Menabung pangkal kaya, ungkapan ini mungkin sudah sering kali kita dengar. Tapi mengapa kita kerap kesulitan untuk melakukannya? Sebelum penyesalan datang, ada baiknya segera diperbaiki.
1. “Gimana mau nabung, gajinya saja pas-pasan”
Uang enggak pernah cukup menjadi alasan klasik yang dipakai banyak orang untuk tidak menabung. Benar enggak sih tiap bulan kita selalu kehabisan uang? Apa iya gaji kita kekecilan? Menurut pakar keuangan, seberapa banyak pun uang yang kita miliki tetap saja kita akan lebih senang untuk menghabiskannya daripada ditabung.
Do: Berkomitmenlah untuk menghilangkan sebanyak mungkin kebocoran-kebocoran yang Anda bisa. Anda akan terkejut melihat betapa banyaknya uang tambahan yang Anda miliki dalam anggaran.
2. “Uangnya sudah habis buat bayar tagihan”
Aturan pertama dalam menyelamatkan uang Anda adalah "membayar" diri Anda terlebih dulu sebelum melakukan hal-hal lain. Sayangnya, aturan ini seringkali dilanggar. Begitu menerima gaji, kita akan sibuk di depan ATM untuk membayar ini-itu, sehingga gaji pun lenyap tanpa bekas. Ketika mau menabung, kita baru sadar bahwa tidak ada yang tersisa.
Do: Cara terbaik adalah membuat proses penyisihan uang secara otomatis. Pergilah ke bank dan buat instruksi debit otomatis dari rekening penerima gaji ke rekening tabungan atau investasi yang dimaksud. Untuk pemula, jumlahnya cukup 5 persen dari penghasilan rutin, kemudian setiap 6 bulan lakukan peningkatan presentase hingga mencapai target 30 persen. Bila ada penghasilan tambahan, gunakan uang tersebut untuk melunasi seluruh utang yang dimiliki.
3. “Ke bank? Mana sempat?”
Baru membayangkan mesti antre di bank untuk menabung yang hanya beberapa ratus ribu saja sudah bikin malas, apalagi kalau beneran itu yang terjadi. Anda merasa usaha yang dikeluarkan lebih besar daripada jumlah uang yang akan ditabung. Daripada waktu habis untuk antre di bank, Anda lebih suka memanfaatkannya untuk hal lain.
Do: Anda tidak harus pergi ke bank setiap akan menabung. Cukup manfaatkan fasilitas yang disediakan bank, misalnya auto debet, setoran tunai yang ada di mal-mal, internet banking, dan sebagainya.
4. “Enggak ada uang nganggur”
Niat menabung sih ada, tapi apa daya, gaji tiap bulan selalu untuk membayar kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari transportasi, makan, telepon, listrik, belum lagi belanja bulanan. Yang menjengkelkan, setiap tahun harga barang-barang selalu naik, sehingga semakin kecil lah kemungkinan ada uang sisa.
Do: Kita memang tidak bisa mengendalikan harga barang. Namun, kita bisa mengendalikan pengeluaran dan pemakaian. Mulailah dengan mengganti produk elektronik dengan yang hemat energi. Lalu, bijaklah dalam berbelanja. Manfaatkan juga potongan-potongan harga yang biasa ditawarkan oleh supermarket dan pusat perbelanjaan lainnya. Selain itu, jangan malu untuk mengambil penawaran-penawaran menarik yang bisa menghemat kantong, seperti dari provider telepon, tv kabel, dan sebagainya.
5. "Menyia-nyiakan waktu senggang"
Setiap orang tentu butuh waktu untuk rileks dan me-recharge energi di rumah, tapi apakah kita memang perlu menghabiskan waktu 5 jam di depan televisi atau menonton video berjam-jam setiap hari? Padahal Anda bisa memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang bisa menghasilkan uang.
Do: Cobalah mengubah mindset Anda dari konsumen menjadi kreator atau produsen. Ya, Anda bisa memanfaatkan waktu senggang dengan melakukan kegiatan yang Anda senangi dan menghasilkan uang. Misalnya saja, bila senang fashion dan tidak bisa lepas dari internet, Anda bisa membuat butik online, blog, dan sebagainya.
Minggu, 02 Juni 2013
Penyebab Gangguan Keuangan
Semakin hari tingkat kebutuhan gaya hidup semakin tinggi, dan masyarakat menjadi lebih konsumtif. Akibatnya, dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut jadi makin tinggi. Jika tak bisa memisahkan kebutuhan dengan keinginan, tak heran jika pengeluaran Anda jadi lebih besar daripada pendapatan.
"Masyarakat sekarang ini sulit memisahkan mana kebutuhan dan keinginan. Contohnya, ketika uangnya pas-pasan banyak pria yang lebih pilih beli rokok daripada beli makanan. Mending nggakmakan daripada nggak ngerokok," ungkap Hilda Fachriza, Kepala UKM Center dan staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saat Diskusi Media "Ciptakan Kesempatan, Berdayakan Masyarakat, dan Perkecil Kesenjangan" di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sedangkan perempuan, biasanya kesulitan menahan keinginan untuk berbelanja saat melihat berbagai produk fashion ataumake-up terkini, apalagi jika sedang diskon besar-besaran. Padahal jika dicermati, semua ini hanya bertujuan untuk mengikuti gaya hidupnya.
Selain masalah konsumerisme yang cukup tinggi, Hilda juga mengungkapkan ada beberapa masalah keuangan yang dialami masyarakat terutama di kota besar, yaitu:
1. Tidak punya perencanaan
Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya membutuhkan perencanaan keuangan yang baik. Sayangnya kebanyakan orang justru tidak melakukannya. Mereka cenderung berpikir pendek untuk mendapatkan kesenangan sesaat, dan menyesal di kemudian hari karena gaji mereka sudah habis untuk membeli barang-barang yang ternyata tidak diperlukan.
2. Sulit menabung
"Sebenarnya semua orang sudah sadar bahwa mereka harus menyisihkan uang untuk ditabung. Sayangnya, ini masih sangat sulit dilakukan," tambahnya.
Hal ini terjadi karena saat mereka punya uang lebih, pasti langsung tergoda untuk membelanjakannya. Hilda menambahkan, masalah kesulitan menabung ini tidak cuma dialami oleh masyarakat kota besar saja, tapi juga kota kecil, terutama penduduk yang bermata pencaharian sebagai pemilik usaha kecil.
"Para pemilik UKM ini biasanya mengeluhkan pendapatannya yang juga kecil sehingga tidak punya uang untuk ditabung. Mereka masih punya pikiran bahwa menabung itu harus dalam jumlah yang besar sedangkan sisa uang mereka sedikit," katanya
3. Pendidikan keuangan
Konsumerisme dan perencanaan keuangan yang buruk merupakan salah satu dari kurangnya pendidikan keuangan di masyarakat. Padahal seharusnya pendidikan keuangan ini sudah diajarkan sejak dini. Tujuannya bukan untuk membuat Anda menjadi kaya raya, namun lebih kepada bagaimana cara mengelola keuangan untuk hidup sejahtera dan berkecukupan.
