalagi pensiun dini jika Anda masih terlilit utang. Artinya, jika masih banyak utang yang harus Anda bayarkan, bagaimana mau pensiun? Yang ada, Anda harus merivisi kembali rencana pensiun.
Untuk membayar utang butuh penghasilan rutin, artinya Anda masih harus bekerja. Semakin besar utang, Anda bahkan harus bekerja di usia saat Anda semestinya sudah pensiun.
Jika tak ingin menunda pensiun, segera kelola utang Anda. Buat perencanaan matang untuk membayar semua utang Anda, tanpa harus menunda rencana pensiun. Semakin sedikit jumlah utang yang harus dibayarkan, semakin cepat Anda bisa pensiun.
Sebaliknya, semakin lama menunda pensiun (karena masih banyak utang belum terbayar), semakin besar kemungkinan kesehatan menurun dan semakin sedikit waktu yang bisa Anda gunakan menikmati masa pensiun.
2. Utang membatasi pilihan pensiun.
Hal apa yang ingin Anda lakukan di masa pensiun, setelah bekerja keras sekian tahun dengan apa pun profesi Anda? Utang membuat semua impian masa pensiun buyar, atau setidaknya pilihannya semakin sempit. Tanpa berutang, Anda memiliki lebih banyak pilihan menikmati masa pensiun karena kesediaan dana yang Anda punya.
Ketika Anda punya utang cicilan mobil, kartu kredit, atau apa pun yang Anda dapatkan dengan berutang, Anda berkewajiban membayarnya. Padahal, uang untuk membayar utang ini bisa Anda gunakan untuk mewujudkan berbagai impian Anda di masa mendatang, entah traveling atau melakukan perjalanan ibadah misalnya.
Utang membuat pilihan finansial Anda terbatas. Anda tidak bisa hidup sesuai keinginan, membatasi atau bahkan tak bisa travel sesuka hari, bahkan kesulitan menjalani hobi. Pasalnya, uang yang Anda hasilkan dari bekerja pindah ke "kantong orang lain" yang memberikan Anda utang, ditambah lagi Anda harus membayar bunga utang.
Karenanya pastikan utang Anda sudah lunas menjelang masa pensiun, agar masih ada dana yang bisa Anda gunakan untuk menikmati hasil kerja keras Anda di waktu yang sudah Anda rencanakan nanti. Selain juga kurangi utang dan jangan pernah menambahnya lagi, perhitungkan batas waktu pelunasan agar lebih leluasa memilih kegiatan di masa pensiun nanti.
3. Utang membuat Anda tak menikmati pensiun.
Utang jelas membebani pikiran. Jika Anda tak segera merencanakan pengelolaan utang dan pelunasannya, hanya beban pikiran yang tersisa dan menghantui selama masa pensiun. Anda punya uang namun masih harus berkewajiban membayar semua utang.
Jika Anda memutuskan pensiun sebelum melunasi utang, Anda pun akan merasa terjebak dan cemas dengan masa depan. Persoalan semacam ini bisa memicu kecemasan dan gangguan kesehatan. Kesehatan menurun sama dengan peningkatan biaya. Kondisi keuangan pun lebih parah jadinya.
Jika semua hal ini terjadi, dampaknya semakin luas termasuk mengganggu hubungan berpasangan. Masa pensiun yang semestinya menyenangkan, menikmati waktu luang dengan sehat dan bahagia bersama pasangan, dengan kondisi keuangan stabil dan terkontrol, tak didapat karena banyak utang yang terkumpul selama Anda masih bekerja dan produktif.
Menghitung Biaya "Baik" dan Biaya "Jahat"
Bagaimana perilaku Anda dalam mengelola keuangan? Bagaimana sikap Anda dalam hal pengeluaran alias biaya? Apakah selama ini Anda peduli bahwa biaya pun bisa dipilah menjadi biaya baik dan biaya jahat?
Dalam realitasnya, tidak semua biaya bisa disebut jahat, dan juga tidak semua biaya adalah baik. Hakikatnya, biaya baik adalah ketika biaya tersebut dikeluarkan maka akan ada imbas produktivitas, baik secara finansial maupun non-finansial, namun ujung-ujungnya juga bisa memberikan hasil secara finansial. Bagaimana konkretnya?
Yang pertama dan utama adalah memahami anggaran pribadi Anda. Nah, selama ini berapa persen dari pendapatan Anda yang dipakai untuk membiayai pengeluaran? 50 persen? 70 persen? Atau malah di atas 100 persen? Jangan heran, ada juga kalangan yang pengeluarannya melebihi pendapatan per bulannya. Dengan kata lain, kalangan ini hidup dalam dunia ”gali lubang tutup lubang”.
Nah, yang dimaksud dengan memahami anggaran adalah, pastikan bahwa pendapatan Anda setiap bulan masih surplus. Terserah mau surplus berapa persen. Yang penting tetap surplus. Jika sudah demikian, maka langkah berikutnya adalah menelaah komponen pengeluaran. Di sinilah baru bisa diketahui mana pengeluaran alias biaya baik, dan mana pula biaya jahat. Seperti diutarakan di atas, biaya baik adalah ketika biaya tersebut bisa memberikan dampak produktivitas dan juga peningkatan aset Anda. Contoh yang paling sederhana adalah membayar angsuran rumah, di mana rumah tersebut untuk disewakan atau ditempati sendiri.
Biaya jahat
Bagaimana dengan biaya jahat? Masih dalam konteks rumah. Meskipun biaya yang Anda keluarkan adalah untuk membeli rumah, kalau rumah tersebut Anda diamkan saja, Anda malah mengeluarkan biaya dua kali. Yang pertama untuk mengangsur, yang kedua untuk merawat rumah.
Seperti sebuah gelas berisi separuh air. Anda bisa mengatakan bahwa gelas tersebut ”setengah kosong” dan ”setengah penuh”. Jika falsafah yang Anda anut adalah harta seperti gelas ”setengah kosong”, setiap biaya yang Anda keluarkan bisa berdampak menguras air dalam gelas. Artinya, harta Anda akan berkurang karena biaya yang Anda keluarkan tidak memberi implikasi terhadap bertambahnya harta.
Hal sebaliknya akan terjadi jika Anda menganggap harta yang Anda miliki saat ini berkategori gelas ”setengah penuh”. Maknanya, setiap biaya yang Anda keluarkan akan menjadi biaya baik karena bisa berpengaruh untuk menaikkan harta Anda. Contohnya adalah pembayaran angsuran rumah yang peruntukannya untuk disewa atau ditempati.
Selanjutnya adalah bagaimana mengorganisasi pengeluaran sehingga biaya baik bisa lebih banyak ketimbang biaya jahat. Ini dilakukan dengan memahami bahwa pengeluaran itu bisa dibagi untuk beberapa peruntukan, yakni untuk memenuhi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer dalam hal ini adalah pangan, sandang, dan papan. Sementara kebutuhan sekunder dan tersier adalah keinginan untuk hidup lebih nyaman dengan terpenuhinya berbagai keinginan, misalnya rekreasi, nonton film, dan hobi.
Tidak ada yang keliru dengan semua itu. Dan semestinya, negara mampu membuat rakyatnya paling tidak memenuhi kebutuhan primernya. Jadi, yang kita telaah lebih lanjut adalah bagaimana mengatur biaya untuk memenuhi kebutuhan primer itu saja, yakni pangan, sandang, dan papan.
Soal papan, sudah dibahas di atas. Bagaimana dengan pangan dan sandang? Di sinilah sering kali terjadi pergeseran makna antara kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder atau tersier.
Ketika seseorang makan di restoran mahal, misalnya, itu sebenarnya bukanlah kebutuhan primer, dan bukan pula kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan tersier. Kebutuhan primernya adalah bisa makan dengan layak. Kebutuhan sekundernya adalah apa yang mau dimakan. Kebutuhan tersiernya adalah mau makan di mana?
Silakan cek perilaku Anda dalam pengeluaran biaya untuk pemenuhan kebutuhan ”pangan” tersebut. Berapa persen sebenarnya pengeluaran Anda yang terpakai untuk membiayai kebutuhan ”pangan” dalam makna kebutuhan primer, dan berapa persen untuk pemenuhan keinginan atas kebutuhan sekunder dan tersier.
Menghitung biaya
Bagaimana menghitungnya? Sederhana. Jika Anda makan nasi dan lauk dalam arti kebutuhan yang harus dipenuhi oleh semua orang adalah sekitar Rp 20.000 per porsi, sementara Anda mengeluarkan biaya sebesar Rp 100.000 per porsi karena makan di restoran, sesungguhnya yang Rp 20.000 merupakan biaya baik, sementara yang Rp 80.000 adalah biaya jahat. Anda menjadi konsumtif bukan untuk hal yang primer, melainkan untuk hal yang sekunder dan tersier.
Lantas hitung juga, berapa jumlah pengeluaran yang seolah-olah primer padahal bukan primer selama sebulan. Dengan contoh di atas, yang mestinya pengeluaran per hari hanya sebesar Rp 60.000, naik menjadi Rp 300.000. Bayangkan jika Anda bisa menghemat 50 persen-nya saja, itu berarti ada Rp 150.000 per hari atau Rp 4,5 juta biaya jahat yang bisa Anda hilangkan dan kemudian Anda pergunakan untuk membiayai aktivitas lain yang ujung-ujungnya bisa meningkatkan harta Anda.
Tentu masih banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, di mana banyak kalangan tidak menyadari bahwa sebagian biaya jahat sebenarnya bisa dihindari untuk kemudian dikonversi menjadi biaya baik, yang memberi da
Dalam realitasnya, tidak semua biaya bisa disebut jahat, dan juga tidak semua biaya adalah baik. Hakikatnya, biaya baik adalah ketika biaya tersebut dikeluarkan maka akan ada imbas produktivitas, baik secara finansial maupun non-finansial, namun ujung-ujungnya juga bisa memberikan hasil secara finansial. Bagaimana konkretnya?
