Ketika Anda diberi tugas tambahan oleh atasan, yang bahkan kurang berkaitan dengan bidang Anda, apa yang Anda pikirkan saat itu? Apakah Anda bersungut-sungut? Atau malah menganggap itu sebagai tantangan?
Terdapat empat tipe perilaku karyawan di kantor. Masing-masing tipe ternyata menentukan prestasi, mengapa? Karena perilaku sangat berkaitan dengan produktivitas dan hasil kerja, termasuk dengan hubungan dengan sekitar Anda. Perilaku ini juga berpengaruh terhadap penilaian atasan kepada Anda. Termasuk tipe pekerja yang manakah Anda?
Job Lover: “Tugas baru, tantangan baru. Pekerjaan yang menarik!”
Cirinya? Tahu seluk beluk sejarah perkembangan perusahaan dengan baik, tidak sungkan melewatkan makan siang atau waktu rehat dengan asik bekerja, punya banyak teman seprofesi di perusahaan lain, serta rela memanfaatkan waktu luang untuk belajar dan menambah keahlian di bidangnya. Karyawan dengan tipe seperti ini sangat mencintai pekerjaannya, selalu menempatkan pekerjaan sebagai tantangan yang mengasyikan walaupun itu menyita banyak waktu.
Hebatnya, karyawan seperti ini jarang sekali mengeluh tentang pekerjaannya. Mereka cenderung perfeksionis karena belum merasa puas kalau pekerjaan mereka belum sempurna, dan akan terus berusaha hingga mereka anggap itu sempurna. Mereka juga tidak sungkan untuk menawarkan diri membantu karyawan yang lain. Namun hati-hati ya, work hard tanpa play hard tidak baik. Jika tingkat stres semakin meninggi, bisa jadi tubuh ikut merugi.
Job Doer: “Baik, akan saya kerjakan tugasnya”
Cirinya? Bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan, suka atau tidak. Mengerjakan pekerjaan sampai tuntas dan selesai karena merasa itulah tugasnya sebagai karyawan. Namun, jika pekerjaan mereka telah selesai, mereka lebih memilih untuk bersenang-senang dibandingkan berurusan dengan pekerjaan, sampai diberi tugas selanjutnya. Karyawan dengan tipe seperti ini juga jarang terlihat mengeluh karena menurut mereka itu bukan porsinya. Bagi mereka, intinya jika tugas sudah diberikan, dikerjakan dengan baik, dan harus selesai dengan baik pula.
Baiknya karena mereka bisa menyeimbangkan antara waktu bekerja dengan waktu untuk bersenang-senang. Namun sayangnya karyawan dengan tipe seperti ini kurang mempunyai inisiatif untuk bertanya apakah mereka bisa mengerjakan sesuatu yang lain, karena mereka menganggap semua karyawan sudah diberikan pekerjaan sesuai dengan porsi atau bagiannya masing-masing. Tapi bukan berarti ketika dimintai bantuan mereka tidak mau menolong, justru mereka selalu siap dan bisa diandalkan.
Job Hater: “Duh, kenapa tugas saya banyak sekali sih?”
Cirinya? Diberi tugas A, mengeluh. Diberi tugas B, mengeluh. Sepertinya diberi tugas apapun akan dikerjakan dengan diwarnai keluhan ini dan itu. Rajin dalam urusan komplain dan mengkritik perusahaan atau tugasnya. Walapun mungkin mereka tidak menunjukkan secara langsung di depan atasan. Karena terkadang yang menjadi sasarannya adalah rekan kerja di samping kanan dan kirinya, serta si keyboard komputer. Hal ini bisa disebabkan karena pada dasarnya mereka kurang menyukai bidang pekerjaan mereka. Walapun pada akhirnya mereka menyelesaikan tugas yang diberikan hingga selesai.
Sikap profesional sangatlah penting. Sebagai karyawan, sudah menjadi kewajiban untuk mengerjaan tugas yang diberikan dengan baik dan semaksimal mungkin. Mencintai pekerjaan sangat perlu, namun bila tidak kunjung cinta terhadap pekerjaan, mengapa tidak mencari yang lebih baik dan sesuai minat dan bakat? Pekerjaan akan terasa lebih ringan bila dikerjakan dengan hati senang. Daripada menularkan energi negatif, lebih baik pancarkan energi positif.
Job What? “Saya tidak tahu harus bagaimana caranya menyelesaikan tugas ini!”
Cirinya? Ketika diberikan pekerjaan, yang terlintas di pikiran adalah “Apa yang harus saya lakukan?”. Jangankan untuk mengeluh, menentukan dari mana harus memulai pekerjaan saja bingung. Jangankan untuk mengerjakan hingga tuntas, pekerjaan yang diberikan mungkin tidak pernah mereka kenal sebelumnya.