4. Tidak punya visi untuk masa depan
Setiap orang pasti memiliki banyak rencana untuk masa depannya, entah menikah, jalan-jalan keluar negeri, membangun usaha, membeli rumah, atau mungkin berinvestasi. Untuk melakukan semuanya ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka, ada baiknya untuk mulai menabung dan membuat impian Anda jadi nyata.
"Ketika mereka tidak punya mimpi dan visi di masa depan mau berbuat apa, sudah pasti mereka tidak juga memikirkan keuangan untuk kebutuhan masa depannya," tutupnya.
"Masyarakat sekarang ini sulit memisahkan mana kebutuhan dan keinginan. Contohnya, ketika uangnya pas-pasan banyak pria yang lebih pilih beli rokok daripada beli makanan. Mending nggakmakan daripada nggak ngerokok," ungkap Hilda Fachriza, Kepala UKM Center dan staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saat Diskusi Media "Ciptakan Kesempatan, Berdayakan Masyarakat, dan Perkecil Kesenjangan" di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sedangkan perempuan, biasanya kesulitan menahan keinginan untuk berbelanja saat melihat berbagai produk fashion ataumake-up terkini, apalagi jika sedang diskon besar-besaran. Padahal jika dicermati, semua ini hanya bertujuan untuk mengikuti gaya hidupnya.
Selain masalah konsumerisme yang cukup tinggi, Hilda juga mengungkapkan ada beberapa masalah keuangan yang dialami masyarakat terutama di kota besar, yaitu:
1. Tidak punya perencanaan
Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya membutuhkan perencanaan keuangan yang baik. Sayangnya kebanyakan orang justru tidak melakukannya. Mereka cenderung berpikir pendek untuk mendapatkan kesenangan sesaat, dan menyesal di kemudian hari karena gaji mereka sudah habis untuk membeli barang-barang yang ternyata tidak diperlukan.
2. Sulit menabung
"Sebenarnya semua orang sudah sadar bahwa mereka harus menyisihkan uang untuk ditabung. Sayangnya, ini masih sangat sulit dilakukan," tambahnya.
Hal ini terjadi karena saat mereka punya uang lebih, pasti langsung tergoda untuk membelanjakannya. Hilda menambahkan, masalah kesulitan menabung ini tidak cuma dialami oleh masyarakat kota besar saja, tapi juga kota kecil, terutama penduduk yang bermata pencaharian sebagai pemilik usaha kecil.
"Para pemilik UKM ini biasanya mengeluhkan pendapatannya yang juga kecil sehingga tidak punya uang untuk ditabung. Mereka masih punya pikiran bahwa menabung itu harus dalam jumlah yang besar sedangkan sisa uang mereka sedikit," katanya
3. Pendidikan keuangan
Konsumerisme dan perencanaan keuangan yang buruk merupakan salah satu dari kurangnya pendidikan keuangan di masyarakat. Padahal seharusnya pendidikan keuangan ini sudah diajarkan sejak dini. Tujuannya bukan untuk membuat Anda menjadi kaya raya, namun lebih kepada bagaimana cara mengelola keuangan untuk hidup sejahtera dan berkecukupan.
4. Tidak punya visi untuk masa depan
Setiap orang pasti memiliki banyak rencana untuk masa depannya, entah menikah, jalan-jalan keluar negeri, membangun usaha, membeli rumah, atau mungkin berinvestasi. Untuk melakukan semuanya ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka, ada baiknya untuk mulai menabung dan membuat impian Anda jadi nyata.
"Ketika mereka tidak punya mimpi dan visi di masa depan mau berbuat apa, sudah pasti mereka tidak juga memikirkan keuangan untuk kebutuhan masa depannya," tutupnya.
Belanja Bareng Teman Lebih Boros?
Belanja bersama teman-teman mungkin menjadi salah satu aktivitas paling menyenangkan bagi Anda. Tapi, tanpa disadari, hal yang menyenangkan ini bisa jadi membawa kondisi buruk bagi keuangan Anda. Mengapa?
Para ahli menemukan dua per tiga atau sekitar 62 persen dari kaum wanita akan menghabiskan banyak uang ketika berbelanja dengan teman wanita mereka, dibandingkan saat mereka berbelanja sendirian. Para gadis remaja cenderung mengeluarkan uang sebanyak Rp 520 ribu setiap kali pergi keluar dengan teman-teman mereka daripada ketika mereka pergi sendiri.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa selama satu tahun, kaum wanita dewasa akan menghabiskan kurang lebih Rp 13 juta saat melakukan perjalanan wisata berbelanja dibandingkan saat pergi bersenang-senang sendirian tanpa seorang teman.
Di luar temuan itu, wanita lainnya merasa lebih percaya diri dengan pakaian yang mereka beli karena telah mendapatkan pendapat teman-teman mereka saat mencoba sebelum memutuskan untuk membeli pakaian tersebut.
Dan dengan persentase yang sama, banyak wanita akan merasa bahagia setelah berbelanja bersama teman-teman, daripada berbelanja sendirian.
Seorang juru bicara dari Liverpool ONE, yang melakukan studi ini terhadap 2.000 perempuan, mengatakan, "Berbelanja bersama teman-teman, walaupun terkadang dapat mengeluarkan biaya lebih mahal, namun jauh lebih menyenangkan daripada berbelanja sendiri.”
“Berpergian dengan teman-teman wanita baik untuk dimiliki karena mereka dengan senang hati akan membantu Anda memilih sesuatu untuk dipakai, mereka juga senang untuk mendandani Anda dan memberikan pendapat jujur di ruang ganti mengenai pakaian yang hendak Anda beli,” sambungnya.
Ia juga menambahkan, saat berbelanja sendiri memang cukup mudah untuk memutuskan apa yang layak Anda beli dan meyakinkan apakah benda tersebut akan terpakai atau tidak. Namun, berbelanja dengan teman-teman tidak hanya mengenai aktivitas berbelanja, tapi juga diiringi dengan makan siang bareng, minum kopi, dan bergosip.
Penelitian menunjukkan, lebih dari setengah wanita yang disurvei kecewa jika mereka kembali dengan tangan kosong selepas aktivitas shopping mereka. Memang, tiga perempat kaum hawa mengatakan bahwa ketika berbelanja bersama teman-teman, mereka secara aktif mendorong satu sama lain untuk membeli pakaian, sepatu, aksesoris dan perlengkapan mandi supaya mereka semua memiliki “sesuatu” untuk dibawa pulang.