Yang pertama dan utama adalah memahami anggaran pribadi Anda. Nah, selama ini berapa persen dari pendapatan Anda yang dipakai untuk membiayai pengeluaran? 50 persen? 70 persen? Atau malah di atas 100 persen? Jangan heran, ada juga kalangan yang pengeluarannya melebihi pendapatan per bulannya. Dengan kata lain, kalangan ini hidup dalam dunia ”gali lubang tutup lubang”.
Nah, yang dimaksud dengan memahami anggaran adalah, pastikan bahwa pendapatan Anda setiap bulan masih surplus. Terserah mau surplus berapa persen. Yang penting tetap surplus. Jika sudah demikian, maka langkah berikutnya adalah menelaah komponen pengeluaran. Di sinilah baru bisa diketahui mana pengeluaran alias biaya baik, dan mana pula biaya jahat. Seperti diutarakan di atas, biaya baik adalah ketika biaya tersebut bisa memberikan dampak produktivitas dan juga peningkatan aset Anda. Contoh yang paling sederhana adalah membayar angsuran rumah, di mana rumah tersebut untuk disewakan atau ditempati sendiri.
Biaya jahat
Bagaimana dengan biaya jahat? Masih dalam konteks rumah. Meskipun biaya yang Anda keluarkan adalah untuk membeli rumah, kalau rumah tersebut Anda diamkan saja, Anda malah mengeluarkan biaya dua kali. Yang pertama untuk mengangsur, yang kedua untuk merawat rumah.
Seperti sebuah gelas berisi separuh air. Anda bisa mengatakan bahwa gelas tersebut ”setengah kosong” dan ”setengah penuh”. Jika falsafah yang Anda anut adalah harta seperti gelas ”setengah kosong”, setiap biaya yang Anda keluarkan bisa berdampak menguras air dalam gelas. Artinya, harta Anda akan berkurang karena biaya yang Anda keluarkan tidak memberi implikasi terhadap bertambahnya harta.
Hal sebaliknya akan terjadi jika Anda menganggap harta yang Anda miliki saat ini berkategori gelas ”setengah penuh”. Maknanya, setiap biaya yang Anda keluarkan akan menjadi biaya baik karena bisa berpengaruh untuk menaikkan harta Anda. Contohnya adalah pembayaran angsuran rumah yang peruntukannya untuk disewa atau ditempati.
Selanjutnya adalah bagaimana mengorganisasi pengeluaran sehingga biaya baik bisa lebih banyak ketimbang biaya jahat. Ini dilakukan dengan memahami bahwa pengeluaran itu bisa dibagi untuk beberapa peruntukan, yakni untuk memenuhi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer dalam hal ini adalah pangan, sandang, dan papan. Sementara kebutuhan sekunder dan tersier adalah keinginan untuk hidup lebih nyaman dengan terpenuhinya berbagai keinginan, misalnya rekreasi, nonton film, dan hobi.
Tidak ada yang keliru dengan semua itu. Dan semestinya, negara mampu membuat rakyatnya paling tidak memenuhi kebutuhan primernya. Jadi, yang kita telaah lebih lanjut adalah bagaimana mengatur biaya untuk memenuhi kebutuhan primer itu saja, yakni pangan, sandang, dan papan.
Soal papan, sudah dibahas di atas. Bagaimana dengan pangan dan sandang? Di sinilah sering kali terjadi pergeseran makna antara kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder atau tersier.
Ketika seseorang makan di restoran mahal, misalnya, itu sebenarnya bukanlah kebutuhan primer, dan bukan pula kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan tersier. Kebutuhan primernya adalah bisa makan dengan layak. Kebutuhan sekundernya adalah apa yang mau dimakan. Kebutuhan tersiernya adalah mau makan di mana?
Silakan cek perilaku Anda dalam pengeluaran biaya untuk pemenuhan kebutuhan ”pangan” tersebut. Berapa persen sebenarnya pengeluaran Anda yang terpakai untuk membiayai kebutuhan ”pangan” dalam makna kebutuhan primer, dan berapa persen untuk pemenuhan keinginan atas kebutuhan sekunder dan tersier.
Menghitung biaya
Bagaimana menghitungnya? Sederhana. Jika Anda makan nasi dan lauk dalam arti kebutuhan yang harus dipenuhi oleh semua orang adalah sekitar Rp 20.000 per porsi, sementara Anda mengeluarkan biaya sebesar Rp 100.000 per porsi karena makan di restoran, sesungguhnya yang Rp 20.000 merupakan biaya baik, sementara yang Rp 80.000 adalah biaya jahat. Anda menjadi konsumtif bukan untuk hal yang primer, melainkan untuk hal yang sekunder dan tersier.
Lantas hitung juga, berapa jumlah pengeluaran yang seolah-olah primer padahal bukan primer selama sebulan. Dengan contoh di atas, yang mestinya pengeluaran per hari hanya sebesar Rp 60.000, naik menjadi Rp 300.000. Bayangkan jika Anda bisa menghemat 50 persen-nya saja, itu berarti ada Rp 150.000 per hari atau Rp 4,5 juta biaya jahat yang bisa Anda hilangkan dan kemudian Anda pergunakan untuk membiayai aktivitas lain yang ujung-ujungnya bisa meningkatkan harta Anda.
Tentu masih banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, di mana banyak kalangan tidak menyadari bahwa sebagian biaya jahat sebenarnya bisa dihindari untuk kemudian dikonversi menjadi biaya baik, yang memberi da
Tipe Kepribadian dalam Mengelola Uang
Rasanya, gaji Anda bulan ini selalu minus sebelum akhir bulan. Akibatnya, Anda harus "mengais-ngais" sisa saldo rekening. Kenapa sih, kok susah banget mengatur rencana keuangan sementara teman Anda masih bisa menabung setiap bulan?
Perencana keuangan yang juga penulis buku Financial Freedom: Seven Secrets to Reduce Financial Worry, Ray Linder, mengungkapkan kemahiran seseorang dalam mengatur keuangan dipengaruhi oleh kepribadiannya. Linder membagi empat tipe kepribadian dalam mengelola keuangan, yaitu Protectors, Planners, Pleasers, dan Players.
1. "Protectors" (Si Penjaga)
Jumlah orang bertipe Protector adalah 38 persen dari seluruh populasi. "Orang dengan tipe kepribadian seorang Protector akan sangat konservatif menjaga uangnya. Mereka sangat memikirkan masa depan mereka," ungkap Linder. Jika sudah mengetahui kualitas suatu barang, tipe Protector selalu berbelanja pada toko dan merek yang sama.
Mereka tipikal orang yang sangat berhati-hati saat merencanakan pemasukan dan pengeluaran. Sepintas memang terkesan ideal dalam mengatur keuangan, namun sebenarnya tidak. Mereka cenderung bersikap ekstrim mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dibeli. "Mereka sulit melepaskan imajinasi akan masa depan yang sempurna. Ini akan membuat mereka jadi sulit untuk sedikit menikmati kehidupan sekarang, termasuk menjadwalkan liburan," tambahnya.
Saking hematnya, seringkali Protector dianggap sebagai orang yang pelit. Ini menunjukkan, sikap over protected terhadap keuangan juga akan menimbulkan masalah, yang bisa mengancam kehidupan perkawinan. Mereka cenderung mengalami kesulitan dalam mengantisipasi perubahan, dan kadang membuat keputusan yang salah pada saat-saat seperti itu.
2. "Planners" (Si Perencana)
Karakteristik orang-orang ini hampir mirip dengan karakter Protector. Perbedaannya, "Orang dengan karakteristik ini cenderung melakukan investasi jangka panjang, dan mereka lebih mampu mengambil risiko dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada," jelasnya.
Namun, Linder mengungkapkan tipe Planners yang jumlahnya 12 persen dari seluruh populasi ini juga punya kelemahan. Salah satunya adalah terlalu berpaku pada perencanaan keuangan jangka panjang, dan ingin tahu secara mendetail apa yang bisa ia dapatkan setiap hari. Ia begitu fokus pada masa depan sehingga cenderung melewatkan peluang yang bisa didapatkan hari ini. Tak ada salahnya kok, si Planner ini membuat investasi jangka panjang, dan membuat tabungan lain untuk menyimpan uang "hura-hura".
3. "Pleasers" (Si Pencari Kesenangan)
Orang-orang ini memiliki karakteristik gemar berbelanja dan menikmati hidup. "Cara mereka menghabiskan uang adalah cara mengekspresikan identitas mereka," jelas Linder.
Karakter ini sebenarnya mendekati pola hidup yang menyenangkan. Apalagi orang-orang berkarakter ini tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga memerhatikan kebutuhan orang lain. Tak salah jika mereka disebut sebagai golongan orang yang peduli.
Sayangnya, seringkali mereka berbelanja tanpa perhitungan dan cenderung boros. Selain itu, sifat mereka yang suka menyenangkan orang lain akan dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitar mereka. "Karena sifatnya yang peduli ini mereka akan menempatkan kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan sendiri," ungkap Linder. Menurutnya, tipe Pleasers yang suka bersenang-senang karena merasa diri punya uang harus lebih rutin menabung dan menghitung pengeluaran.
4. "Players" (Si Pemain)
Karakteristik ini ditandai dengan kecenderungan menjadi orang yang kompulsif dan tak berpikir jangka panjang. Dalam mengatur keuangan mereka cenderung berani mengambil risiko. Mereka tidak khawatir saat harus berinvestasi jangka panjang, sekalipun sering gagal. Mereka memang lebih memikirkan kesenangan saat harus "bermain" dengan uang mereka.
