Senin, 03 Juni 2013

6 Pilihan Mengatur Gaji Pasangan

Tantangan ketika menikah adalah bagaimana mengelola keuangan bersama. Maklum saja, selama ini hidup sendiri-sendiri, bebas menggunakan gaji untuk kesenangan masing-masing, mendadak harus saling berbagi dan menabung untuk tujuan bersama. Haruskah setiap pasangan menyatukan penghasilan dalam satu rekening, atau bisakah tetap hidup dengan rekening masing-masing?

Tidak ada satu cara pasti untuk mengelola keuangan atau mengatur penghasilan pasangan, karena semuanya tergantung dari situasi yang dialami masing-masing pasangan. Untuk Anda, perencana keuangan Sophia Bera dari Cahill Financial Advisors, Inc. memberi pilihan enam cara pengelolaan uang yang mungkin akan cocok untuk cara hidup Anda dan pasangan.

1. Membuka satu rekening bersama
Selain memiliki tabungan untuk menampung penghasilan masing-masing, Anda juga bisa membuka satu rekening bersama. Jumlah yang disetor masing-masing bisa sama atau berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang memiliki penghasilan yang kurang lebih sama, untuk membayar sewa rumah, tagihan-tagihan, belanja kebutuhan sehari-hari, dan pengeluaran bersama lainnya.

"Memiliki rekening bersama memberikan masing-masing pasangan akses pada dana tersebut," ungkap perencana keuangan Sophia Bera. "Masing-masing harus percaya bahwa yang lain akan menggunakan uang dengan cara yang telah disepakati."

2. Menyisihkan persentase tertentu dari gaji
Caranya sama, membuka rekening bersama, namun jumlah setorannya ditentukan berdasarkan persentase penghasilan.Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang berbeda, baik dari jumlah maupun sumbernya. Jadi, meskipun Anda dan suami memiliki penghasilan yang jauh berbeda, masing-masing menyisihkan persentase yang sama dari gaji.

Idealnya, jumlah yang disetorkan di bawah 50 persen dari take-home pay masing-masing pasangan. Sebutlah misalnya 30 persen. Jadi jika gaji Anda Rp 5 juta, jatah setoran Anda Rp 1,5 juta. Sedangkan jika gaji suami Rp 10 juta, maka jatahnya Rp 3 juta. Tabungan semacam ini baik dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang, misalnya biaya pendidikan anak di perguruan tinggi, naik haji, atau liburan. Di luar itu, Anda masih bisa membuka rekening pribadi dan menggunakannya untuk biaya hidup sehari-hari.


3. Salah satu membayar semua pengeluaran
Meskipun Anda dan suami sama-sama bekerja, hanya satu orang yang diputuskan untuk membayar semua pengeluaran. Cocok untuk: Pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan jauh lebih besar, atau salah satu memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin mengasuh anak atau melanjutkan sekolah.

Cara ini dapat menguji apakah penghasilan salah seorang bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga. Bila gaji suami lah yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pengeluaran rumah tangga. Sebelum memutuskannya, Anda bisa berdiskusi lebih dulu. Jika suatu saat Anda kembali bekerja, apakah Anda harus ikut andil dalam membayar pengeluaran, atau menabung saja penghasilan Anda? Jenis pengeluaran seperti apa yang menjadi tanggung jawab Anda?

4. Masing-masing memilih jatah tagihan yang mampu dibayar
Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang sedang, sehingga masing-masing dituntut bertanggung jawab untuk membayar pengeluaran rumah tangga.

Setiap rumah tangga pasti memiliki pengeluaran dan tagihan yang harus dibayar, dari PAM, PLN, komunikasi (telepon dan internet), kartu kredit (yang digunakan untuk membeli peralatan rumah tangga), hingga cicilan mobil dan kontrakan rumah. Anda bisa memilih sendiri mana tagihan yang mampu Anda bayar, sesuai dengan penghasilan Anda. Misalnya, karena Anda punya penghasilan tetap dan lebih besar, Anda yang membayar kontrakan rumah, dan cicilan mobil. Sedangkan suami yang membayar kartu kredit, asuransi, PAM, PLN, dan komunikasi, karena ia bekerja di rumah dan selalu terhubung dengan internet.

