Selasa, 02 April 2013

Servis, Bukan Hanya Senyum Ramah


Apa yang bikin nasi goreng resto lebih mahal dibanding nasi goreng tektek? Padahal, bahannya sama: nasi digoreng dengan bumbu, ditambah telur, acar, lalu ditaburi bawang goreng. Rasanya kurang lebih sama, kenyangnya pun sama. Bedanya, untuk menyuguhkan nasi goreng tektek, yang dipakai adalah piring milik sendiri yang dicuci sendiri. Tampilan nasi gorengnya pun seadanya. Sedangkan nasi goreng resto disajikan dengan lebih cantik, pakai hiasan mentimun dan tomat berbentuk macam-macam. Pelayannya ramah, dan bayarnya bisa ngutang, alias pakai kartu kredit. Kesimpulannya, yang membedakan harga nasi goreng tektek dan resto adalah servis.

Namun, servis yang bagus tidak cukup untuk membuat roda bisnis terus berputar. Lalu, servis seperti apa yang bikin pelanggan terus datang lagi, sehingga laba perusahaan bisa terus meningkat?

8 Ujung Tombak
Servis adalah justifikasi kita pada harga yang ditawarkan sebuah usaha. Produk boleh sama, tetapi faktor-faktor di sekelilingnya bisa menjadi pembeda. Jika frontliner (pelayan atau customer service) sudah melemparkan senyum dan sapa, bukan berarti pelayanan di perusahaan tersebut sudah bisa dikatakan baik. Cyltamia Irawan, service consultant dari Lentera, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen SDM, menjelaskan unsur-unsur servis, yang disebutnya 8 Bites of Service, berikut ini:

1. Access
Pelanggan akan dengan mudah menyebut bahwa pelayanan bisnis Anda bagus, kalau ia memiliki kemudahan dalam mengajukan keluhan. Bisa melalui telepon, SMS, e-mail, atau kotak saran. Pastikan sarana ini tersedia dan terpantau.

2. Responsiveness
Wadah untuk mengajukan keluhan sudah tersedia, tetapi keluhan pelanggan tak pernah ditanggapi. Padahal, janjinya akan di-follow-up. Kotak saran jangan dibiarkan berdebu, lama tak dibuka. Atau, mentang-mentang tak berhadapan langsung dengan pelanggan yang ngomel-ngomel, jangan sepelekan e-mail atau SMS. Kalau dibiarkan saja, pelanggan bisa menulis di koran, dan akibatnya seluruh negeri jadi tahu ‘aib’ perusahaan Anda.

3. Competency
Sikap pelanggan bisa berbeda-beda jika tidak puas dengan pelayanan Anda. Ada yang hanya diam, lalu tak pernah kembali. Ada pula yang komplain habis-habisan, lalu berteriak, “Saya mau bicara dengan manajermu saja!” Itu bisa terjadi jika frontliner tak punya kemampuan untuk memberikan solusi, bahkan tidak punya product knowledge yang cukup. Jadi, para frontliner ini, tidak bisa tidak, harus pintar.

4. Courtesy
Bagaimanapun, menyapa pelanggan dengan senyum harus dikedepankan. Salam pembuka, seperti ‘selamat pagi’ atau ‘selamat siang’, tak pernah salah. Keramahan ini membuat pelanggan merasa dihargai. Jika pelanggan marah-marah, tetapi tetap disuguhi senyum, emosinya bisa langsung lumer. Soalnya, dia jadi tidak enak hati.

5. Reliability
Menepati janji adalah keharusan. Frontliner-nya sopan, tetapi makanan yang katanya akan diantar dalam 10 menit, sudah 20 menit, kok, belum terhidang juga. Atau, Anda menjual barang elektronik dengan harga terjangkau, tetapi suku cadangnya sulit didapat.

6. Speed
Di era sibuk seperti saat ini, pelanggan tak boleh dibiarkan menunggu atau mengantre terlalu lama. Ketika pelanggan meminta bon tagihan, pegawai Anda harus segera bergerak. Jangan sampai membuatnya memanggil pegawai yang lain, hanya untuk diabaikan lagi dengan alasan toko sedang ramai pengunjung.

7. Security
Pelanggan harus merasa aman dan nyaman. Barang yang tertinggal, dompet misalnya, sebaiknya Anda kirimkan. Kalau tidak tercantum alamat, simpanlah sampai pelanggan itu datang kembali. Tak hanya soal barang, keamanan juga berarti Anda mampu menjaga kerahasiaan data pelanggan.