Kok bisa ya? Perasaan terjebak atau tidak sengaja terjerumus dalam sebuah bidang pekerjaan bisa disebabkan karena mereka terpaksa menerima pekerjaan karena ketika itu hanya bidang pekerjaan ini yang memberikan kesempatan. Tidak ada salahnya untuk mengambil kesempatan, asalkan giat untuk mencari tahu dan belajar dari nol. Mereka dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman orang lain, walau membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Orang sukses dan hebat justru harus memulai dari nol, bukan dengan cara yang instan, kan?
Selasa, 26 Juni 2012
Pencitraan Tak Harus Korbankan Jati Diri
Seorang teman kesal karena dirinya dinilai tidak “pleasant” oleh orang lain. Ada juga orang yang marah saat disebut suka “menjilat”, karena sikapnya yang mati-matian berusaha berlaku “nice” saat di depan atasan.
Melihat hal ini, saya selalu mengingatkan di dalam berbagai kelas pelatihan, bahwa pandangan orang terhadap citra diri kita adalah sah dan benar adanya. Kalau ada orang beranggapan bahwa kita tidak “pleasant”, kita tidak bisa mengatakan mereka salah, karena itulah persepsi, kesan atau citra diri yang ditangkap oleh orang tersebut. Kita boleh berupaya untuk menjelaskan alasan kita bersikap demikian, namun tetap saja, pendapat orang mengenai citra diri kita itulah yang perlu diperhitungkan. Seorang kolumnis, Regina Brett, bahkan mengatakan: “What other people think of you is none of your business.” Dari sini kita bisa merasa betapa citra diri ini jauh dari jangkauan kontrol pribadi.
Maraknya dinamika dunia politik membuat kita semakin menyadari bahwa di negara kita para konsultan komunikasi massa bekerja keras untuk pembentukan citra positif pejabat yang sedang mendapat sorotan publik. Bila ada berita di media mengenai calon gubernur atau calon presiden dan kemudian banyak komentar miring yang menuduh situasi tersebut sebagai pencitraan, maka upaya pencitraan itu tergolong gagal. Ujung-ujungnya upaya pencitraan malah kerap dijadikan sindiran dan bahkan bahan olok-olokan. Padahal sebagai pemimpin, pejabat dan profesional kita memang membutuhkan pencitraan diri positif agar bisa sukses dan efektif di pekerjaan kita, bukan?
Kita tahu, Margareth Thatcher pun diminta untuk tidak menggunakan topinya lagi ketika ia sedang memperebutkan jabatan Perdana Menterinya. Namun, mengapa upaya pemolesan citra ini tidak mudah? Bukankah sudah ada pelajaran mengatur body language, olah vokal, public speaking, dan ketrampilan lain? Berarti upaya pencitraan ini sah, namun bila tidak dilakukan dengan hati-hati dan penuh rekayasa, maka upaya yang tidak murah ini begitu rentan gagal.
Citra diri vs potret pribadi
Seberapa sering Anda berdialog dengan diri sendiri di depan kaca? Apa yang Anda katakan? Bagaimana Anda memberi julukan pada diri sendiri? Kita bisa berhadapan dengan kaca dan tiba-tiba seolah menghadapi orang asing, yang selama ini tidak kita “kenal” atau memarahi bayangan kita sendiri, karena kurang diet dan terlihat gemuk. Sebaliknya, kita juga juga bisa mengatakan “good morning" dengan ramah dan memberi semangat saat bertatapan dengan diri sendiri.
“Mirror method” ini adalah salah satu cara yang bisa dimanfaatkan individu untuk melihat ke dalam diri sendiri dan memulai self appraisal terhadap diri. Tanpa kekuatan mawas diri ini, upaya menciptakan “kemasan” tidak bisa pas bila tidak disesuaikan dengan isinya. Kita bisa mengemas, memperkuat, tetapi tidak bisa memalsu.
Kita bisa perhatikan bahwa di dunia di mana kita semakin mudah melakukan imitasi, meniru, melakukan “spin-off” atau “knock-off” seperti sekarang, orang sering melupakan jati diri yang sebenarnya. Orang sering melupakan "diri" yang paling dalam bila sedang memoles citranya. Padahal, mempertahankan citra diri yang sesuai dengan jati diri sebenarnya adalah strategi yang paling ampuh, karena kekuatan kualitas diri ini tidak akan terhapus oleh badai persepsi buruk manapun.
Upaya, kebiasaan-kebiasaan kita dan nilai yang kita anut adalah gambaran diri kita. Kalau kita biasa bangun pagi, sudah siap bekerja di kantor sejak jam 6.30, maka citra diri kita sebagai orang yang rajin dan produktif segera terbentuk. Sebaliknya bila kita tidak dekat dengan wong cilik, tetapi demi pencitraan lalu mendadak berkunjung ke tempat kumuh, ikut makan dengan keluarga miskin, publik akan tahu, apakah tidakan kita ini upaya berpura-pura atau aslinya.