“Yang paling penting, bicarakan hal ini lebih dulu, dan buat perencanaan yang efektif untuk Anda berdua," ujar Bera.

5. Menyatukan seluruh penghasilan dalam satu rekening
Cocok untuk: Anda yang ingin menyatukan milik berdua seutuhnya, atau untuk menghindari salah satu melakukan pemborosan terhadap rekening pribadi.

Ada dua cara yang bisa Anda pilih. Rekening ini digunakan untuk seluruh keperluan, dari membayar pengeluaran rumah tangga sampai tabungan bersama. Tantangannya: Anda harus disiplin menyisihkan uang di dalam rekening ini untuk ditinggalkan sebagai tabungan. Cara lain adalah membuat rekening bersama ini untuk pengeluaran tetap (seperti cicilan rumah dan kendaraan) dan tabungan, dan satu rekening lagi untuk biaya operasional sehari-hari termasuk untuk bersenang-senang atau liburan. Dengan pengelolaan seperti ini, Anda harus rajin membuat pembukuan bulanan untuk menghitung pengeluaran dan kemajuan nilai tabungan Anda.








6. Mengandalkan satu gaji saja
Cara ini mirip dengan cara nomor tiga di atas, namun dengan tujuan berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang sama-sama bekerja, namun memutuskan untuk berhemat dan menabung lebih banyak. Misalnya, gaji suami digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari, sementara gaji Anda ditabung untuk dana pensiun atau dana cadangan. Pengaturan ini bisa dilakukan untuk pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan tidak tetap, belum mempunyai anak, dan jika sudah ada anak berencana menjadi ibu rumah tangga.

Gunakan gaji suami (atau gaji Anda, terserah gaji siapa yang akan digunakan) untuk membiayai seluruh pengeluaran, dari kebutuhan hidup sehari-hari, membayar tagihan-tagihan, gaya hidup, dan bila mungkin tabungan dan investasi. "Ini salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan pasangan untuk keuangan mereka, karena memaksa mereka untuk menjaga pengeluaran tetap rendah dan berhemat, serta menabung untuk kondisi darurat dan saat pensiun nanti," ujar Bera.

Pada awalnya, cara ini mungkin akan sulit dilakukan. Tetapi jika Anda disiplin, Anda akan sukses menjalankannya. Bahkan, rumah, liburan, atau pendidikan anak di luar negeri yang Anda impikan bisa tercapai lebih cepat.

Orang Miskin Tak Bisa Pegang Uang?

Apa jadinya bila orang yang sedang kesulitan keuangan tiba-tiba memenangkan lotre dalam jumlah yang besar? Penelitian para ekonom dari University of Kentucky, University of Pittsburgh, dan Vanderbilt University membuktikan, dalam lima tahun, para pemenang lotre jadi bangkrut.

Studi dilakukan terhadap 35.000 pemenang lotre yang memenangkan hadiah 150.000 dollar di Florida selama kurun waktu sembilan tahun (1993-2002). Peneliti lalu mencocokkan informasi tersebut dengan catatan kebangkrutan di negara bagian tersebut. Dari jumlah pemenang tersebut, yang menjadi bangkrut jumlahnya 1.900 orang.

Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi para peneliti, mengapa orang yang miskin tetap akan miskin -bahkan bisa lebih miskin- meskipun telah mendapatkan uang dalam jumlah besar? Di pihak lain, banyak juga milyuner yang mengalami kemunduran dalam keuangannya lalu bisa membalikkan situasi sehingga berhasil bangkit lagi.

Peneliti menduga fenomena ini ada kaitannya dengan "Kesadaran Kemakmuran", atau "Kesadaran Kemiskinan". Jika Anda pada dasarnya punya masalah dengan keuangan, kemungkinan hal itu disebabkan Anda menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir mengenai pergumulan dengan keuangan. Dengan kata lain, hal ini disebabkan kekuatannegative thinking.

Ketika seseorang dibebani masalah finansial, wajar jika ia terus berpikir mengenai beban tersebut. Anda akan terus mengkhawatirkan bagaimana cara membayar tagihan setiap bulan, dan apa yang akan terjadi jika terjadi sesuatu yang tidak terduga. Inilah mindset dari Kesadaran Kemiskinan, dan seringkali menjadi kenyataan. Semakin Anda berpikir, mengkhawatirkan, dan terobsesi dengan tagihan-tagihan tersebut, hal itu akan semakin menghantui Anda.