Sementara itu, dua per tiga dari wanita mengakui bahwa mereka dapat dengan mudah melakukan pembelian meski tidak membutuhkan barang tersebut. Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi pada saat berbelanja sendirian. Tidak mengherankan, sebanyak 73 persen wanita mengatakan mereka selalu berbelanja lebih lama jika dengan pasangan mereka, yang dapat memakan waktu dua setengah jam lebih lama dari biasanya.
Empat dari 10 gadis remaja mengatakan bahwa teman-teman mereka pintar dalam berbelanja karena mereka memilih item untuk dicoba, yang mana tidak perlu pertimbangan dalam melakukannya. Sementara, seperempat wanita lebih terbuka untuk mencoba gaya yang berbeda ketika pergi berbelanja bersama teman.
Sebanyak lima perempuan menyukai pendapat yang diberikan oleh teman-teman mereka saat sedang berbelanja bersama, sementara 22 persen menghargai kenyataannya, rela menghabiskan uang lebih banyak jika berbelanja bersama teman. Dan seperempat dari perempuan menyukai fakta mengenai teman-teman mereka yang memiliki kesabaran saat berbelanja, daripada gelisah ingin cepat pergi dari toko pakaian.
Dan 43 persen mengatakan, sepanjang hari dapat menjadi begitu menyenangkan. "Survei ini membuktikan, meskipun faktanya perempuan menghabiskan lebih banyak uang saat berbelanja dengan teman-teman mereka, setidaknya mereka memiliki waktu yang berkualitas bersama teman-teman saat sedang berbelanja,” ujar juru bicara tersebut.
"Anda tidak bisa memberikan nilai pada persahabatan dan waktu berkualitas yang dihasilkan, sehingga menghabiskan sedikit uang saat bersama mereka bukanlah merupakan hal yang buruk,” tambahnya.
Penelitian ini juga mensurvei para perempuan untuk mengetahui, apakah ada kerugian saat berbelanja dengan teman-teman, selain mengeluarkan uang yang lebih?
Ditemukan, satu dari 10 gadis remaja telah membeli item seperti yang dianjurkan oleh teman mereka, ketika kembali ke rumah ternyata pakaian itu kurang disukai oleh dirinya. Kemudian, hanya lebih dari sepertiga kadang-kadang mereka merasa bosan saat harus berputar-putar elanja dari satu toko ke toko lain, hanya karena mereka belum menemukan item yang disukai. Dan, 28 persen tidak suka kalau teman-teman mereka memakan waktu terlalu lama untuk memutuskan apa yang harus dibeli.
Para ahli menemukan dua per tiga atau sekitar 62 persen dari kaum wanita akan menghabiskan banyak uang ketika berbelanja dengan teman wanita mereka, dibandingkan saat mereka berbelanja sendirian. Para gadis remaja cenderung mengeluarkan uang sebanyak Rp 520 ribu setiap kali pergi keluar dengan teman-teman mereka daripada ketika mereka pergi sendiri.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa selama satu tahun, kaum wanita dewasa akan menghabiskan kurang lebih Rp 13 juta saat melakukan perjalanan wisata berbelanja dibandingkan saat pergi bersenang-senang sendirian tanpa seorang teman.
Di luar temuan itu, wanita lainnya merasa lebih percaya diri dengan pakaian yang mereka beli karena telah mendapatkan pendapat teman-teman mereka saat mencoba sebelum memutuskan untuk membeli pakaian tersebut.
Dan dengan persentase yang sama, banyak wanita akan merasa bahagia setelah berbelanja bersama teman-teman, daripada berbelanja sendirian.
Seorang juru bicara dari Liverpool ONE, yang melakukan studi ini terhadap 2.000 perempuan, mengatakan, "Berbelanja bersama teman-teman, walaupun terkadang dapat mengeluarkan biaya lebih mahal, namun jauh lebih menyenangkan daripada berbelanja sendiri.”
“Berpergian dengan teman-teman wanita baik untuk dimiliki karena mereka dengan senang hati akan membantu Anda memilih sesuatu untuk dipakai, mereka juga senang untuk mendandani Anda dan memberikan pendapat jujur di ruang ganti mengenai pakaian yang hendak Anda beli,” sambungnya.
Ia juga menambahkan, saat berbelanja sendiri memang cukup mudah untuk memutuskan apa yang layak Anda beli dan meyakinkan apakah benda tersebut akan terpakai atau tidak. Namun, berbelanja dengan teman-teman tidak hanya mengenai aktivitas berbelanja, tapi juga diiringi dengan makan siang bareng, minum kopi, dan bergosip.
Penelitian menunjukkan, lebih dari setengah wanita yang disurvei kecewa jika mereka kembali dengan tangan kosong selepas aktivitas shopping mereka. Memang, tiga perempat kaum hawa mengatakan bahwa ketika berbelanja bersama teman-teman, mereka secara aktif mendorong satu sama lain untuk membeli pakaian, sepatu, aksesoris dan perlengkapan mandi supaya mereka semua memiliki “sesuatu” untuk dibawa pulang.
Sementara itu, dua per tiga dari wanita mengakui bahwa mereka dapat dengan mudah melakukan pembelian meski tidak membutuhkan barang tersebut. Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi pada saat berbelanja sendirian. Tidak mengherankan, sebanyak 73 persen wanita mengatakan mereka selalu berbelanja lebih lama jika dengan pasangan mereka, yang dapat memakan waktu dua setengah jam lebih lama dari biasanya.
Empat dari 10 gadis remaja mengatakan bahwa teman-teman mereka pintar dalam berbelanja karena mereka memilih item untuk dicoba, yang mana tidak perlu pertimbangan dalam melakukannya. Sementara, seperempat wanita lebih terbuka untuk mencoba gaya yang berbeda ketika pergi berbelanja bersama teman.
Sebanyak lima perempuan menyukai pendapat yang diberikan oleh teman-teman mereka saat sedang berbelanja bersama, sementara 22 persen menghargai kenyataannya, rela menghabiskan uang lebih banyak jika berbelanja bersama teman. Dan seperempat dari perempuan menyukai fakta mengenai teman-teman mereka yang memiliki kesabaran saat berbelanja, daripada gelisah ingin cepat pergi dari toko pakaian.
Dan 43 persen mengatakan, sepanjang hari dapat menjadi begitu menyenangkan. "Survei ini membuktikan, meskipun faktanya perempuan menghabiskan lebih banyak uang saat berbelanja dengan teman-teman mereka, setidaknya mereka memiliki waktu yang berkualitas bersama teman-teman saat sedang berbelanja,” ujar juru bicara tersebut.
"Anda tidak bisa memberikan nilai pada persahabatan dan waktu berkualitas yang dihasilkan, sehingga menghabiskan sedikit uang saat bersama mereka bukanlah merupakan hal yang buruk,” tambahnya.