Tak salah memang mengambil risiko dalam berinvestasi dan mengatur rencana keuangan. Hanya saja jangan terlalu sering bermain-main. Anda juga harus serius saat merencanakan keuangan agar lebih terkontrol.
Perencana keuangan yang juga penulis buku Financial Freedom: Seven Secrets to Reduce Financial Worry, Ray Linder, mengungkapkan kemahiran seseorang dalam mengatur keuangan dipengaruhi oleh kepribadiannya. Linder membagi empat tipe kepribadian dalam mengelola keuangan, yaitu Protectors, Planners, Pleasers, dan Players.
1. "Protectors" (Si Penjaga)
Jumlah orang bertipe Protector adalah 38 persen dari seluruh populasi. "Orang dengan tipe kepribadian seorang Protector akan sangat konservatif menjaga uangnya. Mereka sangat memikirkan masa depan mereka," ungkap Linder. Jika sudah mengetahui kualitas suatu barang, tipe Protector selalu berbelanja pada toko dan merek yang sama.
Mereka tipikal orang yang sangat berhati-hati saat merencanakan pemasukan dan pengeluaran. Sepintas memang terkesan ideal dalam mengatur keuangan, namun sebenarnya tidak. Mereka cenderung bersikap ekstrim mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dibeli. "Mereka sulit melepaskan imajinasi akan masa depan yang sempurna. Ini akan membuat mereka jadi sulit untuk sedikit menikmati kehidupan sekarang, termasuk menjadwalkan liburan," tambahnya.
Saking hematnya, seringkali Protector dianggap sebagai orang yang pelit. Ini menunjukkan, sikap over protected terhadap keuangan juga akan menimbulkan masalah, yang bisa mengancam kehidupan perkawinan. Mereka cenderung mengalami kesulitan dalam mengantisipasi perubahan, dan kadang membuat keputusan yang salah pada saat-saat seperti itu.
2. "Planners" (Si Perencana)
Karakteristik orang-orang ini hampir mirip dengan karakter Protector. Perbedaannya, "Orang dengan karakteristik ini cenderung melakukan investasi jangka panjang, dan mereka lebih mampu mengambil risiko dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada," jelasnya.
Namun, Linder mengungkapkan tipe Planners yang jumlahnya 12 persen dari seluruh populasi ini juga punya kelemahan. Salah satunya adalah terlalu berpaku pada perencanaan keuangan jangka panjang, dan ingin tahu secara mendetail apa yang bisa ia dapatkan setiap hari. Ia begitu fokus pada masa depan sehingga cenderung melewatkan peluang yang bisa didapatkan hari ini. Tak ada salahnya kok, si Planner ini membuat investasi jangka panjang, dan membuat tabungan lain untuk menyimpan uang "hura-hura".
3. "Pleasers" (Si Pencari Kesenangan)
Orang-orang ini memiliki karakteristik gemar berbelanja dan menikmati hidup. "Cara mereka menghabiskan uang adalah cara mengekspresikan identitas mereka," jelas Linder.
Karakter ini sebenarnya mendekati pola hidup yang menyenangkan. Apalagi orang-orang berkarakter ini tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga memerhatikan kebutuhan orang lain. Tak salah jika mereka disebut sebagai golongan orang yang peduli.
Sayangnya, seringkali mereka berbelanja tanpa perhitungan dan cenderung boros. Selain itu, sifat mereka yang suka menyenangkan orang lain akan dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitar mereka. "Karena sifatnya yang peduli ini mereka akan menempatkan kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan sendiri," ungkap Linder. Menurutnya, tipe Pleasers yang suka bersenang-senang karena merasa diri punya uang harus lebih rutin menabung dan menghitung pengeluaran.
4. "Players" (Si Pemain)
Karakteristik ini ditandai dengan kecenderungan menjadi orang yang kompulsif dan tak berpikir jangka panjang. Dalam mengatur keuangan mereka cenderung berani mengambil risiko. Mereka tidak khawatir saat harus berinvestasi jangka panjang, sekalipun sering gagal. Mereka memang lebih memikirkan kesenangan saat harus "bermain" dengan uang mereka.
Tak salah memang mengambil risiko dalam berinvestasi dan mengatur rencana keuangan. Hanya saja jangan terlalu sering bermain-main. Anda juga harus serius saat merencanakan keuangan agar lebih terkontrol.
3 Langkah Membuat Rencana Investasi
Tahun 2013 sudah memasuki bulan kedua. Apakah Anda sudah mengimplementasikan rencana yang dirancang sejak tahun silam? Apakah pada bulan Januari kemarin sudah ada hal-hal baru dalam investasi yang Anda lakukan? Atau portofolio investasi Anda masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya?
Jawabannya bisa ”ya” bisa ”tidak”. Namun, kebanyakan investor individu sering kali tidak terlalu bernyali untuk mengubah pola investasinya kendati berdasarkan evaluasi, disadari bahwa investasi yang dilakukan mesti mengalami revisi. Kenapa demikian? Karena antara logika dan perasaan sering berpadu. Tatkala evaluasi dilakukan, maka segala logika dikedepankan. Perasaan pasti kalah. Namun, ketika evaluasi sudah selesai dan rencana telah disusun, maka saat akan dilaksanakan, perasaan mulai bermain lagi.
Sering muncul pertanyaan, bagaimana jika asumsi yang telah disusun berbeda dengan fakta, dan lain sebagainya. Itu sebabnya, banyak investor individu belum melakukan perubahan apa-apa meski satu bulan pada tahun berjalan telah terlewati. Ironisnya, ketika waktu telah berjalan, portofolio investasi yang tidak berubah tetap berjalan seperti biasa, maka penyesalan akan muncul. Kenapa?
Portofolio saham misalnya. Lazim pada bulan Januari terjadi efek yang membuat sebagian harga saham meningkat. Namun, wind fall tidak dinikmati oleh semua investor karena memang tidak semua saham mengalami peningkatan harga. Dengan kata lain, jika portofolio saham Anda tidak termasuk saham yang mengalami peningkatan harga, Anda hanya menjadi penonton. Bahkan, saham di portofolio Anda mengalami penurunan harga. Oleh karena itu, rencana investasi yang sudah disusun tidak bisa dibiarkan hanya sebagai rencana. Lantas bagaimana baiknya?
Cek rencana
Cek kembali rencana yang telah disusun. Paling tidak di sana mestinya ada beberapa hal penting. Pertama, alokasi dana ke beberapa instrumen investasi. Misalnya, sekian persen di deposito berjangka, sekian persen di saham, sekian persen di reksa dana, dan lain sebagainya. Tentu dari alokasi itu ada yang berupa tambahan investasi baru dan ada pula yang sekadar pergeseran dari alokasi. Nah, berdasarkan alokasi investasi tersebut, Anda bisa memulai implementasi dari yang paling sederhana dan minim risiko. Apa itu?
Deposito berjangka. Jika Anda merencanakan untuk mengurangi alokasi investasi di deposito berjangka, maka ketika jatuh tempo jangan diperpanjang lagi. Dengan kata lain, Anda mesti segera menyiapkan relokasi dana deposito berjangka tersebut ke instrumen lain sesuai dengan rencana aksi yang telah dibuat.
Kedua, timing dalam implementasi. Apa maksudnya? Sederhana saja. Anda telah memiliki cash atau dana yang siap diinvestasikan yang berasal dari pencairan deposito berjangka. Lalu ke mana dana tersebut diprioritaskan? Pertanyaan ini penting mengingat Anda akan melakukan penambahan investasi di reksa dana dan atau saham dan atau investasi lainnya. Mana yang akan didahulukan? Jawabannya adalah bergantung timing.
Seorang investor yang berorientasi jangka panjang, atau minimal setahun, tentu telah mengevaluasi instrumen yang akan dibeli, termasuk dalam hal ini instrumen volatile seperti saham. Nah, timing dalam menentukan kapan membeli saham-saham yang telah diincar akan sangat memberi pengaruh terhadap keberhasilan ataupun kegagalan dalam investasi saham tersebut. Artinya, jangan memaksakan membeli ketika harga saham masih tinggi. Namun akan lebih tepat jika membeli saham-saham itu saat mengalami koreksi harga.
”Monitoring” dan evaluasi
Ketiga, monitoring dan evaluasi. Tatkala rencana aksi sudah diimplementasikan secara total, maka realitas dari investasi tersebut tentu mesti di-monitoring. Paling tidak dilakukan monitoring secara bulanan, bagaimana perkembangan investasi yang telah dilakukan. Monitoring bulanan bukan berarti harus dilakukan penyesuaian setiap bulan. Apalagi jika investasi tersebut dalam bentuk saham.
Up down dari harga saham adalah biasa karena ada berbagai trigger dalam pembentukan harga saham. Bisa karena faktor psikologis pasar, bisa pula memang karena fundamental dari emiten bersangkutan. Jika perubahan harga, menjadi turun misalnya, lebih didorong oleh psikologis pasar, tidak mesti Anda ikut-ikutan menjual saham tersebut. Bahkan ketika harga mengalami pelemahan, sementara Anda yakin betul bahwa fundamental saham tersebut cukup baik, maka Anda malah bisa masuk lagi ke saham tersebut. Toh horizon investasi Anda bukan bulanan, melainkan minimal untuk jangka waktu setahun.
Lantas apa pula yang dimaksud dengan evaluasi? Evaluasi adalah untuk membandingkan antara realitas yang terjadi dengan rencana dan juga dengan asumsi yang telah dibuat. Apakah ada perbedaan atau tidak. Jika penyimpangan dalam fakta terlalu jauh dibandingkan dengan asumsi, maka suka tidak suka, portofolio harus disesuaikan juga. Kelazimannya, penyimpangan yang bisa ditoleransi adalah sampai dengan 5 persen. Atau paling banyak 10 persen. Jika melebihi patokan tersebut, berarti memang ada yang keliru dengan asumsi yang dibuat sebelumnya.