Sandy Forster dalam bukunya, How to be Wildly Wealthy - Fast, mengungkapkan, Anda bisa saja menghabiskan beberapa jam sehari membayangkan kesuksesan, potensi Anda untuk menjadi makmur, dan betapa indahnya bila hal itu menjadi kenyataan. Tetapi, hal itu tak akan ada gunanya lagi jika Anda menggunakan waktu lain dalam keseharian Anda untuk memikirkan tagihan dan mengkhawatirkan dari mana Anda akan mendapatkan uang untuk membayarnya.

Menurut Sandy, problem yang diharus diatasi oleh orang yang ingin sukses adalah attitude Anda terhadap kekayaan itu sendiri. Kesejahteraan hidup telah terprogram semenjak masa kecil Anda. Kalau orangtua Anda memiliki mindsetKesadaran Kemiskinan, Anda pun akan mewarisinya.

Jika Anda memimpikan kekayaan, namun sulit membiarkannya terjadi dalam hidup Anda, maka meskipun Anda telah mencapai kesuksesan, Anda tak akan mampu memegang uang. Keyakinan bawah sadar ternyata bisa membuat Anda lebih sulit untuk berubah. Karena, Anda tidak benar-benar nyaman ketika punya uang, karena konotasi negatif yang secara alami Anda kaitkan dengan kekayaan yang luar biasa.

Lalu, bagaimana cara mengubah Kesadaran Kemiskinan menjadi Kesadaran Kemakmuran?

Anda hanya perlu memberikan gambaran yang positif mengenai kemakmuran. Kumpulkan gambar-gambar rumah mewah, mobil mewah, dan simbol-simbol kekayaan lain, lalu tempelkan di penjuru rumah. Bayangkan Anda hidup di rumah mewah tersebut.

Cara lainnya, coba bayangkan ketika Anda mengelola suatu organisasi amal yang punya reputasi baik, dan bagaimana aktivitas Anda sehari-hari ketika melakukan tugas untuk "mengubah dunia". Jika Anda tidak benar-benar nyaman saat memiliki kekayaan atau kekuasaan tersebut, Anda tak akan pernah mampu mencapainya.

Kesimpulannya, Anda harus benar-benar menerima konsekuensi dari kesuksesan Anda, dan merengkuh kemakmuran tersebut, sehingga kemakmuran pun akan merangkul Anda.

Sejahtera Tanpa Jadi Serakah

Banyak investor tiba-tiba menjadi kaya raya karena untung besar dari investasinya. Namun tidak lama kemudian mereka jatuh miskin, juga karena aktivitas investasi. Dengan kata lain, kesejahteraan yang diperoleh hanya sesaat. Tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, sebagai investor, selayaknya Anda berpikir dan merencanakan investasi dalam rangka mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.

Kenapa demikian? Sebab, kesejahteraan hakikatnya seperti mendaki anak tangga. Semakin lama, mesti mencapai anak tangga yang lebih tinggi. Namun jika tidak hati-hati, bisa tergelincir dan jatuh lagi.

Kesejahteraan sebenarnya adalah ketika seseorang bisa memenuhi kebutuhan—secara relatif—baik itu kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, berdasarkan nilai-nilai yang ada pada seseorang. Tuan X, misalnya, merasa sudah cukup kaya dan sejahtera ketika bisa menikmati makan 3 kali sehari, bisa berbelanja sandang, bisa memiliki rumah kecil, dan bisa menyekolahkan anak. Tuan X merasa hartanya sudah mencukupi dan hidup bahagia.

Namun lain dengan Mr Y. Ia sudah memiliki rumah besar, mobil bagus, deposito di berbagai bank, dan pernak-pernik kekayaan lain. Namun, Mr Y merasa semua itu belum cukup. Polan melihat teman-temannya jauh lebih kaya ketimbang dirinya.

