Banyak dari kita yang menerapkan cara hidup "besar pasak daripada tiang", atau lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan. Kalaupun kemudian bisa menabung, ternyata masih tidak stabil di bulan berikutnya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda tipe orang yang pengelolaan uangnya "besar pasak daripada tiang"?
Untuk mengetahuinya, ada sejumlah tanda yang bisa dijadikan acuan:
1. Keuangan Anda tidak bisa membuat Anda survive sampai enam bulan ke depan
Adalah menarik mengetahui sebesar apa tabungan kita sampai bisa dibilang stabil dari segi keuangan. Sejumlah pakar keuangan, di antaranya Sheryl Garrett, menyebutkan ada baiknya simpanan hari tua, uang darurat, atau apapun sebutannya, dapat membuat Anda bertahan sampai setidaknya selama enam bulan. Itu sudah hitungan biaya makan, transportasi, cicilan, dan sebagainya. Kenapa demikian?
Bayangkan sekiranya Anda diberhentikan atau berhenti dari pekerjaan sekarang, setidaknya Anda masih punya simpanan sampai Anda mendapatkan pekerjaan baru dengan standar gaji yang sama.
2. Hanya menyisihkan 10 persen dari gaji setiap bulannya
Idealnya seseorang dianjurkan untuk menyisihkan gaji yang diperoleh setiap bulannya sebesar 10 persen untuk hari tua mulai sejak usia 25. Beranjak dari laporan tahun 2011, Center for Retirement Research at Boston College menghitung bahwa jika seseorang menabung sejak usia 25 dan pensiun di usia 70 tahun, ia perlu menyisihkan pendapatan minimal 7 persen supaya mencapai keuangan yang stabil. Kalau mau pensiun lebih awal di usia 65, maka sisihkanlah 15 persen dari gaji Anda setiap bulan.
3. Cicilan rumah Anda lebih dari satu minggu hitungan gaji
Hal ini berkaitan dengan kemampuan Anda membeli rumah dengan harga sesuai dengan penghasilan Anda. Satu minggu hitungan gaji adalah gambaran kasar saja. "Artinya bahwa pembayaran cicilan Anda tidak boleh lebih dari seperempat dari pendapatan Anda," ujar Harold Evensky, perencana keuangan bersertifikasi, dan Presiden Evensky & Katz Wealth Management di Coral Gables, Fla. Dengan kata lain, usahakan cicilan rumah Anda kira-kira seperempat saja dari gaji Anda.
4. Tagihan kartu kredit sama seperti tahun-tahun yang lalu
Hanya dengan mengetahui bahwa tagihan kartu kredit selalu sama, sudah merupakan tanda bahwa Anda lebih banyak mengeluarkan daripada memasukkan uang. Apalagi jika pemakaian kartu kredit justru lebih besar setiap tahun atau setiap bulannya. Karena, utang kartu kredit biasanya tidak membiayai aset yang berkembang, melainkan hanya membiayai gaya hidup. Jika Anda bisa mengontrol diri dan setiap kali mampu mengurangi jumlah tagihan, akan baik untuk kondisi keuangan Anda.
5. Mudah terayu oleh barang atau cicilan tanpa bunga
Seringkali ada penawaran menarik yang datang menghampiri, di mana Anda bisa membeli barang impian Anda dengan cara mencicil namun Anda bisa membayar cicilannya tanpa bunga, dan sebagainya. Ada juga yang menawarkan pembayaran tanpa bunga dalam periode tertentu, misalnya sampai setahun yang akan datang. Lebih baik tidak ambil resiko, hanya dengan membayangkan apakah Anda mampu membayarnya belakangan. Karena jika sekarang saja Anda tidak mampu, bagaimana nanti?
6. Membayar tagihan kartu kredit dengan kartu kredit lainnya
Inilah ciri khas lain orang yang besar pasak daripada tiang. Anda selalu mencari kartu kredit baru untuk memindahkan tagihan dari kartu kredit yang lama. Menurut Erin Baehr, perencana keuangan di Stroudsburg, Pa, jika Anda menumpuk utang dalam kartu kredit yang menerapkan bunga tinggi, memindahkan tagihan kartu yang satu ke kartu lain yang bunganya lebih rendah memang akan menguntungkan. Tetapi kalau Anda mentransfer tagihan ke kartu lain yang bunganya tinggi untuk meningkatkan limit kartu kredit, itu bukanlah keputusan yang bijak.