Lantas kapan evaluasi tersebut dilakukan? Evaluasi yang menyeluruh bisa dilakukan per semester alias enam bulanan. Namun, evaluasi juga bisa dilakukan per tiga bulanan. Kalau dilakukan penyesuaian setelah tiga bulanan, sebaiknya hanya bersifat minor. Karena dalam tiga bulan, hakikatnya tidak terlalu banyak hal yang bisa dijadikan kesimpulan.
Kesimpulannya, rencana aksi adalah panduan dalam melakukan investasi. Tidak mungkin investasi bisa berjalan dengan baik jika tidak berdasarkan parameter atau tujuan-tujuan yang telah dirancang. Tidak perlu ada keraguan untuk mengimplementasikannya. Sebab, rencana aksi mestinya telah melalui analisis dan penggunaan logika. Jika terlambat mengimplementasikan rencana aksi tersebut, hasilnya bisa sangat berbeda.
Jawabannya bisa ”ya” bisa ”tidak”. Namun, kebanyakan investor individu sering kali tidak terlalu bernyali untuk mengubah pola investasinya kendati berdasarkan evaluasi, disadari bahwa investasi yang dilakukan mesti mengalami revisi. Kenapa demikian? Karena antara logika dan perasaan sering berpadu. Tatkala evaluasi dilakukan, maka segala logika dikedepankan. Perasaan pasti kalah. Namun, ketika evaluasi sudah selesai dan rencana telah disusun, maka saat akan dilaksanakan, perasaan mulai bermain lagi.
Sering muncul pertanyaan, bagaimana jika asumsi yang telah disusun berbeda dengan fakta, dan lain sebagainya. Itu sebabnya, banyak investor individu belum melakukan perubahan apa-apa meski satu bulan pada tahun berjalan telah terlewati. Ironisnya, ketika waktu telah berjalan, portofolio investasi yang tidak berubah tetap berjalan seperti biasa, maka penyesalan akan muncul. Kenapa?
Portofolio saham misalnya. Lazim pada bulan Januari terjadi efek yang membuat sebagian harga saham meningkat. Namun, wind fall tidak dinikmati oleh semua investor karena memang tidak semua saham mengalami peningkatan harga. Dengan kata lain, jika portofolio saham Anda tidak termasuk saham yang mengalami peningkatan harga, Anda hanya menjadi penonton. Bahkan, saham di portofolio Anda mengalami penurunan harga. Oleh karena itu, rencana investasi yang sudah disusun tidak bisa dibiarkan hanya sebagai rencana. Lantas bagaimana baiknya?
Cek rencana
Cek kembali rencana yang telah disusun. Paling tidak di sana mestinya ada beberapa hal penting. Pertama, alokasi dana ke beberapa instrumen investasi. Misalnya, sekian persen di deposito berjangka, sekian persen di saham, sekian persen di reksa dana, dan lain sebagainya. Tentu dari alokasi itu ada yang berupa tambahan investasi baru dan ada pula yang sekadar pergeseran dari alokasi. Nah, berdasarkan alokasi investasi tersebut, Anda bisa memulai implementasi dari yang paling sederhana dan minim risiko. Apa itu?
Deposito berjangka. Jika Anda merencanakan untuk mengurangi alokasi investasi di deposito berjangka, maka ketika jatuh tempo jangan diperpanjang lagi. Dengan kata lain, Anda mesti segera menyiapkan relokasi dana deposito berjangka tersebut ke instrumen lain sesuai dengan rencana aksi yang telah dibuat.
Kedua, timing dalam implementasi. Apa maksudnya? Sederhana saja. Anda telah memiliki cash atau dana yang siap diinvestasikan yang berasal dari pencairan deposito berjangka. Lalu ke mana dana tersebut diprioritaskan? Pertanyaan ini penting mengingat Anda akan melakukan penambahan investasi di reksa dana dan atau saham dan atau investasi lainnya. Mana yang akan didahulukan? Jawabannya adalah bergantung timing.
Seorang investor yang berorientasi jangka panjang, atau minimal setahun, tentu telah mengevaluasi instrumen yang akan dibeli, termasuk dalam hal ini instrumen volatile seperti saham. Nah, timing dalam menentukan kapan membeli saham-saham yang telah diincar akan sangat memberi pengaruh terhadap keberhasilan ataupun kegagalan dalam investasi saham tersebut. Artinya, jangan memaksakan membeli ketika harga saham masih tinggi. Namun akan lebih tepat jika membeli saham-saham itu saat mengalami koreksi harga.
”Monitoring” dan evaluasi
Ketiga, monitoring dan evaluasi. Tatkala rencana aksi sudah diimplementasikan secara total, maka realitas dari investasi tersebut tentu mesti di-monitoring. Paling tidak dilakukan monitoring secara bulanan, bagaimana perkembangan investasi yang telah dilakukan. Monitoring bulanan bukan berarti harus dilakukan penyesuaian setiap bulan. Apalagi jika investasi tersebut dalam bentuk saham.
Up down dari harga saham adalah biasa karena ada berbagai trigger dalam pembentukan harga saham. Bisa karena faktor psikologis pasar, bisa pula memang karena fundamental dari emiten bersangkutan. Jika perubahan harga, menjadi turun misalnya, lebih didorong oleh psikologis pasar, tidak mesti Anda ikut-ikutan menjual saham tersebut. Bahkan ketika harga mengalami pelemahan, sementara Anda yakin betul bahwa fundamental saham tersebut cukup baik, maka Anda malah bisa masuk lagi ke saham tersebut. Toh horizon investasi Anda bukan bulanan, melainkan minimal untuk jangka waktu setahun.
Lantas apa pula yang dimaksud dengan evaluasi? Evaluasi adalah untuk membandingkan antara realitas yang terjadi dengan rencana dan juga dengan asumsi yang telah dibuat. Apakah ada perbedaan atau tidak. Jika penyimpangan dalam fakta terlalu jauh dibandingkan dengan asumsi, maka suka tidak suka, portofolio harus disesuaikan juga. Kelazimannya, penyimpangan yang bisa ditoleransi adalah sampai dengan 5 persen. Atau paling banyak 10 persen. Jika melebihi patokan tersebut, berarti memang ada yang keliru dengan asumsi yang dibuat sebelumnya.
Lantas kapan evaluasi tersebut dilakukan? Evaluasi yang menyeluruh bisa dilakukan per semester alias enam bulanan. Namun, evaluasi juga bisa dilakukan per tiga bulanan. Kalau dilakukan penyesuaian setelah tiga bulanan, sebaiknya hanya bersifat minor. Karena dalam tiga bulan, hakikatnya tidak terlalu banyak hal yang bisa dijadikan kesimpulan.
Kesimpulannya, rencana aksi adalah panduan dalam melakukan investasi. Tidak mungkin investasi bisa berjalan dengan baik jika tidak berdasarkan parameter atau tujuan-tujuan yang telah dirancang. Tidak perlu ada keraguan untuk mengimplementasikannya. Sebab, rencana aksi mestinya telah melalui analisis dan penggunaan logika. Jika terlambat mengimplementasikan rencana aksi tersebut, hasilnya bisa sangat berbeda.
5 Siasat Mengurangi Stres Akibat Utang
Doyan belanja tanpa kemampuan mengontrol keuangan bisa membuat Anda terlilit banyak utang. Tagihan utang yang menumpuk sementara pendapatan pas-pasan bisa membuat Anda stres berkepanjangan. Imbasnya akan membuat kesehatan mental dan fisik Anda terganggu. Padahal ketika stres, Anda tak akan bisa berpikir jernih bagaimana cara mengatasi utang tersebut. Lalu bagaimana caranya agar tumpukan utang ini tidak membuat Anda stres?
1. Beri penilaian yang tepat pada uang
David Krueger, seorang ahli keuangan di Houston, Texas, mengungkapkan bahwa sebagian besar orang menggunakan uang untuk menunjukkan status sosialnya. "Banyak orang yang menggunakan uang untuk memberikan makna dalam hidup, menggunakannya setiap hari untuk menunjukkan kebebasan, mewujudkan kekuasaan. Hal ini bisa menjadi bukti mengenai nilai uang atau bahwa uang memberikan peluang," ungkapnya.
Mulailah menanyakan pada diri sendiri mengapa Anda suka memboroskan uang untuk membeli barang-barang bermerek yang belum tentu berguna. Pikirkan kembali, apa nilai dan manfaat uang yang sebenarnya untuk Anda. Krueger mengungkapkan, ini adalah langkah pertama untuk mengontrol penggunaan uang Anda. "Bila Anda berpikir dengan benar, maka Anda bisa memikirkan strategi mengatasi utang-utang Anda," jelasnya.
2. Sadari jebakan kartu kredit
Bagi para shopaholic, kartu kredit bisa membuat mereka merasa bebas belanja tanpa harus membayar secara tunai. Namun kartu kredit hanya akan membuat Anda merasakan kebebasan dan kesenangan sesaat.
Misalnya, para penggila belanja akan merasa puas dan bangga ketika mereka bisa memakai kartu kreditnya sampai batas maksimal, atau ketika mereka punya kartu kredit tambahan. "Salah satu penelitian terbaru mengungkapkan bahwa orang-orang seperti ini kemungkinan akan merasa stres, namun di sisi yang lain mereka juga merasa lebih kuat karena masih punya banyak sumber dana yang tersedia untuk Anda melalui kartu kredit baru atau limit kartu yang tinggi," ungkap psikolog Kelly McGonigal.
Ada baiknya Anda menyadari bahwa ini adalah ilusi jangka pendek. Pertimbangkan untuk berpikir tentang masa depan Anda yang juga membutuhkan banyak biaya. Ingat kembali tujuan hidup jangka panjang Anda, misalnya ingin membangun usaha sendiri, atau melanjutkan kuliah.