Penelitian ini juga mensurvei para perempuan untuk mengetahui, apakah ada kerugian saat berbelanja dengan teman-teman, selain mengeluarkan uang yang lebih?
Ditemukan, satu dari 10 gadis remaja telah membeli item seperti yang dianjurkan oleh teman mereka, ketika kembali ke rumah ternyata pakaian itu kurang disukai oleh dirinya. Kemudian, hanya lebih dari sepertiga kadang-kadang mereka merasa bosan saat harus berputar-putar elanja dari satu toko ke toko lain, hanya karena mereka belum menemukan item yang disukai. Dan, 28 persen tidak suka kalau teman-teman mereka memakan waktu terlalu lama untuk memutuskan apa yang harus dibeli.
Tiga Cara Atasi Problem Kartu Kredit Anda
Tidak ada salahnya untuk berhati-hati, terutama ketika berurusan pada kondisi keuangan Anda. Kita bekerja kerasuntuk mendapatkan penghasilan setiap bulannya dan tentunya Anda ingin memastikan bahwa pengeluaran dan pemasukan dapat berjalan dengan baik, bukan?
Nah, terlebih lagi, pada zaman sekarang, penggunaan kartu kredit sudah seperti uang berjalan yang dapat digesek kapan saja ketika Anda ingin berbelanja. Kehati-hatian pada bagian ini termasukpada penggunaan nilai kartu kredit Anda. Ingin mengatasi masalah tersebut? Ada tiga cara yang dapat Anda lakukan guna menahan dan mengontrol penggunaan kartu kredit agar tidak berlebihan.
Menutup kartu kredit
Anda mungkin berpikir itu merupakan langkah terbaik agar tidak lagi bergantung pada kartu kredit sebagai alat transaksi. Akan tetapi, dengan menutup salah satu kartu kredit Anda, justru sebaliknya, itu dapat meningkatkan pemanfaatan kartu kredit lainnya. Jadi, cara baiknya adalah dengan mengurangi limit pada kartu kredit Anda.
Tidak menggunakan kartu kredit
Sekali lagi, Anda mungkin berpikir telah melakukan hal yang benar dengan tidak menggunakan kartu kredit sama sekali. Justru, jika Anda tidak menggunakannya, tagihan berbentuk iuran kartu masih tetap harus Anda bayarkan. Karena itu, Anda harus mengetahui prioritas atas penggunaan kartu kredit yang benar, yaitu gunakan kartu kredit di saat benar-benar dibutuhkan, jangan gunakan hanya untuk membeli belanjaan yang kecil, kemudian lunasi tagihannya dengan lunas, jangan membayar tagihan minimalnya saja.
Rencana membeli "gadget" baru
Biasanya, penjualan gadget selalu memiliki promo dengan penggunaan kartu kredit. Namun, sebelum memutuskan dan tergiur untuk membeli berdasarkan promo tersebut, alangkah baiknya jika Anda benar-benar melihat persentase cicilan yang diberikan oleh promo kartu kredit itu. Karena itu, meski promo yang ditampilkan nol persen, tagihan yang akan Anda terima bisa tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Karena itu, teliti terlebih dahulu dan ketahui dengan jelas sebelum Anda memutuskan untuk membeli gadget terbaru.
Hindari membuat kesalahan-kesalahan ini untuk menjaga stabilitas tagihan kartu kredit Anda.
Nah, terlebih lagi, pada zaman sekarang, penggunaan kartu kredit sudah seperti uang berjalan yang dapat digesek kapan saja ketika Anda ingin berbelanja. Kehati-hatian pada bagian ini termasukpada penggunaan nilai kartu kredit Anda. Ingin mengatasi masalah tersebut? Ada tiga cara yang dapat Anda lakukan guna menahan dan mengontrol penggunaan kartu kredit agar tidak berlebihan.
Menutup kartu kredit
Anda mungkin berpikir itu merupakan langkah terbaik agar tidak lagi bergantung pada kartu kredit sebagai alat transaksi. Akan tetapi, dengan menutup salah satu kartu kredit Anda, justru sebaliknya, itu dapat meningkatkan pemanfaatan kartu kredit lainnya. Jadi, cara baiknya adalah dengan mengurangi limit pada kartu kredit Anda.
Tidak menggunakan kartu kredit
Sekali lagi, Anda mungkin berpikir telah melakukan hal yang benar dengan tidak menggunakan kartu kredit sama sekali. Justru, jika Anda tidak menggunakannya, tagihan berbentuk iuran kartu masih tetap harus Anda bayarkan. Karena itu, Anda harus mengetahui prioritas atas penggunaan kartu kredit yang benar, yaitu gunakan kartu kredit di saat benar-benar dibutuhkan, jangan gunakan hanya untuk membeli belanjaan yang kecil, kemudian lunasi tagihannya dengan lunas, jangan membayar tagihan minimalnya saja.
Rencana membeli "gadget" baru
Biasanya, penjualan gadget selalu memiliki promo dengan penggunaan kartu kredit. Namun, sebelum memutuskan dan tergiur untuk membeli berdasarkan promo tersebut, alangkah baiknya jika Anda benar-benar melihat persentase cicilan yang diberikan oleh promo kartu kredit itu. Karena itu, meski promo yang ditampilkan nol persen, tagihan yang akan Anda terima bisa tidak sesuai dengan yang ditawarkan. Karena itu, teliti terlebih dahulu dan ketahui dengan jelas sebelum Anda memutuskan untuk membeli gadget terbaru.
Hindari membuat kesalahan-kesalahan ini untuk menjaga stabilitas tagihan kartu kredit Anda.
Agar Gaji Tak "Kandas" di Tengah Bulan
Mendekati tengah bulan, biasanya orang mulai mengeluh gajinya sudah habis. Kalau sudah demikian, keluhan lain yang datang adalah gaji yang diterima terlalu kecil jadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda sebulan.
Lalu, apakah jika punya gaji yang besar Anda lantas bisa menabung dan mencukupi kebutuhan? Perlu diketahui bahwa ketika pendapatan bulanan Anda bertambah, pengeluaran pun akan ikut bertambah. Alih-alih menyalahkan gaji kecil, ada baiknya untuk menengok cara Anda mengelola keuangan bulanan.
1. Membuat anggaran realistis
Dalam prinsip pengelolaan keuangan, membuat rencana keuangan adalah hal yang wajib dilakukan. Sebaiknya, Anda buat rencana pengeluaran sebelum menerima gaji sehingga saat gaji sudah di tangan Anda bisa langsung menjalankan rencana yang sudah disusun. Cobalah memulainya dengan mencatat kembali pengeluaraan Anda selama tiga bulan ke belakang. Dengan begitu, Anda bisa tahu mana saja pos-pos yang harus dihemat atau dihilangkan sama sekali.