Seorang teman yang mengalami perceraian menyatakan bahwa ia tidak khawatir terhadap citranya sebagai janda. Ketika ada yang mempertanyakan, ia mengatakan: ”Upaya saya untuk mempertahankan perkawinan sudah sangat optimal dan mencapai titik di mana siapa pun yang mengalaminya pasti juga akan melakukan perceraian”. Itulah sebabnya tidak ada upaya untuk menutup-nutupi keadaan dirinya, sehingga penampilannya yang rileks justeru membawa daya tarik sendiri.
The real “you”
Melakukan “Marketing Me”, memang tidak mudah, namun bukannya tidak mungkin dilakukan. Bila kita memiliki ketrampilan, kebiasaan, hobi, ataupun keahlian yang unik dan khusus, apalagi ditambah “success journal” yang nyata, otomatis citra diri kita kuat melekat di mata orang lain. Meneg BUMN, yang menjadi ketua pembina klub-klub Barongsay memang sangat gemar menonton pertunjukan barongsay. Beliau pun langsung mendapat tempat di hati masyarakat di seputar kesenian ini, karena hobi yang dimilikinya.
Values yang ditangkap dari diri seseorang sebetulnya bisa lebih banyak bicara daripada penampilan, slogan, ataupun kemasan-kemasan menarik yang berusaha diciptakan. Seorang yang terkenal matre alias mementingkan uang, akan segera kelihatan palsu bila mendadak tampil sederhana dan seolah-olah tidak butuh uang. Seseorang yang religius pun tidak selalu harus tampil dengan sorban atau busana yang kental nuansa agamanya, untuk mendapat penilaian bahwa ia memegang nilai spiritual tinggi.
Melalui pendapat yang disampaikan, argumentasi dalam presentasi atau usulan yang dibawakan, orang sebetulnya sudah bisa meraba values yang dianut seseorang. Topi Margareth Thatcher tidak membedakan apakah ia wanita besi atau bukan wanita besi. Kejernihan amanah Jenderal Nasution tidak berasal dari polesan apapun, namun terasa benar berasal jauh dari dalam dirinya.
Ini berarti bahwa kunci untuk membuat citra pribadi tidak dengan mencekoki publik dengan “image” tertentu, namun membeberkan “track record” kesuksesan, menampilkan apa adanya kebiasan-kebiasaan individu sehari-hari, serta menggarisbawahi perkataan individu yang menggambarkan nilai yang dianutnya. Biarkan publik menilai sendiri.
Melihat hal ini, saya selalu mengingatkan di dalam berbagai kelas pelatihan, bahwa pandangan orang terhadap citra diri kita adalah sah dan benar adanya. Kalau ada orang beranggapan bahwa kita tidak “pleasant”, kita tidak bisa mengatakan mereka salah, karena itulah persepsi, kesan atau citra diri yang ditangkap oleh orang tersebut. Kita boleh berupaya untuk menjelaskan alasan kita bersikap demikian, namun tetap saja, pendapat orang mengenai citra diri kita itulah yang perlu diperhitungkan. Seorang kolumnis, Regina Brett, bahkan mengatakan: “What other people think of you is none of your business.” Dari sini kita bisa merasa betapa citra diri ini jauh dari jangkauan kontrol pribadi.
Maraknya dinamika dunia politik membuat kita semakin menyadari bahwa di negara kita para konsultan komunikasi massa bekerja keras untuk pembentukan citra positif pejabat yang sedang mendapat sorotan publik. Bila ada berita di media mengenai calon gubernur atau calon presiden dan kemudian banyak komentar miring yang menuduh situasi tersebut sebagai pencitraan, maka upaya pencitraan itu tergolong gagal. Ujung-ujungnya upaya pencitraan malah kerap dijadikan sindiran dan bahkan bahan olok-olokan. Padahal sebagai pemimpin, pejabat dan profesional kita memang membutuhkan pencitraan diri positif agar bisa sukses dan efektif di pekerjaan kita, bukan?
Kita tahu, Margareth Thatcher pun diminta untuk tidak menggunakan topinya lagi ketika ia sedang memperebutkan jabatan Perdana Menterinya. Namun, mengapa upaya pemolesan citra ini tidak mudah? Bukankah sudah ada pelajaran mengatur body language, olah vokal, public speaking, dan ketrampilan lain? Berarti upaya pencitraan ini sah, namun bila tidak dilakukan dengan hati-hati dan penuh rekayasa, maka upaya yang tidak murah ini begitu rentan gagal.
Citra diri vs potret pribadi
Seberapa sering Anda berdialog dengan diri sendiri di depan kaca? Apa yang Anda katakan? Bagaimana Anda memberi julukan pada diri sendiri? Kita bisa berhadapan dengan kaca dan tiba-tiba seolah menghadapi orang asing, yang selama ini tidak kita “kenal” atau memarahi bayangan kita sendiri, karena kurang diet dan terlihat gemuk. Sebaliknya, kita juga juga bisa mengatakan “good morning" dengan ramah dan memberi semangat saat bertatapan dengan diri sendiri.