7. Sebelum membeli sesuatu Anda sering berpikir, “Saya tahu, tidak seharusnya saya membelinya, tapi....”
“Saya sudah bekerja keras, jadi saya berhak atas TV layar datar ini,” atau, “Pekerjaan saya berat, jadi saya butuh liburan untuk kesehatan mental saya,” begitu kata Anda. Kedengarannya familiar, bukan? Seringkali kita mencari alasan atau pembenaran untuk memperoleh sesuatu yang nilainya jauh di atas kemampuan kita membelinya. Boleh percaya boleh tidak, menurut Baehr, kata-kata seperti ini justru sering datang dari orang yang kesulitan keuangan. Kalau Anda stabil secara finansial, biasanya Anda tidak akan mengungkapkan demikian.
Minggu, 02 Juni 2013
Larangan Saat Meminjam Dana ke Bank
Ingin tambahan modal usaha, membeli rumah, atau sekadar membeli gadget baru? Bila tabungan belum cukup, ajukan saja pinjaman ke bank. Namun, hindari hal-hal berikut agar Anda tidak terjerat utang.
Meminjam lebih dari yang Anda butuhkan. Karena hanya akan menambah beban pembayaran selamamasa pinjaman.
Cicilan lebih dari 1/3 penghasilan. Ada kemungkinan bank akan menolak permohonan pinjaman bila total cicilan utang Anda (termasuk pinjaman yang baru akan diajukan) melebihi sepertiga dari penghasilan. Pasalnya, bank tak ingin Anda kesulitan membayar kebutuhan lain dan terpaksa mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan utang. Jadi, bila saat ini total cicilan utang Anda sudah mencapai 33 persen dari penghasilan, kurangi dulu porsi cicilan utang tersebut.
Pinjam lagi sebelum satu pinjaman selesai. Hindari mengambil pinjaman lain sampai cicilan pinjaman sebelumnya selesai. Anda tentu tak ingin penghasilan habis untuk membayar utang, kan? Hindari juga memakai uang pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari, kecuali untuk hal-hal yang sangat mendesak, seperti berobat atau membeli barang yang memang penting.
Tergiur syarat mudah, tapi bunga tinggi. Perhatikan besarnya bunga pinjaman. Jangan mudah tergiur dengan persyaratan yang mudah, tapi bunga yang ditawarkan cukup besar. Usahakan pilih lembaga keuangan yang menawarkan bunga pinjaman paling rendah, dengan jangka waktu angsuran terpendek, sehingga jumlah bunga yang dibayarkan tidak terlalu besar.
Jangan berlebihan. Terutama dalam mengisi permohonan pinjaman. Jangan pula memberi data palsu karena pihak bank bisa dengan mudah mengecek fakta dari permohonan Anda.
Meminjam lebih dari yang Anda butuhkan. Karena hanya akan menambah beban pembayaran selamamasa pinjaman.
Cicilan lebih dari 1/3 penghasilan. Ada kemungkinan bank akan menolak permohonan pinjaman bila total cicilan utang Anda (termasuk pinjaman yang baru akan diajukan) melebihi sepertiga dari penghasilan. Pasalnya, bank tak ingin Anda kesulitan membayar kebutuhan lain dan terpaksa mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan utang. Jadi, bila saat ini total cicilan utang Anda sudah mencapai 33 persen dari penghasilan, kurangi dulu porsi cicilan utang tersebut.
Pinjam lagi sebelum satu pinjaman selesai. Hindari mengambil pinjaman lain sampai cicilan pinjaman sebelumnya selesai. Anda tentu tak ingin penghasilan habis untuk membayar utang, kan? Hindari juga memakai uang pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari, kecuali untuk hal-hal yang sangat mendesak, seperti berobat atau membeli barang yang memang penting.
Tergiur syarat mudah, tapi bunga tinggi. Perhatikan besarnya bunga pinjaman. Jangan mudah tergiur dengan persyaratan yang mudah, tapi bunga yang ditawarkan cukup besar. Usahakan pilih lembaga keuangan yang menawarkan bunga pinjaman paling rendah, dengan jangka waktu angsuran terpendek, sehingga jumlah bunga yang dibayarkan tidak terlalu besar.