8. Tangible
Katanya, omset bisnis Anda mencapai satu miliar per bulan. Tetapi, kenapa bangunan tempat Anda berbisnis dibiarkan tak terawat? Penampilan para frontliner juga tidak meyakinkan. Kalau demikian, bagaimana pelanggan akan percaya bahwa perusahaan ini bonafid?

Reward, Penting tapi Sering Terlupakan


Sebuah perusahaan kargo memberikan training mengenai servis kepada Anita, petugas customer service yang dinilai memiliki prestasi memuaskan. Setelah training selama satu minggu, Anita tampil beda. Penampilannya lebih profesional, rambutnya yang panjang dicepol rapi, wajahnya pun dipulas dengan make up tipis. Anita jadi murah senyum, bahkan mau capek-capek berdiri saat menyapa pelanggan.

Tetapi, perubahan positif Anita ini berantakan karena ia duduk bersebelahan dengan Rania, yang tidak dipilih perusahaan untuk ikut training. Rania tetap slebor. Boro-boro menyapa pelanggan dengan senyum, dandan saja tidak, dan rambutnya selalu diikat sembarangan.

Menurut Cyltamia Irawan, service consultant dari Lentera, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen SD, manusia adalah makhluk sosial. Ia tak ingin merasa asing dan selalu ingin diterima oleh lingkungan. Maka, tak heran, jika sikap profesional Anita hanya berlangsung kurang dari sebulan. Selain dianggap tak biasa oleh teman ’seperjuangannya’, perusahaan tidak memberikan reward, tidak peduli pada usaha Anita untuk membantu membangun citra perusahaan.

Perlu diingat, reward and punishment tidak selalu berupa uang. Perusahaan bisa memberikan recognition letter, yang intinya penghargaan terhadap sikap pegawainya. “Kalau tidak ada uang, perusahaan harus mencari cara lain yang sama-sama bisa memompa semangat pegawai untuk mengedepankan servis kepada pelanggan,” kata Mia.

Servis memegang peranan penting karena pelanggan tidak pernah bertanya, berapa aset perusahaan, atau berapa biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membangun gedung kantor yang megah. “Yang dinilai pelanggan adalah apa yang dia alami saat itu. Pengalaman mereka seperti kegiatan memotret snapshot. Kalaupun frontliner Anda mungkin sedang mengalami masalah pribadi, pelanggan tak mau tahu. Pokoknya, mereka akan selalu menuntut diperlakukan dengan baik.”

Kapan Merekrut Pegawai Baru?


Salah satu tugas terpenting seorang wirausaha adalah memimpin dan mengelola pegawai. Selain harus memastkan bahwa para pegawai punya posisi dan fungsi yang tepat, mereka juga dalam jumlah yang pas, agar perusahaan bisa berjalan dengan lancar.

Kini usaha Anda berkembang pesat, dan Anda pernah berpikir untuk menambah pegawai baru. Namun, Anda masih belum yakin benar, apakah ini memang pilihan yang tepat. Nah, enam tanda berikut ini mungkin bisa membantu:

1. Para pegawai bekerja dengan sangat keras, dan mereka menunjukkannya dengan lisan ataupun tindakan, supaya Anda tahu. Mereka misalnya mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Keluhan semacam ini umum terjadi, dan tugas Andalah untuk memastikan apakah ini memang benar. Caranya, cobalah berbicara dengan mereka dan mintalah untuk menunjukkan bahwa mereka memang overworked. Lalu bandingkan dengan jumlah kehadiran serta tingkat produktivitas mereka.

Jika temuan Anda menguatkan klaim mereka, Anda bisa memutuskan untuk me-reorganisasi dan memperbaiki peran serta dan tanggung jawab para pegawai, agar bisa terdistribusi lebih sesuai dan bisa mengikut alur kerja sekarang. Atau, Anda bisa menggunakan informasi baru ini sebagai panmduan untuk merekrut pegawai tambahan.

2. Pegawai minta dikurangi 1 atau 2 tugasnya, atau minta tambahan waktu atau lembur untuk menangani pekerjaan yang sekarang ada.

3. Grafik penjualan produk atau layanan Anda meningkat stabil, bukan sekadar naik karena ada satu atau dua konsumen yang tiba-tiba membeli dalam jumlah banyak.