“Mirror method” ini adalah salah satu cara yang bisa dimanfaatkan individu untuk melihat ke dalam diri sendiri dan memulai self appraisal terhadap diri. Tanpa kekuatan mawas diri ini, upaya menciptakan “kemasan” tidak bisa pas bila tidak disesuaikan dengan isinya. Kita bisa mengemas, memperkuat, tetapi tidak bisa memalsu.
Kita bisa perhatikan bahwa di dunia di mana kita semakin mudah melakukan imitasi, meniru, melakukan “spin-off” atau “knock-off” seperti sekarang, orang sering melupakan jati diri yang sebenarnya. Orang sering melupakan "diri" yang paling dalam bila sedang memoles citranya. Padahal, mempertahankan citra diri yang sesuai dengan jati diri sebenarnya adalah strategi yang paling ampuh, karena kekuatan kualitas diri ini tidak akan terhapus oleh badai persepsi buruk manapun.
Upaya, kebiasaan-kebiasaan kita dan nilai yang kita anut adalah gambaran diri kita. Kalau kita biasa bangun pagi, sudah siap bekerja di kantor sejak jam 6.30, maka citra diri kita sebagai orang yang rajin dan produktif segera terbentuk. Sebaliknya bila kita tidak dekat dengan wong cilik, tetapi demi pencitraan lalu mendadak berkunjung ke tempat kumuh, ikut makan dengan keluarga miskin, publik akan tahu, apakah tidakan kita ini upaya berpura-pura atau aslinya.
Seorang teman yang mengalami perceraian menyatakan bahwa ia tidak khawatir terhadap citranya sebagai janda. Ketika ada yang mempertanyakan, ia mengatakan: ”Upaya saya untuk mempertahankan perkawinan sudah sangat optimal dan mencapai titik di mana siapa pun yang mengalaminya pasti juga akan melakukan perceraian”. Itulah sebabnya tidak ada upaya untuk menutup-nutupi keadaan dirinya, sehingga penampilannya yang rileks justeru membawa daya tarik sendiri.
The real “you”
Melakukan “Marketing Me”, memang tidak mudah, namun bukannya tidak mungkin dilakukan. Bila kita memiliki ketrampilan, kebiasaan, hobi, ataupun keahlian yang unik dan khusus, apalagi ditambah “success journal” yang nyata, otomatis citra diri kita kuat melekat di mata orang lain. Meneg BUMN, yang menjadi ketua pembina klub-klub Barongsay memang sangat gemar menonton pertunjukan barongsay. Beliau pun langsung mendapat tempat di hati masyarakat di seputar kesenian ini, karena hobi yang dimilikinya.
Values yang ditangkap dari diri seseorang sebetulnya bisa lebih banyak bicara daripada penampilan, slogan, ataupun kemasan-kemasan menarik yang berusaha diciptakan. Seorang yang terkenal matre alias mementingkan uang, akan segera kelihatan palsu bila mendadak tampil sederhana dan seolah-olah tidak butuh uang. Seseorang yang religius pun tidak selalu harus tampil dengan sorban atau busana yang kental nuansa agamanya, untuk mendapat penilaian bahwa ia memegang nilai spiritual tinggi.
Melalui pendapat yang disampaikan, argumentasi dalam presentasi atau usulan yang dibawakan, orang sebetulnya sudah bisa meraba values yang dianut seseorang. Topi Margareth Thatcher tidak membedakan apakah ia wanita besi atau bukan wanita besi. Kejernihan amanah Jenderal Nasution tidak berasal dari polesan apapun, namun terasa benar berasal jauh dari dalam dirinya.
Ini berarti bahwa kunci untuk membuat citra pribadi tidak dengan mencekoki publik dengan “image” tertentu, namun membeberkan “track record” kesuksesan, menampilkan apa adanya kebiasan-kebiasaan individu sehari-hari, serta menggarisbawahi perkataan individu yang menggambarkan nilai yang dianutnya. Biarkan publik menilai sendiri.
Kamis, 08 September 2011
Menyandu Internet? Solusi Mengatasinya
Menurut polling, sepertiga wanita menggunakan social media sebagai hal pertama yang mereka lakukan setelah bangun tidur. Belum lagi tambahan berjam-jam untuk membuka e-mail, Facebook danTwitter. Tapi walaupun Anda terlihat “sibuk” senantiasa aktif dan eksis di social media, namun banyak ahli beranggapan bahwa Anda bergerak melakukannya tanpa berpikir. Seperti zombie! Menurut Nicholas Carr, penulis dari The Shallows: What The Internet is Doing to Our Brains, Anda tidak pernah benar-benar “terlibat”, makanya Anda tak pernah puas dan kecanduan! Kami akan memberikan tip bagaimana mengurangi kecanduan Anda terhadap social media.