Jangan berlebihan. Terutama dalam mengisi permohonan pinjaman. Jangan pula memberi data palsu karena pihak bank bisa dengan mudah mengecek fakta dari permohonan Anda.
Apa Titik Balik Perencanaan Keuangan Anda?
Kesadaran untuk merencanakan keuangan demi masa depan lebih baik semakin bertumbuh. Semakin banyak orang yang memahami pentingnya pengelolaan uang terencana. Meski begitu, tak sedikit orang yang masih perlu diingatkan bahkan perlu teguran keras agar bisa mulai mengelola uang lebih baik. Setiap orang punya titik balik sehingga akhirnya memiliki kondisi finansial lebih sehat.
Pembawa acara Cici Panda punya titik balik yang kemudian memotivasinya untuk mulai merencanakan keuangan lebih optimal. Cici Panda mengaku mulai merencanakan keuangan dengan berinvestasi sejak kondisi finansialnya menurun lantaran terkuras untuk membeli rumah.
"Titik baliknya rumah. Saat beli rumah mulai sadar ada yang nggak beres dengan keuangan. Karena saat beli rumah kadang lupa memperhitungkan isi rumah, perlu ada yang direnovasi dan lainnya, bukan sekadar membeli rumahnya. Setiap ada pendapatan masuk, langsung digunakan untuk rumah, akhirnya tidak ada tabungan," ungkapnya seusai peluncuran buku Make It Happen! karya perencana keuangan Prita Ghozie di Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Menyadari bahwa ia bukan tipe pengambil risiko tinggi untuk urusan keuangan, Cici Panda dengan bantuan perencana keuangan, mulai berinvestasi. Reksa Dana menjadi pilihan Cici Panda untuk mulai berinvestasi sebagai caranya melangkah melakukan aksi mengimplementasikan rencana keuangan dan impiannya.
"Mimpinya mau punya rumah kedua, menyiapkan dana pensiun, dana pendidikan anak dan liburan. Saya nggak berani ambil risiko tinggi untuk investasi, setelah dijelaskan, reksa dana paling tepat untuk saya dan saya tipenya perlu 'ditampar' untuk melek soal investasi," ungkapnya.
Untuk tipe pribadi sepertinya, Cici Panda menyarankan sebaiknya pilih perencana keuangan yang bisa dipercaya karena dia lah yang mengalokasikan uang Anda. Dengan bantuan perencana keuangan, Cici Panda juga mengaku mulai bisa menabung dan lebih menghemat pengeluaran lantaran sudah memiliki tujuan yang lebih jelas.
"Sekarang saya bisa berhemat untuk menabung. Juga bisa menolak jika ditawari sesuatu, sudah nggak gampang tergoda karena ada gol yang lebih besar. Saya juga bisa bermimpi lebih tinggi, dan mulai zakat atau dalam agama saya perpuluhan," ungkapnya.
Lantaran punya motivasi besar untuk menabung, Cici Panda juga mengaku mengalami perubahan dalam gaya hidupnya. Kebiasaan makan di luar rumah berkurang dari hampir setiap hari menjadi seminggu dua kali. Belanja rumah tangga pun berhemat dengan memilih pergi ke pasar tradisional ketimbang supermarket. Satu lagi yang berubah, belanja kosmetik pun di rem agar bisa menyisihkan uang untuk berinvestasi demi sejumlah impiannya.
"Sebelumnya, banyak pengeluaran yang tidak terencana, lebih sporadis, sekarang lebih hitung-hitungan banyak yang di-cut, bukannya pelit tapi berhemat," tandasnya.
Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi titik balik untuk merencanakan keuangan lebih optimal dan mulai berinvestasi?
Pembawa acara Cici Panda punya titik balik yang kemudian memotivasinya untuk mulai merencanakan keuangan lebih optimal. Cici Panda mengaku mulai merencanakan keuangan dengan berinvestasi sejak kondisi finansialnya menurun lantaran terkuras untuk membeli rumah.
"Titik baliknya rumah. Saat beli rumah mulai sadar ada yang nggak beres dengan keuangan. Karena saat beli rumah kadang lupa memperhitungkan isi rumah, perlu ada yang direnovasi dan lainnya, bukan sekadar membeli rumahnya. Setiap ada pendapatan masuk, langsung digunakan untuk rumah, akhirnya tidak ada tabungan," ungkapnya seusai peluncuran buku Make It Happen! karya perencana keuangan Prita Ghozie di Jakarta, Kamis (30/5/2013).