4. Anda melihat kesempatan untuk berkembang di usaha Anda, atau di industri yang berkaitan dengan produk Anda. Anda juga telah menimbang-nimbang risiko yang mungkin timbul, dan akhirnya memutuskan sekaranglah waktunya untuk berekspansi. Namun staf yang ada tidak bisa atau tidak mampu untuk memegang tanggung jawab tambahan ini. Jadi satu-satunya jalan adalah menambah staf.

5. Pengetahuan dan ketrampilan pegawai yang ada sudah bagus untuk tingkat produksi sekarang, namun untuk berekspansi, Anda butuh pengetahuan dan skill yang lebih tinggi, atau butuh skill lain yang tidak dimilki staf-staf Anda sekarang ini.

6. Tingkat pendapatan usaha sudah sesuai atau melampaui target, dan Anda yakin trennya terus meningkat. Daripada memberi bonus kepada Anda atau para pegawai yang ada, Anda berpikir lebih baik uangnya untuk menambah pegawai baru agar tetap bisa mempertahankan tingkat keuntungan tersebut.

11 Syarat untuk Staf Pembukuan


Sebagai wirausaha, kita sering berpikir bisa mempelajari semua hal yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Namun jika keuangan dan pembukuan adalah bidang yang menjadi kelemahan Anda, tak ada salahnya Anda merekrut tenaga pembukuan. Jangan sampai usaha Anda selalu rugi, atau malah tutup, gara-gara tidak ada pembukuan.

Namun, sebelum merekrut staf pembukuan, pastikan ia tahu apa yang harus dikerjakan, dan Anda juga tahu apa yang diharapkan darinya. Sebelas kriteria berikut bisa dipakai agar Anda memperoleh staf pembukuan yang tepat:

1. Punya pengetahuan yang baik tentang pembukuan dan akuntansi. Ia harus tahu perbedaan 5 jenis akun dasar, yakni aset, liabilitas (kewajiban), ekuitas (modal), pemasukan, dan pengeluaran.

2. Memahami gambaran dasarnya. Jika Anda membeli suatu barang untuk keperluan usaha, misalnya mesin jahit, apakah ia tahu cara membuat akun aset dan kewajiban? Apakah ia tahu bagaimana mengalokasikan pembayaran bunga maupun cicilan untuk mengganti penurunan nilai barang?

3. Berorientasi pada detil. Ia harus mampu fokus pada hal-hal kecil: bon pembelian bensin, kuitansi penjualan, uang kembalian, piutang ke salah satu distributor, dan sebagainya. Ini akan membuat hal-hal besar lainnya bisa ia tangani pula. Anda tak akan punya waktu untuk membimbingnya, jadi ia harus mampu menangani sendiri semua hal kecil yang butuh ketelitian.

4. Mematuhi prosedur. Ia harus mematuhi prosedur keuangan dan bertanggung jawab untuk semua hal yang berkaitan dengan keuangan, tanpa perlu Anda ajari lagi.

5. Menyampaikan laporan keuangan bulanan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Tiga laporan keuangan penting yang harus ia berikan adalah neraca keuangan, laporan untung-rugi, dan laporan aliran kas.

6. Harus paham cara melakukan costing (pembiayaan) serta bisa melacak semua biaya dari tiap detil pekerjaan. Costing ini sangat penting agar Anda tahu seberapa banyak sebenarnya pengeluaran bisnis Anda. Anda harus bisa bergantung pada keakuratan laporan staf pembukuan.

7. Paham bidang usaha Anda. Meski ini bisa dipelajari sambil jalan, akan lebih baik jika merekrut orang yang berpengalaman di bidang yang sejenis dengan usaha Anda. Meski pembukuan untuk toko ritel, salon rambut, warnet, jasa laundry ataupun usaha lainnya punya dasar yang sama, namun semuanya berbeda. Masing-masing bidang usaha punya istilah maupun aspek-aspek usaha yang berbeda, yang hanya bisa dipelajari di dalam pekerjaan.

8. Punya ketrampilan komunikasi yang baik. Jika staf pembukuan itu kurang mengerti tentang suatu pengeluaran, pemasukan, invoice, atau sejenisnya, ia harus mau meminta klarifikasi dan bertanya.

9. Harus paham komputer. Mengerjakan laporan keuangan secara manual kini sudah bukan zamannya lagi. Jadi, selain harus bisa mengopersikan software akunting, staf pembukuan juga harus familiar dengan Word, Excel, e-mail, dan internet.