Misalnya, setelah review tiga bulan ke belakang, ternyata Anda lebih banyak mengeluarkan uang untuk menghibur diri, seperti nonton film, karaoke, dan mencicipi makanan di restoran mahal. Pos hiburan ini sebenarnya tak penting-penting amat, jadi tak harus dilakukan seminggu sekali. Meski begitu, Anda juga tak harus menghilangkannya sama sekali. Anda hanya perlu mengontrol dan mengurangi frekuensinya, misalnya jadi sebulan sekali. Intinya, Anda harus bersikap realistis saat ingin belanja agar tak mengurangi pos yang tidak seharusnya.
Selain membuat perencanaan, sebaiknya Anda juga memiliki sebuah jurnal untuk mencatat pengeluaran Anda dalam satu bulan. Catat semua barang dan jasa yang dibeli secara detail, sertakan nominal pembelian, waktu pembelian, dan tempat Anda membelinya. Bandingkan rencana keuangan Anda dengan pengeluaran nyata. Apakah sudah sama nominalnya atau malah berlebih?
2. Prioritas kebutuhan
Apa prioritas keuangan Anda setiap bulan? Tentu saja membayar semua tagihan yang dibutuhkan, bukan? Misalnya, biaya transportasi, belanja bulanan, listrik, air, atau membayar cicilan rumah. Pengeluaran rutin yang masuk dalam prioritas utama bisa disebut sebagai kebutuhan jangka pendek atau kebutuhan primer, sedangkan pengeluaran yang sifatnya sekunder dan tersier misalnya berlibur setiap akhir pekan, membeli barang bermerek, atau gadget.
Pengeluaran sekunder dan tersier inilah yang harus dihemat. Bahkan, jika sudah mengganggu kebutuhan primer, Anda bisa menghilangkannya dalam daftar perencanaan keuangan bulanan. Agar tidak jalan di tempat dan pengelolaan keuangan Anda mengalami pergerakan yang positif, jangan selalu berpikir tentang kebutuhan jangka pendek. Tetapkan target untuk mencapai tujuan jangka panjang. Misalnya, menambah tabungan sebesar Rp 50 juta dalam satu tahun.
3. Siapkan biaya tak terduga
Dalam merencanakan keuangan, Anda juga harus mempersiapkan biaya yang terduga atau dana cadangan yang dalam keadaan darurat bisa Anda ambil. Pisahkan dana cadangan ini dari tabungan Anda sehari-hari atau tabungan yang bisa Anda ambil sewaktu-waktu. Seperti halnya menabung, dana cadangan juga harus disiapkan dengan penuh komitmen. Misalnya, Anda telah menggunakan 50 persen dana cadangan untuk membayar biaya rawat inap anggota keluarga yang sakit, maka Anda harus mengembalikan saldo dana cadangan seperti semula.
Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menyiapkan biaya tak terduga ini adalah dengan memiliki asuransi. Asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, hingga asuransi jiwa berjangka adalah produk-produk keuangan yang bisa Anda pilih untuk dana cadangan Anda. Dengan memiliki asuransi, berarti Anda sudah menyadari betapa pentingnya mengantisipasi setiap kejadian yang tak terduga di masa depan.
Lalu, apakah jika punya gaji yang besar Anda lantas bisa menabung dan mencukupi kebutuhan? Perlu diketahui bahwa ketika pendapatan bulanan Anda bertambah, pengeluaran pun akan ikut bertambah. Alih-alih menyalahkan gaji kecil, ada baiknya untuk menengok cara Anda mengelola keuangan bulanan.
1. Membuat anggaran realistis
Dalam prinsip pengelolaan keuangan, membuat rencana keuangan adalah hal yang wajib dilakukan. Sebaiknya, Anda buat rencana pengeluaran sebelum menerima gaji sehingga saat gaji sudah di tangan Anda bisa langsung menjalankan rencana yang sudah disusun. Cobalah memulainya dengan mencatat kembali pengeluaraan Anda selama tiga bulan ke belakang. Dengan begitu, Anda bisa tahu mana saja pos-pos yang harus dihemat atau dihilangkan sama sekali.
Misalnya, setelah review tiga bulan ke belakang, ternyata Anda lebih banyak mengeluarkan uang untuk menghibur diri, seperti nonton film, karaoke, dan mencicipi makanan di restoran mahal. Pos hiburan ini sebenarnya tak penting-penting amat, jadi tak harus dilakukan seminggu sekali. Meski begitu, Anda juga tak harus menghilangkannya sama sekali. Anda hanya perlu mengontrol dan mengurangi frekuensinya, misalnya jadi sebulan sekali. Intinya, Anda harus bersikap realistis saat ingin belanja agar tak mengurangi pos yang tidak seharusnya.
Selain membuat perencanaan, sebaiknya Anda juga memiliki sebuah jurnal untuk mencatat pengeluaran Anda dalam satu bulan. Catat semua barang dan jasa yang dibeli secara detail, sertakan nominal pembelian, waktu pembelian, dan tempat Anda membelinya. Bandingkan rencana keuangan Anda dengan pengeluaran nyata. Apakah sudah sama nominalnya atau malah berlebih?
2. Prioritas kebutuhan
Apa prioritas keuangan Anda setiap bulan? Tentu saja membayar semua tagihan yang dibutuhkan, bukan? Misalnya, biaya transportasi, belanja bulanan, listrik, air, atau membayar cicilan rumah. Pengeluaran rutin yang masuk dalam prioritas utama bisa disebut sebagai kebutuhan jangka pendek atau kebutuhan primer, sedangkan pengeluaran yang sifatnya sekunder dan tersier misalnya berlibur setiap akhir pekan, membeli barang bermerek, atau gadget.
Pengeluaran sekunder dan tersier inilah yang harus dihemat. Bahkan, jika sudah mengganggu kebutuhan primer, Anda bisa menghilangkannya dalam daftar perencanaan keuangan bulanan. Agar tidak jalan di tempat dan pengelolaan keuangan Anda mengalami pergerakan yang positif, jangan selalu berpikir tentang kebutuhan jangka pendek. Tetapkan target untuk mencapai tujuan jangka panjang. Misalnya, menambah tabungan sebesar Rp 50 juta dalam satu tahun.
3. Siapkan biaya tak terduga
Dalam merencanakan keuangan, Anda juga harus mempersiapkan biaya yang terduga atau dana cadangan yang dalam keadaan darurat bisa Anda ambil. Pisahkan dana cadangan ini dari tabungan Anda sehari-hari atau tabungan yang bisa Anda ambil sewaktu-waktu. Seperti halnya menabung, dana cadangan juga harus disiapkan dengan penuh komitmen. Misalnya, Anda telah menggunakan 50 persen dana cadangan untuk membayar biaya rawat inap anggota keluarga yang sakit, maka Anda harus mengembalikan saldo dana cadangan seperti semula.
Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menyiapkan biaya tak terduga ini adalah dengan memiliki asuransi. Asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, hingga asuransi jiwa berjangka adalah produk-produk keuangan yang bisa Anda pilih untuk dana cadangan Anda. Dengan memiliki asuransi, berarti Anda sudah menyadari betapa pentingnya mengantisipasi setiap kejadian yang tak terduga di masa depan.
Uang plastik alias kartu kredit saat ini oleh sebagian orang dianggap sebagai sumber masalah. Banyak dari pemegang kartu kredit hanya mengerti bagaimana menggunakan kartu kredit namun sebaliknya yang bersangkutan tidak memahami bagaimana perhitungan dari bunga kartu kredit itu sendiri. Akibatnya pada saat melakukan pembayaran tagihan kartu kredit hanya melakukan pembayaran secara minimum saja bukan melakukannya dengan pembayaran maksimum atau dikenal dengan istilah full payment.
Mengapa demikian? Ya, karena edukasi mengenai bagaimana mengetahui metode perhitungan bunga kartu kredit tidak diberikan oleh pihak penerbit secara transparan, yang ada bank Issuer(bank penerbit kartu kredit) hanya mencantumkan besar bunga yang di kenakan setiap bulannya.
Dalam lembar tagihan hanya ada penulisan besarnya angka bunga perbulan, jumlah besar nilai bunga (jika melakukan pembayaran tidak penuh di bulan yang lampau), jumlah dan tanggal transaksi, namun tidak ada penjelasan tertulis cara perhitungan bunganya dengan formula yang berlaku tentunya, padahal menurut kami ini menjadi edukasi yang penting bagi pemegang kartu agar tidak melakukan pembayaran minimal.
Secara objektif jika ini dilakukan maka potensi pendapatan bank penerbit dari bunga pun menjadi menurun.
Pemegang kartu pun hanya dapat mengetahui jika pemegang kartu meminta secara resmi metode perhitungan bunga kartu kredit kepada card center bank penerbit, dan ternyata berdasarkan pengalaman dari beberapa kasus ternyata hampir semua bank penerbit hanya menjelaskan secara lisan, penjelasannya pun hanya bersifat garis besar tidak dapat secara rinci atau detail dan umunya petugas yang bersangkutan dengan bermacam alasan keberatan untuk menuliskan metode perhitungan bunga kartu kredit itu sendiri apalagi untuk mencetak formulasi bunga tersebut!
Nah untuk menghindari masalah keuangan alangkah bijaknya kita dapat mengetahui lebih dalam berapa besar dana yang dapat dipakai dari kartu kredit tersebut apakah sebesar maksimal baki atau limit kredit ataukah dibawah dari baki kredit tersebut? Untuk lebih memahami maka silahkan memperhatikan contoh kasus berikut ini:
Seorang memiliki kartu kredit dengan limit pemakaian Rp 20 juta, gaji perbulan sebesar Rp 5 juta. Dalam keadaan darurat (jika amat sangat terpaksa) jumlah pemakaian maksimal kartu kredit yang dapat dilakukan adalah hanya sebesar Rp 15 juta, meskipun baki kredit yang diberikan adalah sebesar Rp 20 juta mengapa demikian? Karena dengan kondisi minimum pembayaran 10 persen pinjaman, yaitu Rp 1.500.000 (ini adalah 30 persen dari gaji).
Namun kami SANGAT TIDAK menyarankan untuk melakukan kredit melalui kartu kredit karena bunga nya sangat tinggi meskipun Bank Indonesia sejak awal 2013 telah melakukan pembatasan bunga kartu kredit, namun secara fakta bunga tersebut masih saja tinggi.
Lebih dalam lagi jika kita bedah kasus diatas, jika ternyata pembayaran dilakukan dengan mencicil (tidak penuh), dalam hal pembayaran tidak penuh maka wajib diketahui bahwa biaya yang dikeluarkan adalah sangat mahal, kelebihan uang yang diberikan pada bank sangat besar (ini disebabkan bunga kartu kredit) yang masih tinggi, marilah kita hitung:
Misalkan transaksi dilakukan pada tgl. 1 sebesar Rp 15 juta, pembayaran (minimum) dilakukan tgl. 21 sebesar Rp 1,5 juta sedang bunga kartu kredit adalah 2,950 persen perbulan (peraturan baru dari Bank Indonesia), maka jika bunga disetahunkan menjadi 35,4 persen. Percayakah anda? Jika tagihan tersebut dibayar secara minimum 10 persen, dalam kenyataannya bunga yang anda bayar diatas 35,4 persen pertahun!
Berikut perhitungannya (asumsi tidak ada transaksi tambahan pada kasus diatas):
Bulan pertama penagihan:
Pembayaran atas tagihan adalah minimal 10 persen dari total transaksi Rp 15 juta = Rp 1,5 juta
Bulan kedua penagihan:
Metode perhitungan bunga kartu kredit yang lazim digunakan di Indonesia:
Saldo rata-rata terakhir: [(Rp15 juta X 20 hari)+[(Rp15juta–Rp1,5juta) X 10 hari]] / 30 hari X 2,95 persen = Rp 427.750
Jika jumlah tersebut dibagi dengan sisa pokok utang bulan lalu Rp 13,5 juta, maka besarnya bunga adalah sebesar 3,17 persen perbulan, jika disetahunkan = 38,02 persen pertahun (diatas 35,4 persen pertahun).
Ada juga bank yang menggunakan perhitungan bunga dari tanggal transaksi yang dilakukan, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Rp 15 juta X 2,95 persen = Rp 442.500
Jika jumlah tersebut dibagi dengan sisa pokok utang bulan lalu Rp 13,5 juta, maka besarnya bunga adalah sebesar 3,27 persen perbulan, jika disetahunkan = 39,33 persen pertahun (diatas 35,4 persen pertahun).
Selain itu patut untuk dicermati adalah biaya keterlambatan (jika lewat dari tanggal jatuh tempo) dan biaya overlimit (jika total tagihan melebihi saldo yang diberikan).
Demikian pembaca yang bijak setelah anda memahami perhitungan tersebut, masihkah anda melakukan pembayaran dengan minimum payment?
Saran kami adalah tidak melakukannya. Untuk memastikan bahwa pembayaran akan dilakukan dengan penuh adalah pastikan bahwa transaksi yang dilakukan tidak melebihi dari 40 persen dari gaji anda. Atau jika merasa terlalu sedikit, anda dapat melakukan cicilan tetap tanpa bunga atas tagihan kartu kredit anda dengan catatan besar cicilan maksimal adalah 30 persen dari gaji anda.
Mengapa demikian? Ya, karena edukasi mengenai bagaimana mengetahui metode perhitungan bunga kartu kredit tidak diberikan oleh pihak penerbit secara transparan, yang ada bank Issuer(bank penerbit kartu kredit) hanya mencantumkan besar bunga yang di kenakan setiap bulannya.