Menyadari bahwa ia bukan tipe pengambil risiko tinggi untuk urusan keuangan, Cici Panda dengan bantuan perencana keuangan, mulai berinvestasi. Reksa Dana menjadi pilihan Cici Panda untuk mulai berinvestasi sebagai caranya melangkah melakukan aksi mengimplementasikan rencana keuangan dan impiannya.
"Mimpinya mau punya rumah kedua, menyiapkan dana pensiun, dana pendidikan anak dan liburan. Saya nggak berani ambil risiko tinggi untuk investasi, setelah dijelaskan, reksa dana paling tepat untuk saya dan saya tipenya perlu 'ditampar' untuk melek soal investasi," ungkapnya.
Untuk tipe pribadi sepertinya, Cici Panda menyarankan sebaiknya pilih perencana keuangan yang bisa dipercaya karena dia lah yang mengalokasikan uang Anda. Dengan bantuan perencana keuangan, Cici Panda juga mengaku mulai bisa menabung dan lebih menghemat pengeluaran lantaran sudah memiliki tujuan yang lebih jelas.
"Sekarang saya bisa berhemat untuk menabung. Juga bisa menolak jika ditawari sesuatu, sudah nggak gampang tergoda karena ada gol yang lebih besar. Saya juga bisa bermimpi lebih tinggi, dan mulai zakat atau dalam agama saya perpuluhan," ungkapnya.
Lantaran punya motivasi besar untuk menabung, Cici Panda juga mengaku mengalami perubahan dalam gaya hidupnya. Kebiasaan makan di luar rumah berkurang dari hampir setiap hari menjadi seminggu dua kali. Belanja rumah tangga pun berhemat dengan memilih pergi ke pasar tradisional ketimbang supermarket. Satu lagi yang berubah, belanja kosmetik pun di rem agar bisa menyisihkan uang untuk berinvestasi demi sejumlah impiannya.
"Sebelumnya, banyak pengeluaran yang tidak terencana, lebih sporadis, sekarang lebih hitung-hitungan banyak yang di-cut, bukannya pelit tapi berhemat," tandasnya.
Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi titik balik untuk merencanakan keuangan lebih optimal dan mulai berinvestasi?
Jangan Salah Tempat Mengalokasikan Uang
Kesalahan mengalokasikan dana umumnya terdapat pada tabungan. Kebanyakan orang mengandalkan tabungan untuk simpanan hari tua juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kesalahan umum lainnya adalah membayar polis asuransi namun tak memahami tujuannya. Alhasil uang yang semestinya bisa dimaksimalkan untuk investasi yang lebih menguntungkan, mengalir ke dana asuransi yang tak jelas tujuan finansialnya.
Saat bincang-bincang peluncuran buku keduanya berjudul Make It Happen!, Prita mengatakan menabung tak cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari tua. Perempuan yang tak hentinya mengedukasi pentingnya investasi ini juga mengungkapkan 50 persen orang tidak bisa membedakan antara simpanan, tabungan, dan investasi.
Masalah keuangan kemudian muncul bukan hanya karena minimnya tabungan, tapi juga disebabkan oleh gaya hidup tinggi dan kebiasaan berutang. Sekitar 30 persen orang memiliki gaya hidup tinggi dan 18 persen hobi berutang.
Dengan berbagai masalah keuangan dan salah tempat alokasi dana inilah, banyak orang tak mampu mewujudkan sejumlah impiannya. Seperti memiliki rumah, dana pendidikan anak, dana pensiun, juga kesempatan berlibur,
Mengenai asuransi, kesalahan yang paling umum dilakukan adalah membeli asuransi dengan premi yang tidak sesuai kemampuan finansial.Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 20 persen dari gaji bulanannya untuk premi asuransi. Padahal, semestinya alokasi dana untuk premi asuransi hanya lima persen dari gaji.
"Yang paling penting dari asuransi adalah nasabah tahu mau apa dengan asuransi tersebut. Tidak mungkin semua asuransi dimiliki, jadi memang harus memilih," sarannya.
Prita melanjutkan banyaknya polis asuransi yang dimiliki karena mudah tergoda tawaran lantaran minimnya pengetahuan. Termasuk asuransi yang masuk dalam tagihan kartu kredit.