Dari situasi tersebut jelas bahwa besarnya harta tidak berbanding lurus dengan makna kesejahteraan secara relatif. Dengan kata lain, sejahtera sebenarnya dimulai dari konsep berpikir atau persepsi terhadap kesejahteraan itu sendiri. Jadi tidak mengherankan jika Mr X merasa sejahtera, sementara Mr Y masih merasa ”sengsara”. Makanya disebut sebagai nilai relatif. Lalu, bagaimana agar tidak terjebak dalam suasana seperti itu? Ada beberapa hal yang sebaiknya dicerna ulang, seperti berikut ini.

Konsep sejahtera
Pertama, memahami konsep kesejahteraan. Point penting dalam memahami kesejahteraan adalah memutuskan arti kesejahteraan berdasarkan nilai pada diri kita masing-masing. Bukan karena tetangga kita memiliki rumah lebih bagus atau mobil lebih banyak dari kita, maka kita anggap tetangga kita lebih sejahtera. Bukan itu maknanya, melainkan model kesejahteraan seperti apa yang kita inginkan. Jadi tidak perlu melihat orang lain. Itu yang utama.

Berikutnya, adalah, memastikan untuk apa semua uang dan harta yang sudah dan akan Anda miliki nantinya. Jadi ada tujuan dari harta tersebut. Bukan sekadar dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Ini sekaligus menjelaskan bahwa kekayaan dalam makna kesejahteraan adalah ketika Anda bisa menikmati dan mensyukuri kekayaan tersebut. Bukan kekayaan yang berlimpah karena korupsi, misalnya. Atau dalam bentuk lain, harta dan kekayaan membuat kita menjadi berperilaku buruk, menjadi serakah atau menjadi kikir.

Jadi, definisikan dulu arti kesejahteraan secara seluas-luasnya. Termasuk, hubungan antara jumlah harta dan uang yang dimiliki atau diinginkan dengan kebahagiaan. Baru setelah itu bicara mengenai bagaimana mencapainya.

Kedua, mendapatkan kesejahteraan. Nah, dalam point inilah, aspek sejahtera berkelanjutan mesti ditanamkan di dalam diri kita. Kesejahteraan, khususnya kesejahteraan finansial, mesti diperoleh dari pemasukan yang bertumbuh. Income bisa didapat dari penghasilan bekerja atau melalui kegiatan investasi.

Nah, untuk menjadi sejahtera sebagaimana ukuran yang telah diputuskan oleh setiap individu, termasuk Anda, maka terlebih dahulu harus mengetahui seberapa jauh jarak Anda saat ini dengan tingkat kesejahteraan yang hendak diraih. Sebagai misal, dari sisi aset.

Saat ini Anda menyewa rumah dan Anda beranggapan untuk sejahtera, setidaknya Anda mesti memiliki rumah sendiri. Atau tidak menyewa selamanya. Maka pertanyaan berikutnya adalah, rumah seperti apa yang ingin Anda miliki. Lalu berapa lama dari sekarang rumah tersebut dapat Anda miliki.

Kemudian, dari mana sumber pembiayaannya. Artinya, ada rencana yang jelas, terukur, baik dari sisi waktu, maupun sumber dananya. Intinya, boleh-boleh saja Anda mendambakan apa saja, tetapi tidak boleh menafikan rasionalitas.

Sebagai misal, Anda berharap memiliki rumah saat ini. Untuk itu Anda memutuskan menggunakan KPR. Namun, mesti diukur kemampuan Anda melunasi KPR tersebut. Jangan sampai kemudian malah Anda terjebak pada kesejahteraan artifisial; memiliki aset bersumber dari utang dan kemudian aset tersebut hilang kembali karena Anda gagal melunasi utang.

Jelasnya, kesejahteraan yang diinginkan, termasuk memiliki rumah sendiri, tidak mesti dicapai dalam kurun waktu yang singkat. Bisa dimulai dengan memiliki rumah yang kecil dulu. Lalu, ketika penghasilan sudah lebih baik, maka diupayakan untuk memiliki rumah yang lebih besar, dengan terlebih dahulu menjual rumah yang sudah Anda miliki.