Dalam lembar tagihan hanya ada penulisan besarnya angka bunga perbulan, jumlah besar nilai bunga (jika melakukan pembayaran tidak penuh di bulan yang lampau), jumlah dan tanggal transaksi, namun tidak ada penjelasan tertulis cara perhitungan bunganya dengan formula yang berlaku tentunya, padahal menurut kami ini menjadi edukasi yang penting bagi pemegang kartu agar tidak melakukan pembayaran minimal.
Secara objektif jika ini dilakukan maka potensi pendapatan bank penerbit dari bunga pun menjadi menurun.
Pemegang kartu pun hanya dapat mengetahui jika pemegang kartu meminta secara resmi metode perhitungan bunga kartu kredit kepada card center bank penerbit, dan ternyata berdasarkan pengalaman dari beberapa kasus ternyata hampir semua bank penerbit hanya menjelaskan secara lisan, penjelasannya pun hanya bersifat garis besar tidak dapat secara rinci atau detail dan umunya petugas yang bersangkutan dengan bermacam alasan keberatan untuk menuliskan metode perhitungan bunga kartu kredit itu sendiri apalagi untuk mencetak formulasi bunga tersebut!
Nah untuk menghindari masalah keuangan alangkah bijaknya kita dapat mengetahui lebih dalam berapa besar dana yang dapat dipakai dari kartu kredit tersebut apakah sebesar maksimal baki atau limit kredit ataukah dibawah dari baki kredit tersebut? Untuk lebih memahami maka silahkan memperhatikan contoh kasus berikut ini:
Seorang memiliki kartu kredit dengan limit pemakaian Rp 20 juta, gaji perbulan sebesar Rp 5 juta. Dalam keadaan darurat (jika amat sangat terpaksa) jumlah pemakaian maksimal kartu kredit yang dapat dilakukan adalah hanya sebesar Rp 15 juta, meskipun baki kredit yang diberikan adalah sebesar Rp 20 juta mengapa demikian? Karena dengan kondisi minimum pembayaran 10 persen pinjaman, yaitu Rp 1.500.000 (ini adalah 30 persen dari gaji).
Namun kami SANGAT TIDAK menyarankan untuk melakukan kredit melalui kartu kredit karena bunga nya sangat tinggi meskipun Bank Indonesia sejak awal 2013 telah melakukan pembatasan bunga kartu kredit, namun secara fakta bunga tersebut masih saja tinggi.
Lebih dalam lagi jika kita bedah kasus diatas, jika ternyata pembayaran dilakukan dengan mencicil (tidak penuh), dalam hal pembayaran tidak penuh maka wajib diketahui bahwa biaya yang dikeluarkan adalah sangat mahal, kelebihan uang yang diberikan pada bank sangat besar (ini disebabkan bunga kartu kredit) yang masih tinggi, marilah kita hitung:
Misalkan transaksi dilakukan pada tgl. 1 sebesar Rp 15 juta, pembayaran (minimum) dilakukan tgl. 21 sebesar Rp 1,5 juta sedang bunga kartu kredit adalah 2,950 persen perbulan (peraturan baru dari Bank Indonesia), maka jika bunga disetahunkan menjadi 35,4 persen. Percayakah anda? Jika tagihan tersebut dibayar secara minimum 10 persen, dalam kenyataannya bunga yang anda bayar diatas 35,4 persen pertahun!
Berikut perhitungannya (asumsi tidak ada transaksi tambahan pada kasus diatas):
Bulan pertama penagihan:
Pembayaran atas tagihan adalah minimal 10 persen dari total transaksi Rp 15 juta = Rp 1,5 juta
Bulan kedua penagihan:
Metode perhitungan bunga kartu kredit yang lazim digunakan di Indonesia:
Saldo rata-rata terakhir: [(Rp15 juta X 20 hari)+[(Rp15juta–Rp1,5juta) X 10 hari]] / 30 hari X 2,95 persen = Rp 427.750
Jika jumlah tersebut dibagi dengan sisa pokok utang bulan lalu Rp 13,5 juta, maka besarnya bunga adalah sebesar 3,17 persen perbulan, jika disetahunkan = 38,02 persen pertahun (diatas 35,4 persen pertahun).
Ada juga bank yang menggunakan perhitungan bunga dari tanggal transaksi yang dilakukan, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Rp 15 juta X 2,95 persen = Rp 442.500
Jika jumlah tersebut dibagi dengan sisa pokok utang bulan lalu Rp 13,5 juta, maka besarnya bunga adalah sebesar 3,27 persen perbulan, jika disetahunkan = 39,33 persen pertahun (diatas 35,4 persen pertahun).
Selain itu patut untuk dicermati adalah biaya keterlambatan (jika lewat dari tanggal jatuh tempo) dan biaya overlimit (jika total tagihan melebihi saldo yang diberikan).
Demikian pembaca yang bijak setelah anda memahami perhitungan tersebut, masihkah anda melakukan pembayaran dengan minimum payment?
Saran kami adalah tidak melakukannya. Untuk memastikan bahwa pembayaran akan dilakukan dengan penuh adalah pastikan bahwa transaksi yang dilakukan tidak melebihi dari 40 persen dari gaji anda. Atau jika merasa terlalu sedikit, anda dapat melakukan cicilan tetap tanpa bunga atas tagihan kartu kredit anda dengan catatan besar cicilan maksimal adalah 30 persen dari gaji anda.
Untuk Bisnis, Perlukah Utang?
Pembaca yang bijak, melakukan bisnis atau usaha adalah merupakan kewajiban agar kita agar dapat melangsungkan kehidupan kita secara materi.
Kita sama-sama paham bahwa tanpa usaha berarti kita tidak memiliki pemasukan atau income. Nah, permasalahan yang sering sekali saya jumpai adalah dengan pertanyaan yang berbunyi seperti ini: "Saya ingin sekali memiliki bisnis namun saya masih bingung apakah dengan utang atau tanpa utang?"
Nah bagaimana pendapat anda? Secara jujur sebelum membaca artikel ini hingga selesai, apakah jawaban anda?
Mengapa anda memilih jawaban tersebut? Jika tidak keberatan silahkan berbagi dengan pembaca yang lain dengan menulis tanggapan di artikel ini, atas keihklasan anda memberi masukan kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih.
Baiklah, untuk menjawabnya ada baiknya kita pertimbangkan hal berikut:
1. Potensi untung versus rugi
Dalam memulai bisnis baru apakah itu waralaba atau bukan, harap diperhatikan bahwa sebagus apapun proyeksi bisnis yang telah dihitung itu semua masih di atas kertas. Kenyataannya banyak sekali para pelaku bisnis baru mengalami kerugian.
Untuk mengantisipasi faktor kerugian ini, persiapkan modal kerja yang cukup setidaknya dapat bekerja minimal selama 6 bulan dan maksimal 12 bulan. Ini merupakan dana cadangan yang bersifat darurat, digunakan pada saat kondisi dimana pengeluaran lebih besar dari pemasukan.