10. Mau meningkatkan pengetahuan. Ia harus punya komitmen untuk meningkatkan ketrampilan pribadi dengan ikut kursus ataupun belajar sendiri, untuk menjamin agar ia tetap update dengan ketrampilan pembukuan.

11. Mau berkomitmen. Jika Anda merekrut staf pembukuan part-time, pastikan ia orang yang memprioritaskan usaha Anda. Jangan sampai ia mengerjakan tugas-tugas pembukuannya ‘ketika ia sempat’. Bisa-bisa bisnis Anda jadi prioritas terakhirnya. Anda memerlukan orang yang fokus dan bisa menjamin informasi keuangan usaha Anda tersedia saat diperlukan.

Jangan Salah Memilih Pegawai


Saat merekrut pegawai baru, apakah Anda cenderung mencari orang yang punya kesamaan dengan Anda? Misalnya kesamaan dalam tatakrama, penampilan, kecerdasan, atau kebiasaan? Atau bahkan juga kesamaan latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, suku, jender, hingga kepercayaan?

Tak apa-apa, sebab banyak juga wirausaha lain yang bersikap seperti Anda. Hanya saja, akan timbul banyak masalah dengan perekrutan pegawai yang sering disebut sebagai merekrut ‘cermin’ atau ‘klon’ ini.

Memang, ada beberapa alasan positif mengapa pegawai ‘klon’ ini lebih dipilih. Pertama, bisa langsung tahu kandidat mana yang cocok dan akan berguna bagi usaha Anda. Tentu, menurut persepsi Anda. Kedua, Anda yakin pegawai itu telah memiliki hal-hal praktis yang bisa langsung diaplikasikan secara efektif pada usaha Anda. Ia tahu mana yang bisa menyebabkan kegagalan dan tahu mana strategi menuju sukses. Toh, dalam banyak hal ia memang mirip Anda.

Para pegawai ini juga akan lebih sedikit beradu argumen, butuh waktu lebih sedikit untuk saling mengerti, berkomunikasi lebih baik, dan melakukan pencapaian lebih banyak. Lebih jauh, mereka mungkin akan punya kesamaan minat, berinteraksi dengan sesama pegawai secara lebih intens, dan, tergantung budaya kerja yang Anda terapkan, mereka bisa bekerja sama ataupun bekerja sendirian secara lebih baik. Singkatnya, dengan merekrut pegawai ‘klon’ ini, Anda yakin bisnis Anda akan lebih sukses.

Namun, merekrut pegawai seperti ini bisa membuat Anda kehilangan banyak peluang, dan akhirnya berujung pada kesulitan dan masalah.

Penyebabnya, demi alasan kesamaan, Anda mungkin akan menolak calon pegawai dengan ketrampilan yang bisa melengkapi atau menyempurnakan usaha Anda. Padahal, pegawai yang berbeda bisa mendorong budaya perusahaan Anda untuk tumbuh dan berkembang. Ujung-ujungnya, tercipta lingkungan yang lebih produktif, inovatif, menantang, dan akhirnya memberi hasil lebih baik.

Jika Anda hanya mencari pegawai yang punya banyak kesamaan, akhirnya nanti tercipta keseragaman. Karena seragam, seringkali mereka menolak ide yang berbeda, meskipun lebih bagus. Atau, lebih buruk, mereka tidak pernah memberikan opini yang berbeda karena takut akan tampak ‘tidak sejalan’.

Dampaknya, para pegawai itu berpenampilan, berpikir, dan bertindak seperti Anda, bosnya. Hal ini mengakibatkan para pegawai tidak mendapat tantangan dari rekan kerja lainnya, tidak cukup bertanya ‘mengapa’, serta lebih banyak setuju. Padahal ketidaksetujuan bisa memunculkan lebih banyak pilihan, perspektif, opini, dan sudut pandang yang baru.

Jadi, meskipun merekrut ‘cermin’ itu membantu Anda menyelesaikan suatu masalah atau mengambil tindakan secara lebih cepat, namun dengan keseragaman itu, apa yang akan terjadi dengan inovasi dan kreativitas? Apa yang akan terjadi dengan keberanian mengambil risiko? Siapa yang akan menjadi penentang, yang bisa mengusulkan saran atau strategi yang berbeda?