"Boleh saja membeli asuransi yang ditawarkan asal jelas tujuannya sesuai kebutuhan dan kemampuan. Termasuk asuransi yang masuk tagihan kartu kredit karena bagi sebagian orang ini membantu membayar bulanan. Namun pastikan Anda membayar lunas tagihan kartu kredit bukan membayar minimum payment karena itu sama saja berasuransi dengan berutang," sarannya.
Saat bincang-bincang peluncuran buku keduanya berjudul Make It Happen!, Prita mengatakan menabung tak cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari tua. Perempuan yang tak hentinya mengedukasi pentingnya investasi ini juga mengungkapkan 50 persen orang tidak bisa membedakan antara simpanan, tabungan, dan investasi.
Masalah keuangan kemudian muncul bukan hanya karena minimnya tabungan, tapi juga disebabkan oleh gaya hidup tinggi dan kebiasaan berutang. Sekitar 30 persen orang memiliki gaya hidup tinggi dan 18 persen hobi berutang.
Dengan berbagai masalah keuangan dan salah tempat alokasi dana inilah, banyak orang tak mampu mewujudkan sejumlah impiannya. Seperti memiliki rumah, dana pendidikan anak, dana pensiun, juga kesempatan berlibur,
Mengenai asuransi, kesalahan yang paling umum dilakukan adalah membeli asuransi dengan premi yang tidak sesuai kemampuan finansial.Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 20 persen dari gaji bulanannya untuk premi asuransi. Padahal, semestinya alokasi dana untuk premi asuransi hanya lima persen dari gaji.
"Yang paling penting dari asuransi adalah nasabah tahu mau apa dengan asuransi tersebut. Tidak mungkin semua asuransi dimiliki, jadi memang harus memilih," sarannya.
Prita melanjutkan banyaknya polis asuransi yang dimiliki karena mudah tergoda tawaran lantaran minimnya pengetahuan. Termasuk asuransi yang masuk dalam tagihan kartu kredit.
"Boleh saja membeli asuransi yang ditawarkan asal jelas tujuannya sesuai kebutuhan dan kemampuan. Termasuk asuransi yang masuk tagihan kartu kredit karena bagi sebagian orang ini membantu membayar bulanan. Namun pastikan Anda membayar lunas tagihan kartu kredit bukan membayar minimum payment karena itu sama saja berasuransi dengan berutang," sarannya.
Apakah Gaji Istri Sebaiknya Jadi Milik Pribadi?
Menurut pengamatan saya, ada empat kemungkinan yang bisa terjadi tentang pengelolaan uang dalam sebuah hubungan.
1. Penghasilan suami dan istri digabung, lalu digunakan untuk keperluan keluarga. Inilah adalah cara termudah, karena setiap bulan Anda tinggal membagi semua keperluan berdasarkan penghasilan yang diterima oleh masing-masing.
2. Penghasilan suami sepenuhnya milik keluarga, penghasilan istri milik sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga Muslim, cara inilah yang sebetulnya disarankan. Alasannya karena tanggung jawab suami adalah menafkahi keluarga.
3. Suami memberikan uang bulanan kepada istri, tetapi jumlah penghasilan sesungguhnya tidak diketahui pasangan. Cara ini masih ditempuh oleh beberapa pasangan, biasanya karena suami ingin memegang kendali penuh atas keuangan rumah tangga.
4. Pembagian tugas dalam menyelesaikan kebutuhan. Misal gaji suami digunakan untuk bayar cicilan rumah, bayar uang sekolah anak, dan bayar belanja bulanan. Sedangkan gaji istri digunakan untuk bayar tagihan listrik, telepon, dan urusan liburan.
Tidak ada yang benar dan salah dalam model pengelolaan keuangan yang Anda berdua pilih. Namun, sebelum menikah, Anda berdua wajib terbuka mengenai berapa penghasilan yang diperoleh, siapa yang bertugas jadi manajer keuangan, dan bagaimana pembagian tugas dalam pengelolaan penghasilan.
Manajer keuangan dalam rumah tangga bertanggung jawab untuk membuat rencana pengeluaran bulanan, tahunan, dan mencatat pertumbuhan kekayaan keluarga. Selain itu, manajer harus dapat memilih produk investasi yang tepat sesuai rencana keuangan dan membuat laporan tahunan kepada pasangannya.