Jangan serakah
Kesimpulannya, sejahtera berkelanjutan pada dasarnya adalah bagaimana menumbuhkembangkan kekayaan dan aset Anda secara bertahap. Caranya bisa macam-macam, baik itu melalui investasi atau meminjam di bank. Namun, intinya, kesejahteraan tidak bisa diraih dalam jangka waktu yang pendek. Kesejahteraan merupakan suatu perjalanan yang dilalui bertahun-tahun dan berdasarkan perencanaan matang.

Kesejahteraan tidak bisa dicapai dengan unsur serakah. Jika Anda sudah mulai menjadi serakah, itu berarti Anda sudah tidak hati-hati dalam mendaki anak tangga kesejahteraan dan dengan sangat mudah Anda bisa tergelincir. Jadi, hindari serakah jika ingin menjadi sejahtera.

Agar Obrolan Soal Uang Tak Jadi Sensitif

Urusan uang memang selalu sensitif. Jadi meski Anda dan dia sudah menjadi suami istri dalam jangka waktu yang cukup lama, tetapi saat membahas keuangan Anda harus lebih berhati-hati untuk melakukannya. Jonathan Clements, direktur pendidikan finansial di Citi Personal Wealth Management, menjabarkan beberapa tips untuk menghindari kesalahpahaman dalam hubungan rumah tangga Anda karena masalah uang.

1. Jika ingin membicarakan mengenai keuangan rumah tangga, lakukan pada sore di hari libur Anda. Karena pada momen seperti ini, biasanya pasangan sedang berada pada perasaan yang baik, dan saat itu bebas dari segala macam aktivitas pekerjaan.

2. Katakan sesuatu seperti, "Sayang, sebelum kita memutuskan untuk punya anak (ini untuk pasangan yang baru menikah), alangkah baiknya jika kita membicarakan mengenai pengeluaran dan pemasukan keuangan kita berdua, bagaimana?" Jadi, katakan dengan nada yang santai serta mesra, sehingga perbincangan Anda berdua tidak akan diliputi ketegangan.

3. Utarakan lebih dulu. Misalnya Anda ingin membahas mengenai gaji, tabungan, atau bahkan mengenai utang kartu kredit Anda. Hal ini merupakan persoalan penting yang harus diketahui kedua belah pihak, untuk menentukan budget mengenai sewa rumah, tagihan-tagihan, dan biaya sehari-hari. Sampaikan, misalnya, "Aku harus menyisihkan Rp 1 juta per bulan untuk sewa rumah. Rasanya aku tidak bisa membayar lebih dari itu karena masih punya pinjaman Rp 500.000 di koperasi. Bagaimana denganmu?"









4. Saat keterusterangan antara Anda berdua sudah dilakukan, dan ternyata pasangan memiliki utang kartu kredit, jangan langsung panik. Tanyakan padanya, untuk apa utang kartu kredit itu, dan bagaimana ia membayarnya kembali. Kalau ia sudah punya rencana, tentu tak masalah. Tetapi kalau ia cenderung mengabaikan tagihan-tagihannya, Anda perlu berhati-hati (khususnya jika Anda masih dalam tahap pacaran). Jangan sampai utang-utangnya berpindah menjadi beban Anda ketika Anda menikah nanti.

10 Cara Menggalang "Crowd Funding"

Masih ingat dengan film Demi Ucok yang sukses mengumpulkan dana publik atau crowd funding? Cara yang dilakukan pembuat film ini untuk mengumpulkan dana bagi pembuatan filmnya juga bisa jadi solusi ketika Anda mau memulai bisnis atau kampanye aksi sosial tapi tidak punya modal. Bagi Anda seniman yang haus akan berpameran juga bisa mencoba.

Danae Ringelmann, co-founder Indiegogo, platform crowd-funding, berbagi 10 cara sukses memulai dan menjalankan crowd funding.

1. Punya target yang realistis
Setiap orang bisa saja menginginkan target besar, misalnya mengumpulkan Rp 250 juta. Tetapi, tanya lagi pada diri Anda sendiri apakah benar angka sebesar itu yang dibutuhkan untukproject Anda. Dengan menentukan target yang realistis dan masuk akal, Anda juga bisa meraba-raba siapa saja yang akan mau dan bersedia berkontribusi.