Temui sahabat Anda
Semakin banyak waktu yang Anda habiskan di situs social network, semakin sedikit waktu yang akan Anda habiskan bersama teman-teman Anda. Ada beberapa kasus di mana ada orang yang tidak onlineselama seharian penuh, dan hubungan mereka menjadi lebih baik dengan orang-orang nyata. Mulai daristranger yang ditemui dalam kendaraan umum hingga pasangan mereka sendiri. “Tiba-tiba saja, mereka mempunyai pembicaraan yang lebih panjang dan dalam,” kata Susan Moeller, kepala dari International Center for Media and The Public Agenda di Universitas of Maryland, Amerika Serikat yang mengadakan studi tersebut. Jadi, kenapa tidak Anda membuat gadget-free-day? “Di saat Anda membuat waktu untuk menjauh dari teknologi, Anda mempraktekkan social skill yang bermanfaat,” kata Elias Aboujaoude, M.D, penulis Virtually You.
Jangan meng-klik tombol ‘read more’
Pernahkah Anda online untuk mencari tempat makan siang dan malah berakhir dengan menghabiskan waktu selama 2 jam untuk membaca review tidak penting? “Hal itu bernama takut kehilangan,” jelas Carr. Anda mengalami kekhawatiran tentang kemungkinan tidak membaca semua informasi penting yang tersedia. ”Tetapi dengan informasi yang terlalu banyak, sangat sulit bagi Anda untuk menyerap semuanya”. Jadi, batasi diri Anda selama lima menit saja, dan hal itu sudah lebih dari cukup kok untuk mendapatkan informasi yang Anda butuhkan.
Temukan fokus Anda
Semakin banyak gadget berarti semakin banyak hal yang harus dilakukan dan itu merupakan ide buruk. “Otak kita tidak dapat fokus dengan beberapa hal di saat bersamaan,” kata Carr. Setiap kali Anda berpikir mampu melakukan multitasking, sebenarnya otak Anda hanya mengganti fokus dengan sangat cepat. Membutuhkan waktu 64 detik untuk kembali ke tingkat konsentrasi di mana Anda telah berada sebelumnya, dan jika dikumpulkan hal tersebut membuat banyak waktu terbuang begitu saja. Cobalah untuk mulai fokus dengan satu hal saja. Moeller menyarankan Anda untuk berpuasa dari gadget selama satu hari. “Hal tersebut akan mengingatkan Anda bagaimana keberadaan Anda secara seratus persen”. Dengan menyadari hal tersebut kembali, lebih mudah untuk Anda mulai mengontrol kembali hidup Anda
Profesi Bergaji Tinggi
Masyarakat dewasa ini sudah tidak lagi melihat profesi hanya dari sisi prestise. Kini para pencari kerja umumnya memilih profesi yang dianggap bisa memberikan gaji lebih besar dan kesempatan yang lebih banyak.
Sedikitnya terdapat 10 jenis profesi yang bakal banyak dicari sekaligus memberikan pendapatan yang dipastikan bakal menjamin kehidupan. Profesi ini diperkirakan bakal melejit pada beberapa dekade mendatang dan tentunya menyediakan gaji di atas rata-rata.
Sejumlah indikator pendukung yang dijadikan standar dalam penilaian profesi menjanjikan ini diukur berdasarkan perubahan populasi dan arah perubahan operasional bisnis. Sementara jumlah pertumbuhan pekerjaan baru dihitung sejak 2008 hingga 2018.
Kendati data dalam penilaian ini menggunakan sampel dan data dari masyarakat Amerika Serikat (AS), sejumlah profesi yang diprediksi memberikan pendapatan besar pada masa depan ini juga banyak terdapat di Indonesia.
Inilah 10 profesi yang diprediksi bakal memberikan gaji besar di masa 10 tahun mendatang
Sedikitnya terdapat 10 jenis profesi yang bakal banyak dicari sekaligus memberikan pendapatan yang dipastikan bakal menjamin kehidupan. Profesi ini diperkirakan bakal melejit pada beberapa dekade mendatang dan tentunya menyediakan gaji di atas rata-rata.
Sejumlah indikator pendukung yang dijadikan standar dalam penilaian profesi menjanjikan ini diukur berdasarkan perubahan populasi dan arah perubahan operasional bisnis. Sementara jumlah pertumbuhan pekerjaan baru dihitung sejak 2008 hingga 2018.
Kendati data dalam penilaian ini menggunakan sampel dan data dari masyarakat Amerika Serikat (AS), sejumlah profesi yang diprediksi memberikan pendapatan besar pada masa depan ini juga banyak terdapat di Indonesia.
Inilah 10 profesi yang diprediksi bakal memberikan gaji besar di masa 10 tahun mendatang
1. Penasihat keuangan pribadi
Jumlah pekerjaan baru: 62.800
Persentase kenaikan: 30,1 persen
Rata-rata gaji per tahun: US$64.750 (Rp550,37 juta)
Profesi penasihat keuangan pribadi ini menyediakan jasa bagi masyarakat yang membutuhkan jasa untuk pengaturan seperti pajak, investasi, dan asuransi.
Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics (BLS) Amerika, penasihat keuangan akan sangat dibutuhkan oleh jutaan pegawai yang berencana pensiun dalam 10 tahun mendatang. Seiring bertambahnya jumlah penduduk pada era baby boom, kebutuhan penasihat keuangan ditaksir bakal naik dan banyak orang akan mencari jasa dari para ahli keuangan ini.
Pada tahun 2018, jumlah penasihat keuangan pribadi diperkirakan tumbuh lebih dari 60 ribu orang atau 30 persen dibandingkan posisinya saat ini.
2. Dental Hygienist
Jumlah pekerjaan baru: 67.600
Persentase kenaikan: 36,1 persen
Rata-rata gaji: US$68.250 (Rp580,12 juta)
Jumlah pekerjaan baru: 62.800
Persentase kenaikan: 30,1 persen
Rata-rata gaji per tahun: US$64.750 (Rp550,37 juta)
Profesi penasihat keuangan pribadi ini menyediakan jasa bagi masyarakat yang membutuhkan jasa untuk pengaturan seperti pajak, investasi, dan asuransi.
Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics (BLS) Amerika, penasihat keuangan akan sangat dibutuhkan oleh jutaan pegawai yang berencana pensiun dalam 10 tahun mendatang. Seiring bertambahnya jumlah penduduk pada era baby boom, kebutuhan penasihat keuangan ditaksir bakal naik dan banyak orang akan mencari jasa dari para ahli keuangan ini.
Pada tahun 2018, jumlah penasihat keuangan pribadi diperkirakan tumbuh lebih dari 60 ribu orang atau 30 persen dibandingkan posisinya saat ini.
2. Dental Hygienist
Jumlah pekerjaan baru: 67.600
Persentase kenaikan: 36,1 persen
Rata-rata gaji: US$68.250 (Rp580,12 juta)
Dental Hygienist merupakan profesi yang berjalan bersama dokter gigi, yaitu membersihkan gigi dan mendampingi dalam proses operasi. Gaji dari profesi ini diperkirakan mencapai US$70.000 per tahun. Banyak perguruan tinggi di AS kini menyediakan program perawatan gigi yang sebagian besar bisa diselesaikan dalam 4 tahun.
Berdasarkan data BLS, kebutuhan jasa perawatan gigi akan meningkat seiring bertambahnya jumlah populasi masyarakat dan kalangan tua akan bertambah banyak sehingga memerlukan jasa perawatan gigi.
Pada tahun 2008, perawat gigi berjumlah sekitar 175.ooo orang dan akan betambah menjadi 240 ribu orang pada tahun 2018.
3. Insinyur Teknik Sipil
Jumlah pekerjaaan baru: 67.600
Persentase kenaikan: 24,1 persen
Rata-rata gaji: US$77.650 (Rp660,02 juta)
Disaat jumlah profesi insinyur akan tumbuh sekitar 10 persen di AS, jumlah insinyur yang khusus bergerak di bidang teknik sipil akan meningkat rata-rata 1-2 kali lebih cepat. Kondisi ini terjadi karena pekerjaan insinyur untuk profesi ini yang melibatkan keahlian transportasi, tata kota, dan pembangunan infrastruktur industri, sangat berkaitan dengan pertumbuhan populasi penduduk.
4. Analis Pasar Modal
Berdasarkan data BLS, kebutuhan jasa perawatan gigi akan meningkat seiring bertambahnya jumlah populasi masyarakat dan kalangan tua akan bertambah banyak sehingga memerlukan jasa perawatan gigi.
Pada tahun 2008, perawat gigi berjumlah sekitar 175.ooo orang dan akan betambah menjadi 240 ribu orang pada tahun 2018.
3. Insinyur Teknik Sipil
Jumlah pekerjaaan baru: 67.600
Persentase kenaikan: 24,1 persen
Rata-rata gaji: US$77.650 (Rp660,02 juta)
Disaat jumlah profesi insinyur akan tumbuh sekitar 10 persen di AS, jumlah insinyur yang khusus bergerak di bidang teknik sipil akan meningkat rata-rata 1-2 kali lebih cepat. Kondisi ini terjadi karena pekerjaan insinyur untuk profesi ini yang melibatkan keahlian transportasi, tata kota, dan pembangunan infrastruktur industri, sangat berkaitan dengan pertumbuhan populasi penduduk.
4. Analis Pasar Modal
Jumlah pekerjaan baru: 70.100
Persentase kenaikan: 28,1 persen
Rata-rata gaji: US$60.570 (Rp514,84 juta)
Analis pasar modal selama ini diketahui banyak berhubungan dengan perusahaan besar untuk memberikan informasi mengenai kondisi demografis dan target audiens.
Persentase kenaikan: 28,1 persen
Rata-rata gaji: US$60.570 (Rp514,84 juta)
Analis pasar modal selama ini diketahui banyak berhubungan dengan perusahaan besar untuk memberikan informasi mengenai kondisi demografis dan target audiens.