3. Membangun kontrol tubuh
Nasihat untuk mengontrol gairah belanja yang berlebihan dari teman atau keluarga biasanya tak akan berhasil. Karena itu, nasihat yang paling manjur adalah dorongan dari diri sendiri. Roy Baumeister, seorang psikolog sosial d Florida State University, mengungkapkan bahwa Anda punya kemampuan untuk mengendalikan dorongan untuk mendapatkan kepuasan instan (salah satunya dengan berbelanja) dalam diri Anda.
"Ada banyak cara untuk menahan diri saat belanja. Misalnya, melacak semua aktivitas pengeluaran Anda sehari-hari, termasuk pengeluaran hura-hura Anda. Hitung dengan angka sampai sedetail-detailnya. Ini merupakan bagian dari 'olahraga' yang efektif untuk memperkuat kontrol diri saat belanja," jelasnya.
4. Jangan belanja saat bersedih
Menurut studi yang dimuat dalam Journal of Experimental Social Psychology, Anda cenderung banyak belanja saat Anda merasa sedih atau terancam. "Ketika sedih, orang lebih sering membeli banyak barang yang mencolok untuk meningkatkan hal positif tentang diri mereka terhadap orang lain," ungkap Niro Sivanathan, penulis studi (baca juga:Jangan Buat Keputusan Keuangan Saat Sedih).
Menurut penelitian ini, kecenderungan orang berbelanja saat sedih ini akan memberikan sensasi kenyamanan pada diri sendiri. Jika Anda merasa sedih, salah satu obatnya adalah dengan mengetahui lebih dulu apa yang membuat Anda bersedih dan mengatasinya. Atau, temukan penghiburan dan dukungan dari keluarga.Hal ini akan membantu Anda untuk mengurangi kecenderungan belanja yang berlebihan.
5. Kurangi jalan-jalan ke mall
Barang-barang yang terpajang di etalase toko biasanya akan membuat Anda berdecak kagum. Pandangan pertama dan kekaguman ini akan membuat Anda tergiur untuk membelinya. Pada sebagian orang, kekaguman ini lantas dilanjutkan dengan sikap masa bodoh dengan apa yang terjadi nanti kalau mereka membelinya dan lantas berutang lebih banyak. “Penting untuk mengamati respons Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan tujuan finansial Anda," papar McGonigal. "Jika Anda memerhatikan pemicu emosional Anda, kecil kemungkinan Anda akan menghabiskan uang yang sebenarnya tidak Anda miliki."
1. Beri penilaian yang tepat pada uang
David Krueger, seorang ahli keuangan di Houston, Texas, mengungkapkan bahwa sebagian besar orang menggunakan uang untuk menunjukkan status sosialnya. "Banyak orang yang menggunakan uang untuk memberikan makna dalam hidup, menggunakannya setiap hari untuk menunjukkan kebebasan, mewujudkan kekuasaan. Hal ini bisa menjadi bukti mengenai nilai uang atau bahwa uang memberikan peluang," ungkapnya.
Mulailah menanyakan pada diri sendiri mengapa Anda suka memboroskan uang untuk membeli barang-barang bermerek yang belum tentu berguna. Pikirkan kembali, apa nilai dan manfaat uang yang sebenarnya untuk Anda. Krueger mengungkapkan, ini adalah langkah pertama untuk mengontrol penggunaan uang Anda. "Bila Anda berpikir dengan benar, maka Anda bisa memikirkan strategi mengatasi utang-utang Anda," jelasnya.
2. Sadari jebakan kartu kredit
Bagi para shopaholic, kartu kredit bisa membuat mereka merasa bebas belanja tanpa harus membayar secara tunai. Namun kartu kredit hanya akan membuat Anda merasakan kebebasan dan kesenangan sesaat.
Misalnya, para penggila belanja akan merasa puas dan bangga ketika mereka bisa memakai kartu kreditnya sampai batas maksimal, atau ketika mereka punya kartu kredit tambahan. "Salah satu penelitian terbaru mengungkapkan bahwa orang-orang seperti ini kemungkinan akan merasa stres, namun di sisi yang lain mereka juga merasa lebih kuat karena masih punya banyak sumber dana yang tersedia untuk Anda melalui kartu kredit baru atau limit kartu yang tinggi," ungkap psikolog Kelly McGonigal.
Ada baiknya Anda menyadari bahwa ini adalah ilusi jangka pendek. Pertimbangkan untuk berpikir tentang masa depan Anda yang juga membutuhkan banyak biaya. Ingat kembali tujuan hidup jangka panjang Anda, misalnya ingin membangun usaha sendiri, atau melanjutkan kuliah.
3. Membangun kontrol tubuh
Nasihat untuk mengontrol gairah belanja yang berlebihan dari teman atau keluarga biasanya tak akan berhasil. Karena itu, nasihat yang paling manjur adalah dorongan dari diri sendiri. Roy Baumeister, seorang psikolog sosial d Florida State University, mengungkapkan bahwa Anda punya kemampuan untuk mengendalikan dorongan untuk mendapatkan kepuasan instan (salah satunya dengan berbelanja) dalam diri Anda.
"Ada banyak cara untuk menahan diri saat belanja. Misalnya, melacak semua aktivitas pengeluaran Anda sehari-hari, termasuk pengeluaran hura-hura Anda. Hitung dengan angka sampai sedetail-detailnya. Ini merupakan bagian dari 'olahraga' yang efektif untuk memperkuat kontrol diri saat belanja," jelasnya.
4. Jangan belanja saat bersedih
Menurut studi yang dimuat dalam Journal of Experimental Social Psychology, Anda cenderung banyak belanja saat Anda merasa sedih atau terancam. "Ketika sedih, orang lebih sering membeli banyak barang yang mencolok untuk meningkatkan hal positif tentang diri mereka terhadap orang lain," ungkap Niro Sivanathan, penulis studi (baca juga:Jangan Buat Keputusan Keuangan Saat Sedih).
Menurut penelitian ini, kecenderungan orang berbelanja saat sedih ini akan memberikan sensasi kenyamanan pada diri sendiri. Jika Anda merasa sedih, salah satu obatnya adalah dengan mengetahui lebih dulu apa yang membuat Anda bersedih dan mengatasinya. Atau, temukan penghiburan dan dukungan dari keluarga.Hal ini akan membantu Anda untuk mengurangi kecenderungan belanja yang berlebihan.
5. Kurangi jalan-jalan ke mall
Barang-barang yang terpajang di etalase toko biasanya akan membuat Anda berdecak kagum. Pandangan pertama dan kekaguman ini akan membuat Anda tergiur untuk membelinya. Pada sebagian orang, kekaguman ini lantas dilanjutkan dengan sikap masa bodoh dengan apa yang terjadi nanti kalau mereka membelinya dan lantas berutang lebih banyak. “Penting untuk mengamati respons Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan tujuan finansial Anda," papar McGonigal. "Jika Anda memerhatikan pemicu emosional Anda, kecil kemungkinan Anda akan menghabiskan uang yang sebenarnya tidak Anda miliki."
Dewasa Muda Melunasi Kartu Kredit Lebih Lama
Generasi muda saat ini ternyata belum cukup memiliki tanggung jawab dengan pengelolaan keuangannya. Dalam menggunakan kartu kredit, misalnya, mereka bukan hanya berbelanja lebih banyak dengan memanfaatkan kartu kredit, tetapi juga cenderung lebih lama dalam melunasi tagihannya. Demikian penelitian terbaru dari Ohio State University, Amerika.
Seperti Anda ketahui, bank penerbit kartu kredit umumnya menerapkan minimum payment untuk pembayaran tagihan kartu kredit. Nasabah memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam mengelola utangnya. Ada yang selalu membayar lunas semua tagihan, ada yang membayar di atas minimum paymentdengan nilai yang bervariasi, ada pula yang hanya membayar sesuai pembayaran minimum ini. Yang lebih parah tentunya nasabah yang membayar di bawah minimum payment.
Kebiasaan membayar dari minimum payment bisa menciptakan situasi suram. Anak muda yang selalu meninggalkan tagihan pada kartu kreditnya akan terus terbelit utang kartu kredit hingga mati, demikian menurut Lucia Dunn, profesor bidang ekonomi di Ohio State. Jika perilaku semacam itu terus dipertahankan, Dunn mengatakan bahwa Amerika pada akhirnya akan dihadapkan pada krisis keuangan di kalangan lansia yang tak mampu melunasi kartu kreditnya.
"Mereka membayar utangnya lebih lama daripada generasi sebelumnya," papar Profesor Dunn, yang menyusun studi ini bersama Sarah Jiang, Manager of Credit and Business Strategy di Capital One Financial di McLean, Virginia.
Dunn menyimpulkan penelitian ini berdasarkan dua survei jangka panjang dari Ohio State, di mana yang satu tidak hanya merupakan data pinjaman tetapi juga merupakan data kunci yang sebelumnya tidak tersedia untuk kebanyakan peneliti lain. Data tersebut memungkinkan peneliti untuk mengestimasi lebih tepat kapan orang Amerika mampu melunasi utang kartu kreditnya.
Data ini lalu dikombinasikan untuk mendapatkan informasi selama 13 tahun, dari 1997 hingga 2009. Sampel yang diuji melibatkan 32.542 orang berusia 18-85 tahun. Dari situ didapat hasil: mereka yang lahir antara 1980 - 1984 memiliki utang kartu kredit yang secara substansial lebih tinggi daripada utang yang dimiliki dua generasi sebelumnya. Rata-rata, mereka memiliki utang sekitar 5.000 dollar lebih banyak daripada orangtua mereka (pada tahap kehidupan yang sama), dan sekitar 8.000 dollar lebih besar daripada nenek-kakek mereka.