Jika Anda memilih metode nomor 2, saya juga ingin ingatkan bahwa seorang isteri dapat bekerja dan berpenghasilan juga atas ijin dan restu dari suami. Sehingga, menurut saya, sepantasnya penghasilan isteri dapat dikelola dengan amanah dan optimal, agar dapat membantu kesejahteraan keluarga tercapai. Caranya bisa menyisihkan 50 persen penghasilan isteri untuk investasi keluarga, dan sisanya dapat dipergunakan untuk keperluan pribadi isteri.
1. Penghasilan suami dan istri digabung, lalu digunakan untuk keperluan keluarga. Inilah adalah cara termudah, karena setiap bulan Anda tinggal membagi semua keperluan berdasarkan penghasilan yang diterima oleh masing-masing.
2. Penghasilan suami sepenuhnya milik keluarga, penghasilan istri milik sendiri. Dalam kehidupan rumah tangga Muslim, cara inilah yang sebetulnya disarankan. Alasannya karena tanggung jawab suami adalah menafkahi keluarga.
3. Suami memberikan uang bulanan kepada istri, tetapi jumlah penghasilan sesungguhnya tidak diketahui pasangan. Cara ini masih ditempuh oleh beberapa pasangan, biasanya karena suami ingin memegang kendali penuh atas keuangan rumah tangga.
4. Pembagian tugas dalam menyelesaikan kebutuhan. Misal gaji suami digunakan untuk bayar cicilan rumah, bayar uang sekolah anak, dan bayar belanja bulanan. Sedangkan gaji istri digunakan untuk bayar tagihan listrik, telepon, dan urusan liburan.
Tidak ada yang benar dan salah dalam model pengelolaan keuangan yang Anda berdua pilih. Namun, sebelum menikah, Anda berdua wajib terbuka mengenai berapa penghasilan yang diperoleh, siapa yang bertugas jadi manajer keuangan, dan bagaimana pembagian tugas dalam pengelolaan penghasilan.
Manajer keuangan dalam rumah tangga bertanggung jawab untuk membuat rencana pengeluaran bulanan, tahunan, dan mencatat pertumbuhan kekayaan keluarga. Selain itu, manajer harus dapat memilih produk investasi yang tepat sesuai rencana keuangan dan membuat laporan tahunan kepada pasangannya.
Jika Anda memilih metode nomor 2, saya juga ingin ingatkan bahwa seorang isteri dapat bekerja dan berpenghasilan juga atas ijin dan restu dari suami. Sehingga, menurut saya, sepantasnya penghasilan isteri dapat dikelola dengan amanah dan optimal, agar dapat membantu kesejahteraan keluarga tercapai. Caranya bisa menyisihkan 50 persen penghasilan isteri untuk investasi keluarga, dan sisanya dapat dipergunakan untuk keperluan pribadi isteri.
Sisa Gaji Tak Cukup untuk Punya Anak
Setiap persoalan mengenai pengaturan keuangan harus dimulai dengan menyusun anggaran rumah tangga. Saya minta Anda untuk membuat catatan pengeluaran selama tiga bulan ke belakang. Buatlah dengan pembagian seperti berikut ini;
1. Zakat dan sumbangan
2. Tabungan dan investasi
3. Rumah tangga
4. Utilitas (Listrik, telp)
5. Rutin bulanan (Belanja bulanan atau dapur)
6. Transportasi
7. Kesehatan
8. Belanja pribadi (Anda dan pasangan)
9. Pembayaran Cicilan utang
10. Hiburan, senang-senang
Pos manakah yang membutuhkan penghasilan terbesar? Masih dapatkah Anda melakukan penghematan?
Saya punya beberapa ide yang mungkin dapat Anda lakukan, dan terbukti dapat mengurangi biaya hidup banyak keluarga. Misalnya: buatlah menu makanan bulanan, agar tidak banyak bahan makanan yang terbuang. Gantilah perangkat listrik dengan yang lebih hemat energi agar biaya listrik dapat berkurang. Usahakan untuk membeli peralatan rumah tangga dari merek lokal tempat Anda berbelanja. Belilah buah-buahan lokal yang lebih murah dan lebih terjaga kualitasnya.
Langkah berikutnya adalah menambah penghasilan. Biasanya untuk para karyawan, cara menambah penghasilan yang paling mudah adalah berjualan barang-barang dengan konsep Multi-Level Marketing. Anda dapat melakukannya sambil bekerja, dan tambahan penghasilan pun cukup lumayan. Silakan dicoba, ya? Semoga bermanfaat.