Dengan dana tersebut maka bisnis bisa bertahan minimal selama enam bulan, sambil melakukan evaluasi manajemen atas kesalahan yang telah terjadi tentunya, dengan harapan adalah kesalahan dapat teratasi dan bisnis berangsur menjadi untung.
2. Modal usaha yang terdiri dari modal investasi dan modal kerja
Apakah saya sebagai pengusaha (investor) harus mendanai sepenuhnya atau lebih baik saya pinjam dari bank? Marilah kita bahas:
a. Jika modal usaha 100 persen modal sendiri: dalam kondisi seperti ini memang bisnis menjadi lebih aman karena tidak ada utang atau pinjaman kepada bank, dengan demikian pengusaha tidak perlu repot menyisihkan sejumlah uang dari setiap keuntungannya untuk diberikan sebagai pengembalian pokok dan bunga ke bank.
Potensi keuntunganpun menjadi besar, ya menjadi besar karena memang pengusaha menikmatinya sendiri tanpa perlu berbagi ke bank. Namun teryata resikonyapun cukup besar! Risiko tersebut adalah jika ternyata bisnis mengalami kegagalan dan kegagalan, meskipun telah dievaluasi namun kerugian berlangsung lebih dari enam bulan. Jika mengacu terhadap kemampuan dana cadangan yang hanya mampu menopang selama 6 bulan maka dalam kondisi yang darurat ini sang pengusaha sudah tidak memiliki dana untuk melanjutkan usaha tersebut. Konsekuensinya bisnis terhenti dan usahapun gulung tikar karena merugi.
b. Sebaliknya jika modal usaha didapat dari pinjaman bank maka tentunya keuntungan menjadi berkurang karena sebagian harus dialokasikan menjadi biaya bank.
Namun faktor risiko bisnispun menjadi lebih kecil, mengapa demikian? Hal ini bisa terjadi karena sang pengusaha masih memiliki modal yang cukup untuk terus melanjutkan bisnis, ya karena modal usaha didapat dari bank.
Jadi dengan kata lain sebenarnya dana yang digunakan dalam berbisnis adalah berasal dari pinjaman bank. Artinya dana yang tersedia milik sendiri masih utuh dan ini dapat digunakan sebagai cadangan dana yang dimiliki untuk keadaan darurat. Ini berarti dana cadangan modal untuk keadaan darurat sangat tersedia.
Sang pengusaha masih memiliki waktu tambahan yang cukup untuk melakukan evaluasi serta pembenahan manjemen internal jika kondisi bisnis tidak seperti yang tertulis didalam perencanaan awal. Untuk lebih jelasnya silahkan melihat tabel dibawah ini.
Kita sama-sama paham bahwa tanpa usaha berarti kita tidak memiliki pemasukan atau income. Nah, permasalahan yang sering sekali saya jumpai adalah dengan pertanyaan yang berbunyi seperti ini: "Saya ingin sekali memiliki bisnis namun saya masih bingung apakah dengan utang atau tanpa utang?"
Nah bagaimana pendapat anda? Secara jujur sebelum membaca artikel ini hingga selesai, apakah jawaban anda?
Mengapa anda memilih jawaban tersebut? Jika tidak keberatan silahkan berbagi dengan pembaca yang lain dengan menulis tanggapan di artikel ini, atas keihklasan anda memberi masukan kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih.
Baiklah, untuk menjawabnya ada baiknya kita pertimbangkan hal berikut:
1. Potensi untung versus rugi
Dalam memulai bisnis baru apakah itu waralaba atau bukan, harap diperhatikan bahwa sebagus apapun proyeksi bisnis yang telah dihitung itu semua masih di atas kertas. Kenyataannya banyak sekali para pelaku bisnis baru mengalami kerugian.
Untuk mengantisipasi faktor kerugian ini, persiapkan modal kerja yang cukup setidaknya dapat bekerja minimal selama 6 bulan dan maksimal 12 bulan. Ini merupakan dana cadangan yang bersifat darurat, digunakan pada saat kondisi dimana pengeluaran lebih besar dari pemasukan.
Dengan dana tersebut maka bisnis bisa bertahan minimal selama enam bulan, sambil melakukan evaluasi manajemen atas kesalahan yang telah terjadi tentunya, dengan harapan adalah kesalahan dapat teratasi dan bisnis berangsur menjadi untung.
2. Modal usaha yang terdiri dari modal investasi dan modal kerja
Apakah saya sebagai pengusaha (investor) harus mendanai sepenuhnya atau lebih baik saya pinjam dari bank? Marilah kita bahas:
a. Jika modal usaha 100 persen modal sendiri: dalam kondisi seperti ini memang bisnis menjadi lebih aman karena tidak ada utang atau pinjaman kepada bank, dengan demikian pengusaha tidak perlu repot menyisihkan sejumlah uang dari setiap keuntungannya untuk diberikan sebagai pengembalian pokok dan bunga ke bank.
Potensi keuntunganpun menjadi besar, ya menjadi besar karena memang pengusaha menikmatinya sendiri tanpa perlu berbagi ke bank. Namun teryata resikonyapun cukup besar! Risiko tersebut adalah jika ternyata bisnis mengalami kegagalan dan kegagalan, meskipun telah dievaluasi namun kerugian berlangsung lebih dari enam bulan. Jika mengacu terhadap kemampuan dana cadangan yang hanya mampu menopang selama 6 bulan maka dalam kondisi yang darurat ini sang pengusaha sudah tidak memiliki dana untuk melanjutkan usaha tersebut. Konsekuensinya bisnis terhenti dan usahapun gulung tikar karena merugi.
b. Sebaliknya jika modal usaha didapat dari pinjaman bank maka tentunya keuntungan menjadi berkurang karena sebagian harus dialokasikan menjadi biaya bank.
Namun faktor risiko bisnispun menjadi lebih kecil, mengapa demikian? Hal ini bisa terjadi karena sang pengusaha masih memiliki modal yang cukup untuk terus melanjutkan bisnis, ya karena modal usaha didapat dari bank.
Jadi dengan kata lain sebenarnya dana yang digunakan dalam berbisnis adalah berasal dari pinjaman bank. Artinya dana yang tersedia milik sendiri masih utuh dan ini dapat digunakan sebagai cadangan dana yang dimiliki untuk keadaan darurat. Ini berarti dana cadangan modal untuk keadaan darurat sangat tersedia.
Sang pengusaha masih memiliki waktu tambahan yang cukup untuk melakukan evaluasi serta pembenahan manjemen internal jika kondisi bisnis tidak seperti yang tertulis didalam perencanaan awal. Untuk lebih jelasnya silahkan melihat tabel dibawah ini.
Langganan:
Postingan (Atom)