Ada beberapa alasan mengapa generasi muda memiliki utang kartu kredit yang lebih besar. Saat ini, kita memang lebih mudah berutang, dan perilaku terhadap utang itu sendiri juga telah berubah. "Saat ini berutang jauh lebih dapat diterima secara sosial, dan akhirnya mengalami kebangkrutan," ujar Dunn.
Permasalahan lainnya, generasi muda sekarang ini juga membayar utangnya lebih lama. Dari perkiraan studi, terlihat bahwa tingkat pelunasan utang nasabah muda 24 persen lebih rendah daripada orangtua mereka, dan sekitar 77 persen lebih rendah daripada kakek-nenek mereka. Kesulitan membayar utang kartu kredit lebih parah karena generasi sekarang juga cenderung memiliki utang pinjaman pendidikan yang lebih tinggi.
Meskipun begitu, situasi seperti ini bukannya tanpa harapan. Studi ini menunjukkan, jika pembayaran minimum tiap bulan ditingkatkan nasabah tak hanya akan memenuhi jumlah minimum yang harus dilunasi, tetapi secara substansial juga mampu melunasi lebih banyak. Hasilnya, pengurangan utang setiap tahunnya akan lebih cepat.
Seperti Anda ketahui, bank penerbit kartu kredit umumnya menerapkan minimum payment untuk pembayaran tagihan kartu kredit. Nasabah memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam mengelola utangnya. Ada yang selalu membayar lunas semua tagihan, ada yang membayar di atas minimum paymentdengan nilai yang bervariasi, ada pula yang hanya membayar sesuai pembayaran minimum ini. Yang lebih parah tentunya nasabah yang membayar di bawah minimum payment.
Kebiasaan membayar dari minimum payment bisa menciptakan situasi suram. Anak muda yang selalu meninggalkan tagihan pada kartu kreditnya akan terus terbelit utang kartu kredit hingga mati, demikian menurut Lucia Dunn, profesor bidang ekonomi di Ohio State. Jika perilaku semacam itu terus dipertahankan, Dunn mengatakan bahwa Amerika pada akhirnya akan dihadapkan pada krisis keuangan di kalangan lansia yang tak mampu melunasi kartu kreditnya.
"Mereka membayar utangnya lebih lama daripada generasi sebelumnya," papar Profesor Dunn, yang menyusun studi ini bersama Sarah Jiang, Manager of Credit and Business Strategy di Capital One Financial di McLean, Virginia.
Dunn menyimpulkan penelitian ini berdasarkan dua survei jangka panjang dari Ohio State, di mana yang satu tidak hanya merupakan data pinjaman tetapi juga merupakan data kunci yang sebelumnya tidak tersedia untuk kebanyakan peneliti lain. Data tersebut memungkinkan peneliti untuk mengestimasi lebih tepat kapan orang Amerika mampu melunasi utang kartu kreditnya.
Data ini lalu dikombinasikan untuk mendapatkan informasi selama 13 tahun, dari 1997 hingga 2009. Sampel yang diuji melibatkan 32.542 orang berusia 18-85 tahun. Dari situ didapat hasil: mereka yang lahir antara 1980 - 1984 memiliki utang kartu kredit yang secara substansial lebih tinggi daripada utang yang dimiliki dua generasi sebelumnya. Rata-rata, mereka memiliki utang sekitar 5.000 dollar lebih banyak daripada orangtua mereka (pada tahap kehidupan yang sama), dan sekitar 8.000 dollar lebih besar daripada nenek-kakek mereka.
Ada beberapa alasan mengapa generasi muda memiliki utang kartu kredit yang lebih besar. Saat ini, kita memang lebih mudah berutang, dan perilaku terhadap utang itu sendiri juga telah berubah. "Saat ini berutang jauh lebih dapat diterima secara sosial, dan akhirnya mengalami kebangkrutan," ujar Dunn.
Permasalahan lainnya, generasi muda sekarang ini juga membayar utangnya lebih lama. Dari perkiraan studi, terlihat bahwa tingkat pelunasan utang nasabah muda 24 persen lebih rendah daripada orangtua mereka, dan sekitar 77 persen lebih rendah daripada kakek-nenek mereka. Kesulitan membayar utang kartu kredit lebih parah karena generasi sekarang juga cenderung memiliki utang pinjaman pendidikan yang lebih tinggi.
Meskipun begitu, situasi seperti ini bukannya tanpa harapan. Studi ini menunjukkan, jika pembayaran minimum tiap bulan ditingkatkan nasabah tak hanya akan memenuhi jumlah minimum yang harus dilunasi, tetapi secara substansial juga mampu melunasi lebih banyak. Hasilnya, pengurangan utang setiap tahunnya akan lebih cepat.
Kapan Menyiapkan Dana Pensiun?
Menjalani masa pensiun bersama pasangan dengan tenang merupakan impian banyak orang. Anda dapat mewujudkannya dengan menyiapkannya melalui perencanaan keuangan yang matang. Kapan waktu tepat mulai menyiapkan dana pensiun? Jika kondisi keuangan Anda serupa seperti Tatik, 38, ibu rumah tangga ini, bersiaplah merencanakan dana pensiun Anda.
Tujuan keuangan yang ditetapkan Tatik di usianya ke-38 adalah memiliki masa pensiun dengan tenang dan pergi haji bersama suami. Kondisi keuangan Tatik pada saat ia menetapkan tujuannya adalah berpenghasilan Rp 4 juta hanya dari gaji suami. Sebagai manajer rumah tangga, Tatik mengeluarkan uang Rp 2,5 juta per bulan untuk pengeluaran rutin rumah tangga.
Rencana keuangan jangka panjang Tatik di antaranya persiapan dana pernikahan untuk putrinya, satu tahun ke depan; naik haji bersama suami dalam tiga tahun lagi; dan punya cukup uang untuk masa pensiun di luar tanggungan dari Jamsostek. Tatik berada pada tahapan awal memasuki masa pensiun. Kebutuhan keuangannya yang paling utama saat ini adalah menyiapkan dana pensiun.
Untuk mewujudkan tujuan keuangannya, Tatik harus mulai membuat perkiraan jumlah dana yang dibutuhkan untuk pernikahan putrinya dan biaya pensiun, kemudian menghitung berapa jumlah yang sudah ia miliki saat ini. Penting dicatat, biaya hidup Tatik boleh jadi sudah berkurang karena anak sudah bekerja dan sebagainya. Namun, pengeluaran rumah tangga dapat bertambah karena kenaikan inflasi, dengan harga barang yang semakin meningkat tinggi.
Jika Anda berada dalam kondisi seperti ini, bersiaplah menyiapkan dana pensiun selagi Anda atau pasangan berada di usia produktif. Apalagi jika pada usia ini Anda tak lagi memikirkan biaya pendidikan anak, namun fokus kepada perencanaan masa pensiun dengan pasangan. Inilah waktunya Anda memilih produk keuangan yang paling tepat untuk mewujudkan rencana jangka panjang tersebut, dan tentunya memonitor perkembangannya.
Tujuan keuangan yang ditetapkan Tatik di usianya ke-38 adalah memiliki masa pensiun dengan tenang dan pergi haji bersama suami. Kondisi keuangan Tatik pada saat ia menetapkan tujuannya adalah berpenghasilan Rp 4 juta hanya dari gaji suami. Sebagai manajer rumah tangga, Tatik mengeluarkan uang Rp 2,5 juta per bulan untuk pengeluaran rutin rumah tangga.
Rencana keuangan jangka panjang Tatik di antaranya persiapan dana pernikahan untuk putrinya, satu tahun ke depan; naik haji bersama suami dalam tiga tahun lagi; dan punya cukup uang untuk masa pensiun di luar tanggungan dari Jamsostek. Tatik berada pada tahapan awal memasuki masa pensiun. Kebutuhan keuangannya yang paling utama saat ini adalah menyiapkan dana pensiun.
Untuk mewujudkan tujuan keuangannya, Tatik harus mulai membuat perkiraan jumlah dana yang dibutuhkan untuk pernikahan putrinya dan biaya pensiun, kemudian menghitung berapa jumlah yang sudah ia miliki saat ini. Penting dicatat, biaya hidup Tatik boleh jadi sudah berkurang karena anak sudah bekerja dan sebagainya. Namun, pengeluaran rumah tangga dapat bertambah karena kenaikan inflasi, dengan harga barang yang semakin meningkat tinggi.
Jika Anda berada dalam kondisi seperti ini, bersiaplah menyiapkan dana pensiun selagi Anda atau pasangan berada di usia produktif. Apalagi jika pada usia ini Anda tak lagi memikirkan biaya pendidikan anak, namun fokus kepada perencanaan masa pensiun dengan pasangan. Inilah waktunya Anda memilih produk keuangan yang paling tepat untuk mewujudkan rencana jangka panjang tersebut, dan tentunya memonitor perkembangannya.
Baru 43 Persen Perempuan Rencanakan Dana Pensiun
Selama ini, perempuan dianggap lebih mahir mengelola pos-pos keuangan dibanding para pria. Namun, sebuah survei menyatakan hal yang lain.
Survei Fin-Q (Financial Quotient: Kecerdasan Finansial) Citi Indonesia pada Desember 2011 terhadap 500 responden perempuan di beberapa negara di Asia Pasifik menunjukkan, 74 persen perempuan, khususnya di Indonesia, belum memilikirencana pensiun yang matang. Sedangkan 43 persen responden lainnya menyatakan bahwa mereka sudah tahu persis apa yang harus dilakukan untuk berinvestasi.
Temuan ini dinilai cukup mengkhawatirkan, karena perempuan seharusnya juga memiliki pemahaman yang baik untuk mengelola keuangan mereka dalam jangka pendek dan panjang. Sebab, data proyeksi penduduk dunia dari PBB tahun 2010 menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi dari laki-laki dengan rasio 72,7 : 68,7 tahun. Secara tak langsung hal ini menjadi dasar bahwa perempuan harus lebih cermat dan pandai dalam mempersiapkan diri menjelang masa pensiun agar memiliki kemandirian finansial.