1. Zakat dan sumbangan
2. Tabungan dan investasi
3. Rumah tangga
4. Utilitas (Listrik, telp)
5. Rutin bulanan (Belanja bulanan atau dapur)
6. Transportasi
7. Kesehatan
8. Belanja pribadi (Anda dan pasangan)
9. Pembayaran Cicilan utang
10. Hiburan, senang-senang
Pos manakah yang membutuhkan penghasilan terbesar? Masih dapatkah Anda melakukan penghematan?
Saya punya beberapa ide yang mungkin dapat Anda lakukan, dan terbukti dapat mengurangi biaya hidup banyak keluarga. Misalnya: buatlah menu makanan bulanan, agar tidak banyak bahan makanan yang terbuang. Gantilah perangkat listrik dengan yang lebih hemat energi agar biaya listrik dapat berkurang. Usahakan untuk membeli peralatan rumah tangga dari merek lokal tempat Anda berbelanja. Belilah buah-buahan lokal yang lebih murah dan lebih terjaga kualitasnya.
Langkah berikutnya adalah menambah penghasilan. Biasanya untuk para karyawan, cara menambah penghasilan yang paling mudah adalah berjualan barang-barang dengan konsep Multi-Level Marketing. Anda dapat melakukannya sambil bekerja, dan tambahan penghasilan pun cukup lumayan. Silakan dicoba, ya? Semoga bermanfaat.
Mending Tabungan Pendidikan atau Asuransi Pendidikan?
Tabungan adalah produk untuk menabung yang dapat menjaga keutuhan modal awal. Namun, tentu saja imbal hasilnya pasti tidak tinggi. Asuransi merupakan produk proteksi untuk melindungi keuangan keluarga apabila kepala keluarga yang menjadi sumber penghasilan meninggal dunia, atau menderita cacat total tetap permanen. Sehingga, jelas, tabungan untuk menabung, dan asuransi untuk proteksi.
Nah, asuransi pendidikan pada dasarnya adalah kombinasi produk asuransi jiwa berjangka (term-life) plus tabungan. Fitur utama sebetulnya asuransi jiwa yang akan membayarkan uang pertanggungan apabila si tertanggung meninggal dunia sebelum si anak masuk universitas. Fitur tambahannya adalah memaksa Anda untuk menabung.
Dari saldo tabungan yang terhimpun, perusahaan asuransi akan mengeluarkan sejumlah uang pada saat anak masuk SD, masuk SMP, masuk SMA, dan masuk universitas. Sehingga, jika Anda tidak meninggal dunia hingga polis berakhir, anak hanya mendapatkan porsi tabungan dalam bentuk pembayaran yang dijanjikan tersebut plus bonus bila ada.
Tabungan pendidikan adalah produk tabungan berjangka yang biasanya berdurasi dua tahun ke atas, di mana Anda harus menyetorkan dana setiap bulan hingga jatuh tempo. Biasanya ditambahkan manfaat fitur asuransi jiwa, jadi tabungan akan terus tersetor meskipun orangtua meninggal dunia.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh ZAPFIN Research Division, rata-rata kenaikan biaya pendidikan di Indonesia mencapai 15 persen per tahun. Dengan angka ini, rasanya akan sulit jika Anda harus menyiapkan dana pendidikan anak jangka panjang dengan menabung di Tabungan Pendidikan yang hanya memberikan hasil sekitar 6 persen per tahun, dan juga asuransi pendidikan yang sebetulnya berfungsi untuk proteksi.
Anda butuh berinvestasi untuk mempersiapkan dana pendidikan jangka panjang. Produk investasi seperti reksadana, adalah produk untuk melipatgandakan modal awal Anda dengan lebih cepat karena bisa memberikan potensi hasil hingga 20 persen per tahun. Namun, tentu saja resikonya bisa jadi nilai investasi menurun pada suatu periode.
Tips mempersiapkan dana pendidikan:
1. Tentukan sekolah mana yang ingin dituju, hitung kebutuhan biaya saat ini. Lakukan riset atau tanyakan kepada perencana keuangan mengenai hal ini. Lalu, hitung kebutuhan biaya nanti dengan memasukkan inflasi sebesar 10 - 15 persen per tahun. Anda bisa menggunakan fitur bantuan kalkulator Dana Pendidikan di www.zapfinance.co.id untuk menghitung.