Sebagai wirausaha, ada baiknya untuk terbuka terhadap keragaman, tidak hanya dalam hal ras, jender, atau orientasi seksual, tapi juga dalam hal ketrampilan, sikap, minat, latar belakang, dan pengalaman. Hargai bahwa setiap pegawai bisa membawa pendekatan yang unik bagi tempat kerjanya. Mereka yang berbeda karakter itu bisa tidak setuju dengan staf lain dalam hal ide dan argumen, namun tetap bersikap wajar dan profesional.

Adanya perbedaan-perbedaan bisa membuat orang berpikir, bertindak, dan merasakan sesuatu dengan cara yang baru dan berbeda. Inovasi, produktivitas, moral dan kepuasan kerja bisa meningkat. Opini yang berbeda bisa memicu pemikiran dan ide-ide baru untuk sebuah proses, prosedur, produk, dan layanan, namun semua pegawai tetap akan bekerja sama untuk mencapai tujuan itu.

Jika Anda, bosnya, mau mengambil risiko untuk merekrut pegawai yang berbeda, maka akan banyak peluang penting yang bisa ditemukan untuk memajukan usaha Anda.

7 Kesalahan dalam Bermitra Bisnis


Bermitra dalam membangun bisnis, entah dengan teman atau kerabat, bukanlah hal yang aneh. Kadang kemitraan malah diperlukan, terutama saat baru memulai usaha. Alasannya sederhana: bisa saling melengkapi keahlian, berpatungan modal, berbagi biaya operasional, hingga sharing peralatan kantor. Anggapan bahwa sinergi antara orang yang punya modal dengan orang yang punya ketrampilan akan lebih berpeluang sukses, membuat kemitraan juga banyak dipertimbangkan.

Secara teori, kemitraan memang bagus untuk memulai bisnis. Namun tidak selalu berarti cara terbaik. Sebab bermitra bisnis itu mirip seperti menikah, yang kalau di Amerika Serikat, lebih dari separuhnya kandas. Dalam bermitra, banyak masalah yang harus ditangani: stres, egoisme masing-masing pihak, perbedaan karakter, masalah keuangan, biaya overhead tiap bulan, pengeluaran sehari-hari, hingga masalah karyawan.

Agar kemitraan bisa sukses dan Anda terhindar dari bahaya tersembunyi yang biasa timbul, tak ada salahnya Anda memperhatikan 7 kesalahan yang sering dilakukan orang dalam bermitra bisnis:

1. Berbagi modal, bukan biaya.
Kapan pun Anda sharing dalam bentuk modal ke dalam bisnis, apakah itu uang, barang, atau informasi, itu sama artinya dengan memberikan milik Anda ke perusahaan patungan itu. Di dunia yang sempurna, mitra Anda itu pasti lurus, jujur, berintegritas penuh, dan sama sekali tidak tergoda untuk mengambil ‘hadiah’ itu dan menganggapnya sebagai milik sendiri.

Namun, dunia tidak sempurna. Jadi, daripada setor modal, lebih baik buatlah perjanjian untuk berbagi biaya-biaya, yang besarnya proporsional dengan porsi kepemilikan usaha. Ini akan lebih aman, terutama jika mitra atau Anda sendiri kemudian memutuskan untuk keluar dari kemitraan.

2. Menjadikannya mitra karena Anda tidak mampu menggajinya.
Ini kesalahan yang paling fatal, namun banyak terjadi. Contohnya: Anda punya ide bisnis, sementara teman Anda, Dewi, punya ketrampilan untuk menjalankannya. Karena tak mampu menggajinya, Anda dan Dewi bersepakat untuk berbagi tugas dan keuntungan. Yang terjadi kemudian, Anda dan Dewi berselisih akibat kinerjanya yang buruk, namun Anda tetap harus ikut bertanggung jawab, karena perjanjian kemitraan itu.

Jika Anda punya ide dan orng lain punya skill-nya, rekrut saja dia sebagai staf. Atau, buatlah perjanjian seperti kontrak antara pebisnis dengan pemasok. Jangan memberikan apa yang seharusnya tidak perlu diberikan.

3. Tidak adanya perjanjian legal dan tertulis.
Menjalin kemitraan selayaknya diwujudkan dalam perjanjian legal, hitam di atas putih. Setiap detail dan kewajiban didefinisikan secara jelas, ditulis, dan disetujui kedua belah pihak. Mintalah konsultan bisnis untuk membuatkan perjanjian itu.