Selama beberapa dekade mendatang, individu yang bekerja di sektor ini akan menjadi incaran para perusahaan. BLS memperkirakan, analis pasar dengan spesialisasi yang luas, akan tumbuh lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan pekerjaan karena kompetisi diantara perusahaan yang berencana memperluas pangsa pasar.
Pada tahun 2018, diperkirakan akan ada kebutuhan jumlah analis pasar hingga 70 ribu pekerjaan baru.
5. Analis Sistem Computer
Pada tahun 2018, diperkirakan akan ada kebutuhan jumlah analis pasar hingga 70 ribu pekerjaan baru.
5. Analis Sistem Computer
Jumlah pekerjaan baru: 108.100
Persentase kenaikan: 20,3 persen
Rata-rata gaji: US$77.740 (Rp660,79 juta)
Analis Sistem Komputer bekerja untuk membangun dan mengelola jaringan komputer bagi perusahaan untuk digunakan dalam berbagai pakai file dan komunikasi internal di kantor. Mereka juga mengelola keamanan web di dalam jaringan.
Persentase kenaikan: 20,3 persen
Rata-rata gaji: US$77.740 (Rp660,79 juta)
Analis Sistem Komputer bekerja untuk membangun dan mengelola jaringan komputer bagi perusahaan untuk digunakan dalam berbagai pakai file dan komunikasi internal di kantor. Mereka juga mengelola keamanan web di dalam jaringan.
Profesi yang tersedia untuk mereka yang berusia maksimal 30 tahun ini diperkirakan bakal tumbuh 20 persen atau 110 ribu posisi pada akhir dekade ini. Meskipun perusahaan banyak yang mencari pekerja lulusan perguruan tinggi, tidak tertutup kemungkinan bagi para lulusan sekolah menengah atau memiliki sertifikat untuk mengisi posisi ini.
Rata-rata pendapatan tahunan untuk profesi ini diperkirakan mencapai US$77.740 yang merupakan salah satu pendapatan terbaik yang bisa diperoleh oleh mereka yang tidak memperoleh pendidikan di perguruan tinggi.
Rata-rata pendapatan tahunan untuk profesi ini diperkirakan mencapai US$77.740 yang merupakan salah satu pendapatan terbaik yang bisa diperoleh oleh mereka yang tidak memperoleh pendidikan di perguruan tinggi.
Selasa, 16 Agustus 2011
3 Penyumbat Produktivitas
Merasa delapan jam sehari nggak cukup untuk mengerjakan tugas kantor? Jangan langsung menuduh bos memberikan tugas terlalu banyak, ah. Bisa jadi, kesalahan justru ada di pihak kita, tuh. Setidaknya, ada 7 hal sepele yang mungkin sering kita lakukan dan terbukti bisa menghambat produktivitas.
- (Keseringan) update Twitter
Mentang-mentang nggak diblokir kantor, bukan berarti kita perlu online sepanjanghari. Kalau memang nggak bisa lepas dari jeratan situs-situs yang nggak ada hubungannya dengan pekerjaan, setidaknya batasi dalam sehari hanya 3x: sebelum kerja, setelah makan siang, dan sebelum pulang.
- 'Meja kapal pecah'
Maksudnya:berantakan banget! Akibatnya kita memerlukan waktu lebih buat mencaridokumen yang diperlukan. Begitu juga bila kita asal-asalan menyimpanfiledi komputer. Sebaiknya susun file dalam folder yang sudah dibagi berdasarkan kategori biar mudah ditemukan. Jangan lupa membuat backupfile, jadi nggak perlu panik bila sewaktu-waktu datanya rusak atau hilang.
- Perut (terlalu) kenyang
Harumnya aroma sate ayam, bebek goreng, hingga sotomie sering bikin kita kalappas istirahat makan siang. Padahal bila makan berlebih sampai kekenyangan, oksigen di otak akan 'lari' ke perut untuk membantu proses pencernaan. Akibatnya, kita jadi mengantuk dan nggak fokus bekerja, deh.
Trik Ampuh Lolos Psikotes
Malam sebelum psikotes, luangkan waktu istirahat dan tidur yang cukup. Hal ini dibutuhkan agar kondisi tubuh cukup prima—psikotes biasanya berlangsung seharian. Kebugaran akan mempengaruhi konsentrasi.
Pada hari-h, berangkatlah lebih awal. Selain mencegah terlambat, kita jadi memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan lokasi psikotes.
Berdoalah sebelum mulai, sehingga lebih tenang dalam mengerjakan.
Jangan lupa sarapan, agar memiliki stamina kuat untuk menjalani seluruh proses.
Sebelum mulai, sebaiknya ke kamar kecil dulu karena biasanya di tengah-tengah tes nggak diperbolehkan meninggalkan tempat. Jadi, konsentrasi nggak terganggu cuma gara-gara kebelet, he he he.