2. Periksa kembali tabungan atau investasi yang sudah Anda persiapkan. Jika dananya belum cukup atau bahkan belum ada sama sekali, sekaranglah saatnya untuk mempersiapkan.
3. Sesuaikan produk keuangan yang dipilih dengan jangka waktu kebutuhannya. Masing-masing produk keuangan memiliki karakter dan fungsi yang berbeda. Misalnya, produk reksadana saham bisa digunakan untuk memenuhi tujuan dana kuliah anak yang jangka waktunya masih lebih dari 10 tahun dari sekarang, tapi produk ini tidak sesuai untuk memenuhi dana pendidikan jangka pendek untuk anak yang akan kuliah 3 tahun lagi.
4. Beli proteksi asuransi jiwa murni, yang akan memberikan jaminan apabila kepala keluarga meninggal dunia dan tidak dapat meneruskan investasi.
Nah, asuransi pendidikan pada dasarnya adalah kombinasi produk asuransi jiwa berjangka (term-life) plus tabungan. Fitur utama sebetulnya asuransi jiwa yang akan membayarkan uang pertanggungan apabila si tertanggung meninggal dunia sebelum si anak masuk universitas. Fitur tambahannya adalah memaksa Anda untuk menabung.
Dari saldo tabungan yang terhimpun, perusahaan asuransi akan mengeluarkan sejumlah uang pada saat anak masuk SD, masuk SMP, masuk SMA, dan masuk universitas. Sehingga, jika Anda tidak meninggal dunia hingga polis berakhir, anak hanya mendapatkan porsi tabungan dalam bentuk pembayaran yang dijanjikan tersebut plus bonus bila ada.
Tabungan pendidikan adalah produk tabungan berjangka yang biasanya berdurasi dua tahun ke atas, di mana Anda harus menyetorkan dana setiap bulan hingga jatuh tempo. Biasanya ditambahkan manfaat fitur asuransi jiwa, jadi tabungan akan terus tersetor meskipun orangtua meninggal dunia.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh ZAPFIN Research Division, rata-rata kenaikan biaya pendidikan di Indonesia mencapai 15 persen per tahun. Dengan angka ini, rasanya akan sulit jika Anda harus menyiapkan dana pendidikan anak jangka panjang dengan menabung di Tabungan Pendidikan yang hanya memberikan hasil sekitar 6 persen per tahun, dan juga asuransi pendidikan yang sebetulnya berfungsi untuk proteksi.
Anda butuh berinvestasi untuk mempersiapkan dana pendidikan jangka panjang. Produk investasi seperti reksadana, adalah produk untuk melipatgandakan modal awal Anda dengan lebih cepat karena bisa memberikan potensi hasil hingga 20 persen per tahun. Namun, tentu saja resikonya bisa jadi nilai investasi menurun pada suatu periode.
Tips mempersiapkan dana pendidikan:
1. Tentukan sekolah mana yang ingin dituju, hitung kebutuhan biaya saat ini. Lakukan riset atau tanyakan kepada perencana keuangan mengenai hal ini. Lalu, hitung kebutuhan biaya nanti dengan memasukkan inflasi sebesar 10 - 15 persen per tahun. Anda bisa menggunakan fitur bantuan kalkulator Dana Pendidikan di www.zapfinance.co.id untuk menghitung.
2. Periksa kembali tabungan atau investasi yang sudah Anda persiapkan. Jika dananya belum cukup atau bahkan belum ada sama sekali, sekaranglah saatnya untuk mempersiapkan.
3. Sesuaikan produk keuangan yang dipilih dengan jangka waktu kebutuhannya. Masing-masing produk keuangan memiliki karakter dan fungsi yang berbeda. Misalnya, produk reksadana saham bisa digunakan untuk memenuhi tujuan dana kuliah anak yang jangka waktunya masih lebih dari 10 tahun dari sekarang, tapi produk ini tidak sesuai untuk memenuhi dana pendidikan jangka pendek untuk anak yang akan kuliah 3 tahun lagi.
4. Beli proteksi asuransi jiwa murni, yang akan memberikan jaminan apabila kepala keluarga meninggal dunia dan tidak dapat meneruskan investasi.
Langganan:
Postingan (Atom)