4. Mempunyai porsi kemitraan 50:50.
Setiap bisnis, termasuk kemitraan, butuh seorang bos. Jika Anda memutuskan untuk menjalin kemitraan, buatlah di mana proporsinya 60:40, 70:30, 65:35. Lalu tempatkan orang kunci Anda untuk menjaga akuntabilitas dan kontrol operasi secara keseluruhan.

5. Tidak memilih kemitraan terbatas.
Salah satu kekurangan perjanjian kemitraan adalah asumsi bahwa kewajiban satu pihak juga ditanggung pihak lainnya. Padahal bisa saja meminta kemitraan terbatas, di mana Anda tidak ikut bertanggung jawab terhadap tindakan atau kewajiban mitra utama. Lagi-lagi, pastikan konsultan bisnis Anda bisa mengaturnya dalam perjanjian tertulis.

6. Tiadanya cara keluar dari kemitraan.
Pernikahan dimulai dengan perjanjian pra-nikah. Begitu juga sebaiknya dalam bisnis. Definiskan kondisi apa saja yang memungkinkan Anda atau mitra Anda bisa keluar dari kemitraan. Berikan juga pilihan apakah pihak yang keluar itu bisa menjual bagiannya ke mitranya, atau ke orang luar. Ini dapat dilakukan dengan jelas dan mudah, serta tidak akan mengganggu bisnis yang sedang berjalan.

7. Berharap persahabatan tetap langgeng setelah kemitraan berakhir.
Lagi, mengambil analogi dari pernikahan, berapa banyak mantan pasangan yang masih menjadi sahabat setelah mereka berpisah? Kemungkinan tidak banyak. Jadi jangan terlalu berharap menjalin kemitraan dengan seorang teman, dan tetap menjadi teman setelah kemitraan berakhir. Memang sangat bagus untuk tetap menjalin hubungan ataupun berbisnis dengan mantan mitra. Namun dalam dunia bisnis, yang menjadi prioritas utama adalah bisnis, teman nomor dua. Meski tak diharapkan, namun penting diingat, umumnya persahabatan juga berakhir ketika kemitraan berakhir.

Punya Pegawai atau Bekerja Sendiri?


Perlu pegawai atau cukup dikerjakan sendiri, ya?
Ini pertanyaan yang sering mengganggu pikiran orang yang belum lama berwirausaha. Sebab memang, merekrut seorang pegawai baru akan berdampak pada banyak hal. Tiba-tiba saja Anda perlu mengalokasikan uang untuk gaji bulanan, harus membaca buku-buku tentang aturan ketenagakerjaan, menyusun job description, dan sebagianya, yang sebelumnya tak pernah dipikirkan kala bekerja sendiri.

Untuk mengetahui apakah Anda butuh pegawai baru atau tidak, lihat kembali tujuan bisnis Anda. Kalau bercita-cita nantinya bisnis roti Anda bisa menyaingi BreadTalk, atau bisnis coffee shop Anda sekelas Starbucks, mau tidak mau pada akhirnya Anda akan merekrut pegawai. Atau Anda merasa cukup happy dengan bisnis sekarang, meski kadang kerepotan saat banyak order? Bisa jadi, merekrut pegawai bukanlah solusi terbaik.

Kalau Anda memang benar-benar butuh pegawai, ada cara sederhana untuk mendapatkan pegawai yang tepat, apakah itu pegawai temporer, kontrak, atau tetap. Mulailah dengan melakukan analisis pekerjaan (job analysis). Lakukan dengan cara:

  • Temukan alasan mengapa tugas-tugas itu ada dan harus dikerjakan pegawai baru
  • Tugas-tugas fisik atau mental apa saja yang akan menjadi pekerjaan pegawai baru itu
  • Apa tujuan pekerjaan itu dan hubungan pegawai dengan Anda atau pegawai lain
  • Kualifkasi pegawai yang diperlukan (pelatihan, pengetahuan, ketrampilan, kepribadian)
  • Bagaimana tuga-tugas tersebut akan dikerjakan, termasuk metode dan peralatan yang diperlukan.
  • Kalau Anda kesulitan menyusun analisis pekerjaan ini, salah satu cara terbaik adalah menanyakan kepada rekan sesama wirausaha yang pernah punya pengalaman sama. Lalu, gunakan analisis pekerjaan ini untuk menyusun job description. Dari sini, Anda bisa membuat pengumuman atau iklan lowongan pekerjaan.