Dengarkan baik-baik petunjuk yang disampaikan pengawas. Pastikan kita memahami apa yang harus dilakukan sebelum mulai mengerjakan. Jika ada yang nggak dimengerti, jangan malu untuk bertanya kepada pengawas sebelum tes dimulai.
Jawab pertanyaan apa adanya—nggak dibuat-buat. Yakin pada kemampuan sendiri, nggak perlu melirik jawaban peserta lain.
Pada hari-h, berangkatlah lebih awal. Selain mencegah terlambat, kita jadi memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan lokasi psikotes.
Berdoalah sebelum mulai, sehingga lebih tenang dalam mengerjakan.
Jangan lupa sarapan, agar memiliki stamina kuat untuk menjalani seluruh proses.
Sebelum mulai, sebaiknya ke kamar kecil dulu karena biasanya di tengah-tengah tes nggak diperbolehkan meninggalkan tempat. Jadi, konsentrasi nggak terganggu cuma gara-gara kebelet, he he he.
Dengarkan baik-baik petunjuk yang disampaikan pengawas. Pastikan kita memahami apa yang harus dilakukan sebelum mulai mengerjakan. Jika ada yang nggak dimengerti, jangan malu untuk bertanya kepada pengawas sebelum tes dimulai.
Jawab pertanyaan apa adanya—nggak dibuat-buat. Yakin pada kemampuan sendiri, nggak perlu melirik jawaban peserta lain.
Apa Yang Diukur Oleh Psikotes?
Sebenarnya apa, sih, yang dilihat perusahaan dari psikotes? Lalu, sejauh mana psikotes mempengaruhi keputusan perusahaan untuk merekrut kita?
Psikotes atau yang istilah kerennya disebut psychologicalassessment merupakanproses pengumpulan dan pengintegrasian data individu dengan tujuan melakukan evaluasi psikologis. Proses ini menggunakan alat bantuseperti tes, wawancara, studi kasus, observasi, dan prosedurpengukuran lain.
Jikadikaitkan dengan tujuan seleksi pekerjaan, psikotes merupakan prosesuntuk melihat apakah ada kesesuaian dari karakter individu denganpersyaratan jabatan atau pekerjaan. Sehingga nantinya pelamar yangditerima memang merupakan orang yang paling tepat dengan jabatanatau pekerjaan yang dituju. Istilahnya: theright man in the right place.
Misalnya untuk posisi accounting,perusahaanakan mencari individu yang memiliki tingkat ketelitian kerja dan dayatahan tinggi. Sementara untuk posisi marketing,perusahaanakan mencari individu yang menyukai kerja lapangan, suka bertemuorang lain, suka tantangan, motivasi kerja tinggi, dan memilikiinisiatif kerja yang baik.
Jadibagi kita yang cenderung introvert,nggakusah heran, deh, kalau gagal terus pas melamar posisi marketing.Karakterkita nggak sesuai dengan karakter pekerjaan, sih....
Apayang diukur?
Ada tiga hal utama yang digali dari individu saatpsikotes, yaitu:
Aspek kemampuan
Misalnyakemampuan analitis dan sintesis (daya nalar) dalam pemecahan masalah,kemampuan hitungan, pengetahuan umum, dll.
Aspek sikap kerja
Misalnyakecepatan kerja, ketelitian, daya tahan terhadap tekanan (stres),ketekunan, keteraturan dalam bekerja, dll.
Aspek kepribadian
Misalnyakepemimpinan, kerjasama, kematangan emosi, kepercayaan diri,penyesuaian diri, keterampilan interpersonal, motivasi, dll.
Kenapa tesnya berbeda-beda?
Adabanyak variasi alat tes. Tentunya, masing-masing alat tes mengukursuatu hal yang spesifik. Psikolog atau biro psikologi akanmenggunakan alat tes yang dirasa sesuai kebutuhan. Karena itu, tiapperusahaan bisa menggunakan kombinasi alat tes yang berbeda.
Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar, karena bisasaja jobrequirementyang dibutuhkan berbeda meski jabatannya sama. Misalnya,kompetensi yang dibutuhkan manajer HRD di perusahaan media berbedadengan manajer HRD di perusahaan minyak.
Selain itu, standar yang dibutuhkan setiap perusahaan juga berbeda.Contohnya, nih, nilai 7 pada aspek kepemimpinan di perusahaan Xdianggap cukup untuk menjalani tugas sebagai manager. Sementara diperusahaan Y, standar minimal untuk menjadi manager adalah nilai 8.
Biasanya,perbedaan tersebut juga dipengaruhi karakteristik dan budayaperusahaan. Antara perusahaan lokal vs multinasional, perusahaan kotakecil vs kota besar, maupun perusahaan industri vs jasa, kebutuhannyatentu berbeda, dong. Karena itu, kombinasi psikotesnya pun berbeda.
Langganan:
Postingan (Atom)