"Kemandirian finansial dan kesiapan menjelang hari tua merupakan dua hal yang harus dipersiapkan sejak dini oleh perempuan, agar di masa tua tidak perlu bergantung pada orang lain," tukas Harsya Prasetyo, Senior Vice President Retail Investment and Consumer Treasury Head Citi Indonesia, dalam talkshow "Smart Investment in Ladies Way: Informed, Discipline and Patience" di Hotel Four Seasons, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lalu mengapa perempuan tidak segera mengalokasikan keuangannya untuk investasi atau persiapan pensiun?
Harsya menambahkan, ada ketakutan dalam diri perempuan untuk melakukan investasi dalam jangka panjang. Ketakutan ini didasarkan pada risiko yang mungkin saja dialami pada investasi yang dilakukan. "Para perempuan cenderung menggunakan pendekatan yang lebih konservatif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, sehingga terkadang mereka merasa kurang percaya diri untuk memulai investasi," jelasnya.
Di lain pihak, para suami juga belum sepenuhnya mendukung sang istri untuk berinvestasi. Selain itu, perlu disampaikan juga secara lebih meluas, bahwa investasi bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mapan.
Senada dengan Harsya, Hario Soeprobo, President Director First State Investment Indonesia mengungkapkan bahwa perempuan cenderung bersikap konservatif dan pria lebih cenderung oportunistik. Sikap oportunistik ini membuat para pria cenderung lebih berani untuk melakukan investasi dalam jangka panjang dan lebih berani berspekulasi.
Namun, meski demikian sikap oportunistik dan spekulasi tinggi ini tidak sepenuhnya harus dicontoh. Karena, dalam batasan tertentu sikap konservatif dan kehati-hatian perempuan ini bisa menghindarkan Anda dari keputusan dan iming-iming investasi yang salah, seperti, herding (ikut-ikutan), overconfidence (terlalu percaya diri), dan naive diversification(asal-asalan memilih).
Survei Fin-Q (Financial Quotient: Kecerdasan Finansial) Citi Indonesia pada Desember 2011 terhadap 500 responden perempuan di beberapa negara di Asia Pasifik menunjukkan, 74 persen perempuan, khususnya di Indonesia, belum memilikirencana pensiun yang matang. Sedangkan 43 persen responden lainnya menyatakan bahwa mereka sudah tahu persis apa yang harus dilakukan untuk berinvestasi.
Temuan ini dinilai cukup mengkhawatirkan, karena perempuan seharusnya juga memiliki pemahaman yang baik untuk mengelola keuangan mereka dalam jangka pendek dan panjang. Sebab, data proyeksi penduduk dunia dari PBB tahun 2010 menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi dari laki-laki dengan rasio 72,7 : 68,7 tahun. Secara tak langsung hal ini menjadi dasar bahwa perempuan harus lebih cermat dan pandai dalam mempersiapkan diri menjelang masa pensiun agar memiliki kemandirian finansial.
"Kemandirian finansial dan kesiapan menjelang hari tua merupakan dua hal yang harus dipersiapkan sejak dini oleh perempuan, agar di masa tua tidak perlu bergantung pada orang lain," tukas Harsya Prasetyo, Senior Vice President Retail Investment and Consumer Treasury Head Citi Indonesia, dalam talkshow "Smart Investment in Ladies Way: Informed, Discipline and Patience" di Hotel Four Seasons, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Lalu mengapa perempuan tidak segera mengalokasikan keuangannya untuk investasi atau persiapan pensiun?
Harsya menambahkan, ada ketakutan dalam diri perempuan untuk melakukan investasi dalam jangka panjang. Ketakutan ini didasarkan pada risiko yang mungkin saja dialami pada investasi yang dilakukan. "Para perempuan cenderung menggunakan pendekatan yang lebih konservatif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, sehingga terkadang mereka merasa kurang percaya diri untuk memulai investasi," jelasnya.
Di lain pihak, para suami juga belum sepenuhnya mendukung sang istri untuk berinvestasi. Selain itu, perlu disampaikan juga secara lebih meluas, bahwa investasi bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mapan.
Senada dengan Harsya, Hario Soeprobo, President Director First State Investment Indonesia mengungkapkan bahwa perempuan cenderung bersikap konservatif dan pria lebih cenderung oportunistik. Sikap oportunistik ini membuat para pria cenderung lebih berani untuk melakukan investasi dalam jangka panjang dan lebih berani berspekulasi.
Namun, meski demikian sikap oportunistik dan spekulasi tinggi ini tidak sepenuhnya harus dicontoh. Karena, dalam batasan tertentu sikap konservatif dan kehati-hatian perempuan ini bisa menghindarkan Anda dari keputusan dan iming-iming investasi yang salah, seperti, herding (ikut-ikutan), overconfidence (terlalu percaya diri), dan naive diversification(asal-asalan memilih).
Kiat Menabung Tanpa Beban
Berapa pun gaji Anda, menabung tetap harus jadi prioritas. Tapi persoalannya, selalu saja ada godaan yang bikin seseorang mengurungkan niat untuk menabung. Agar tak malas menabung, coba cara ini:
* Bulatkan harga. Misalnya, saat Anda membeli sesuatu seharga Rp 26.000 genapkan menjadi Rp 30.000 pada catatan pengeluaran. Masukkan selisih Rp 4.000 tersebut untuk ditabung. Selalu lakukan pembulatan ini dan kumpulkan. Tanpa terasa sedikit-sedikit bisa menjadi bukit.
* Simpan dan "lupakan". Biasakan untuk menyisipkan sejumlah uang di tempat tersembunyi seperti tas atau di lemari. Setiap kali memiliki uang ekstra, simpan ked alam tempat rahasia itu dan lupakan. Tanpa sadar Anda telah mengumpulkan sejumlah uang.
* Siapkan celengan. Seperti saat kecil dulu, kita selalubersemangat menabung di celengan. Sekarang lakukan lagi, masukkan uang kecil setiap hari dan lihat hasilnya selama setahun.
* Nominal tertentu. Buat kesepakatan dengan diri sendiri untuk mengumpulkan uang dalam nominal tertentu. Misalnya pecahan Rp 10.000. Jadi setiap melihat uang dalam nominal ini dalam dompet atau tas, segera pisahkan dan masukkan dalamtabungan.
* Bulatkan harga. Misalnya, saat Anda membeli sesuatu seharga Rp 26.000 genapkan menjadi Rp 30.000 pada catatan pengeluaran. Masukkan selisih Rp 4.000 tersebut untuk ditabung. Selalu lakukan pembulatan ini dan kumpulkan. Tanpa terasa sedikit-sedikit bisa menjadi bukit.
* Simpan dan "lupakan". Biasakan untuk menyisipkan sejumlah uang di tempat tersembunyi seperti tas atau di lemari. Setiap kali memiliki uang ekstra, simpan ked alam tempat rahasia itu dan lupakan. Tanpa sadar Anda telah mengumpulkan sejumlah uang.
* Siapkan celengan. Seperti saat kecil dulu, kita selalubersemangat menabung di celengan. Sekarang lakukan lagi, masukkan uang kecil setiap hari dan lihat hasilnya selama setahun.
* Nominal tertentu. Buat kesepakatan dengan diri sendiri untuk mengumpulkan uang dalam nominal tertentu. Misalnya pecahan Rp 10.000. Jadi setiap melihat uang dalam nominal ini dalam dompet atau tas, segera pisahkan dan masukkan dalamtabungan.
Orang Indonesia Tidak Disiplin Menabung
Riset menunjukkan, semakin banyak orang menyadari pentingnya perencanaan keuangan dan cara mengelola uang yang baik dan benar. Kemandirian finansial menjadi tujuan banyak orang, terutama mereka yang berusia matang dan memiliki penghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan, baik laki-laki maupun perempuan. Edukasi mengenai tata kelola keuangan personal rupanya berdampak positif bagi mereka yang memiliki fasilitas keuangan seperti kartu kredit dan rekening di bank. Pemahaman mengenai cara mengelola dan merencanakan keuangan ini membuat 89 persen orang Indonesia merasa lebih optimistis menghadapi masa depan dengan kemandirian finansialnya.
Citigroup Asia Pasific merilis hasil riset yang dilakukannya pada 2010 melalui wawancara online kepada 500 responden di seluruh Indonesia. Hasilnya terlihat bahwa nilai financial quotient untuk Indonesia adalah 57 dari 100 poin. Nilai ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 52. Financial quotient adalah istilah yang digunakan Citigroup untuk menunjukkan kesadaran akan kondisi keuangan dan kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya perencanaan keuangan, dan mengimplementasikan tata kelola keuangan dengan baik. Melalui riset ini, Citigroup menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia yang peduli mengenai perencanaan keuangan.
Riset ini juga menyebutkan, sebagian besar orang Indonesia dengan penghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan merasa optimistis dengan masa depan finansialnya. Lebih dari 60 persen responden juga mengaku membayar penuh tagihan kartu kredit secara reguler. Meskipun begitu, dengan penghasilan tersebut, hanya 67 persen responden yang terbiasa menabung secara rutin.
"Sedangkan 24 persennya berusaha menabung saat memungkinkan, saat bonus akhir tahun, atau saat menerima tunjangan hari raya. Artinya, orang dengan penghasilan Rp 10 juta pun masih banyak yang belum berdisiplin dengan kebiasaan menabung meski mereka menyadari perencanaan keuangan itu penting," papar Hotman Simbolon, Vice President Customer Care Center Head Citibank, dalam kegiatan Citibank Journalist Class di Jakarta.
Meski kesadaran orang Indonesia meningkat dalam merencanakan keuangan, pada praktiknya hanya 47 persen responden yang mengakui mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya. Sementara, kata Hotman, 38 persen orang sudah membuat anggaran tetapi masih berusaha mengaplikasikannya.
Kesadaran yang tak dibarengi implementasi nyata ini membuat banyak orang akhirnya tidak mampu secara finansial dalam memasuki masa pensiun. Survei yang menyasar kalangan melek teknologi ini menunjukkan data, hanya 34 persen orang yang yakin berapa dana pensiun yang dibutuhkannya beberapa tahun mendatang. Sejumlah 31 persen tidak mengetahui kebutuhan dana pensiun; hanya 13 persen telah memiliki rencana pensiun; dan 22 persen belum memulai rencana apa pun.
"Padahal, perencanaan dana pensiun perlu dimulai sejak saat ini, dalam jangka panjang, bukan pada saat tujuh tahun menjelang waktu pensiun tiba," ujar Hotman.
Selain minimnya kedisplinan menabung, ketidaksiapan menghadapi masa pensiun, survei ini juga menunjukkan satu dari lima orang Indonesia tak memiliki cukup tabungan jika ternyata harus kehilangan pekerjaan. Artinya, jelas Hotman, 20 persen responden mengaku hanya bisa menafkahi hidupnya selama tiga bulan jika harus mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara 80 persen yang lainnya mengaku tabungan yang dimilikinya hanya bisa membuatnya bertahan dalam 2,5 bulan atau 70 hari saja.
Pemahaman mengenai pentingnya perencanaan keuangan nyatanya tak dibarengi pengetahuan mengenai asuransi dan investasi. Kondisi inilah yang membuat orang Indonesia belum mampu mandiri secara finansial. Dari 500 responden, 54 persen merasa sudah terlindungi asuransi dan 24 persen tidak memiliki asuransi sama sekali. Kebanyakan dari responden bahkan tak mengetahui pilihan investasi yang tepat untuk mengembangkan nilai uang yang dimilikinya. Jika diberikan uang sebesar enam bulan gaji, hanya 45 persen responden yang mengaku tahu cara berinvestasi yang tepat untuk dirinya.
Tak mengherankan jika kemudian banyak ditemukan orang Indonesia yang khawatir dengan masa depannya. Karena pada umumnya, banyak orang yang belum mandiri secara finansial lantaran tak membangun kebiasaan dan berdisiplin menyisihkan uang dari penghasilan untuk berbagai anggaran dalam mempersiapkan masa depan.
"Membuat anggaran menjadi solusi finansial yang perlu dilakukan. Dengan budgeting, Anda bisa mengontrol keuangan, menghindarkan Anda dari masalah finansial, menjadi konsumen yang lebih cerdas, mampu merancang dan meraih tujuan finansial, dan memiliki masa depan yang lebih baik," tutur Hotman.
Melakukan budgeting juga akan memudahkan Anda untuk menabung, berinvestasi, dan berbagi penghasilan melalui zakat sebagai bentuk fungsi sosial sebagai individu.
Citigroup Asia Pasific merilis hasil riset yang dilakukannya pada 2010 melalui wawancara online kepada 500 responden di seluruh Indonesia. Hasilnya terlihat bahwa nilai financial quotient untuk Indonesia adalah 57 dari 100 poin. Nilai ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 52. Financial quotient adalah istilah yang digunakan Citigroup untuk menunjukkan kesadaran akan kondisi keuangan dan kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya perencanaan keuangan, dan mengimplementasikan tata kelola keuangan dengan baik. Melalui riset ini, Citigroup menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia yang peduli mengenai perencanaan keuangan.
Riset ini juga menyebutkan, sebagian besar orang Indonesia dengan penghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan merasa optimistis dengan masa depan finansialnya. Lebih dari 60 persen responden juga mengaku membayar penuh tagihan kartu kredit secara reguler. Meskipun begitu, dengan penghasilan tersebut, hanya 67 persen responden yang terbiasa menabung secara rutin.
"Sedangkan 24 persennya berusaha menabung saat memungkinkan, saat bonus akhir tahun, atau saat menerima tunjangan hari raya. Artinya, orang dengan penghasilan Rp 10 juta pun masih banyak yang belum berdisiplin dengan kebiasaan menabung meski mereka menyadari perencanaan keuangan itu penting," papar Hotman Simbolon, Vice President Customer Care Center Head Citibank, dalam kegiatan Citibank Journalist Class di Jakarta.
Meski kesadaran orang Indonesia meningkat dalam merencanakan keuangan, pada praktiknya hanya 47 persen responden yang mengakui mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya. Sementara, kata Hotman, 38 persen orang sudah membuat anggaran tetapi masih berusaha mengaplikasikannya.
Kesadaran yang tak dibarengi implementasi nyata ini membuat banyak orang akhirnya tidak mampu secara finansial dalam memasuki masa pensiun. Survei yang menyasar kalangan melek teknologi ini menunjukkan data, hanya 34 persen orang yang yakin berapa dana pensiun yang dibutuhkannya beberapa tahun mendatang. Sejumlah 31 persen tidak mengetahui kebutuhan dana pensiun; hanya 13 persen telah memiliki rencana pensiun; dan 22 persen belum memulai rencana apa pun.
"Padahal, perencanaan dana pensiun perlu dimulai sejak saat ini, dalam jangka panjang, bukan pada saat tujuh tahun menjelang waktu pensiun tiba," ujar Hotman.
Selain minimnya kedisplinan menabung, ketidaksiapan menghadapi masa pensiun, survei ini juga menunjukkan satu dari lima orang Indonesia tak memiliki cukup tabungan jika ternyata harus kehilangan pekerjaan. Artinya, jelas Hotman, 20 persen responden mengaku hanya bisa menafkahi hidupnya selama tiga bulan jika harus mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara 80 persen yang lainnya mengaku tabungan yang dimilikinya hanya bisa membuatnya bertahan dalam 2,5 bulan atau 70 hari saja.
Pemahaman mengenai pentingnya perencanaan keuangan nyatanya tak dibarengi pengetahuan mengenai asuransi dan investasi. Kondisi inilah yang membuat orang Indonesia belum mampu mandiri secara finansial. Dari 500 responden, 54 persen merasa sudah terlindungi asuransi dan 24 persen tidak memiliki asuransi sama sekali. Kebanyakan dari responden bahkan tak mengetahui pilihan investasi yang tepat untuk mengembangkan nilai uang yang dimilikinya. Jika diberikan uang sebesar enam bulan gaji, hanya 45 persen responden yang mengaku tahu cara berinvestasi yang tepat untuk dirinya.
Tak mengherankan jika kemudian banyak ditemukan orang Indonesia yang khawatir dengan masa depannya. Karena pada umumnya, banyak orang yang belum mandiri secara finansial lantaran tak membangun kebiasaan dan berdisiplin menyisihkan uang dari penghasilan untuk berbagai anggaran dalam mempersiapkan masa depan.
"Membuat anggaran menjadi solusi finansial yang perlu dilakukan. Dengan budgeting, Anda bisa mengontrol keuangan, menghindarkan Anda dari masalah finansial, menjadi konsumen yang lebih cerdas, mampu merancang dan meraih tujuan finansial, dan memiliki masa depan yang lebih baik," tutur Hotman.
Melakukan budgeting juga akan memudahkan Anda untuk menabung, berinvestasi, dan berbagi penghasilan melalui zakat sebagai bentuk fungsi sosial sebagai individu.
8 Tahun Kerja, Tak Sanggup Menabung
Satu hal penting dalam mempersiapkan masa depan dengan berinvestasi adalah melakukannya di depan. Jadi, apabila Anda mendapat penghasilan (gaji) sebesar 100 persen, Anda langsung sisihkan minimum 20 persen terlebih dahulu untuk investasi. Sisanya sebesar 80 persen dapat Anda gunakan untuk membayar semua kebutuhan hidup, termasuk kartu kredit dan gaya hidup.
Hal penting lain, tidak menggunakan kartu kredit (terlebih untuk berutang dan membeli barang konsumtif) jika tidak memiliki dana sekarang untuk membayar lunas saat tagihannya tiba. Namun, apabila saat ini Anda masih memiliki sejumlah utang, lunasilah terlebih dahulu utang-utang tersebut (terutama utang yang berbunga tinggi) sebelum Anda memulai untuk berinvestasi. Ingat selalu "spedometer" yang ada di panel dasbor mobil, di mana pengemudi harus mengendarai mobil tersebut tidak melebihi batas kecepatan yang diperkenankan. Misalnya di spedometer tertulis 200 km/jam, pengemudi hanya boleh mencapai tingkat kecepatan 160 km/jam (80 persen).
Begitu pula dengan seorang karyawan, sebaiknya mengendarai kehidupannya dengan berbelanja tidak melebihi batas kecepatan (penghasilan) yang ada. Selamat menabung!
Hal penting lain, tidak menggunakan kartu kredit (terlebih untuk berutang dan membeli barang konsumtif) jika tidak memiliki dana sekarang untuk membayar lunas saat tagihannya tiba. Namun, apabila saat ini Anda masih memiliki sejumlah utang, lunasilah terlebih dahulu utang-utang tersebut (terutama utang yang berbunga tinggi) sebelum Anda memulai untuk berinvestasi. Ingat selalu "spedometer" yang ada di panel dasbor mobil, di mana pengemudi harus mengendarai mobil tersebut tidak melebihi batas kecepatan yang diperkenankan. Misalnya di spedometer tertulis 200 km/jam, pengemudi hanya boleh mencapai tingkat kecepatan 160 km/jam (80 persen).
Begitu pula dengan seorang karyawan, sebaiknya mengendarai kehidupannya dengan berbelanja tidak melebihi batas kecepatan (penghasilan) yang ada. Selamat menabung!
Langganan:
Postingan (Atom)