2. Manfaat baik yang diperoleh
Ketika seseorang berdonasi, perlu diberitahu apa manfaat baik yang akan ia peroleh. Apakah pencantuman nama, pemberian souvenir, dan lain sebagainya. Untuk itu bisa dipertimbangkan siapa kira-kira audiensnya, dan apa yang paling dekat dengan mereka. Hal penting dalam menentukan manfaat yang akan diberikan pada donatur adalah sesuatu yang berguna di saat ataupun setelah kampanye project Anda berakhir.

3. Tentukan pilihan funding
Ada banyak cara atau opsi dalam berdonasi. Salah satu di antaranya yakni donasi yang ketat atau fix. Dengan cara ini mau tidak mau Anda harus mencapai target untuk pengumpulan donasi. Opsi kedua, flexible funding. Project yang Anda kerjakan tetap berjalan walaupun tidak memenuhi target, dan Anda membuat rencana cadangannya. Sebelum memutuskan ada baiknya Anda pertmbangkan masak-masak, dan pilih yang fleksibel.

4. Buatlah video promo
Penting adanya pitch video, atau video yang berisi ajakan agar orang-orang tertarik untuk turut berdonasi. Karena faktanya, kampanye lewat video mampu meningkatkan kesadaran atau menyebar informasi lebih dari 100 persen jika dibandingkan dengan yang tidak membuat video. Lalu apa saja isi video ini? Pertama, penjelasan mengenai project yang sedang Anda kerjakan, dan bagaimana supaya hal itu bisa terwujud. Bagaimana melibatkan orang banyak, dan apa saja manfaat yang bakal mereka peroleh. Video promo yang baik disarankan atraktif, transparan, dan personal, serta berdurasi tidak lebih dari tiga menit.

5. Lama pengumpulan donasi
Beri batasan waktu mengenai berapa lama pengumpulan donasi terbuka untuk publik, sehingga kampanye jelas punya momennya sendiri. Idealnya bisa dua bulan atau 45 hari sebelum tenggat waktu.

6. Buat jadwal yang pasti
Jadwal kampanye dan project mesti jelas. Sehingga ketika semua agenda berjalan dengan semestinya, donatur akan merasa yakin. Bisa jadi agenda tersebut hitungannya per minggu sehingga terus memberi data update pada publik.

7. Buat kontes tertentu
Masa pengumpulan donasi bisa disiasati dengan menyiapkan kontes tertentu. Misalnya, pemberian hadiah atau suvenir dengan tujuan tetap menjaga ketertarikan publik terhadap kampanye atau project yang sedang Anda kerjakan. Cara sederhana ini sangat efektif untuk pengumpulan donasi.

8. Terus update
Selalu buat update atau info terbaru dari setiap aksi yang Anda lakukan. Apakah sudah mencapai target, dan berapa lagi yang dibutuhkan untuk mencapai target. Bagaimana respons positif yang sudah diterima, dan sebagainya. Update bisa per hari atau mingguan. Dengan begini, yang tidak atau belum ikut biasanya juga akan antusias.

9. Punya tim
Tidak mungkin mengerjakan aksi sendiri, maka ada baiknya buat tim atau beramai-ramai. Satu orang teman saja bisa membuat Anda terhubung dengan banyak jaringan, bayangkan bila dalam satu tim ada 10 orang atau lebih. Banyak teman akan membuat crowd funding jadi lebih lancar. Satu orang teman akan mengajak serta temannya, keluarganya, rekan kerjanya, dan seterusnya. Sudah terbayang berapa donasi yang tekumpul?

10. Penuhi janji untuk donatur
Jika pada awal Anda sudah menjanjikan sesuatu, misalnya manfaat yang diperoleh bagi para donatur adalah souvenir atau pencantuman nama mereka, maka penuhilah. Dengan memenuhi tanggungjawab ini maka semua pihak akan sama-sama merasa puas. Siapa tahu di masa yang akan datang Anda akan melakukan aksi yang lebih besar.

Biaya Hidup Lajang Lebih Mahal?

Meskipun kenaikan biaya hidup serta persiapan menikah semakin tinggi, tetap menjomblo ternyata lebih menghabiskan banyak uang, demikian menurut sebuah laporan dari majalah The Atlantic Monthly. Sadar tidak, jika Anda masih jomblo sekarang ini, pasti merasakan biaya hidup yang semakin tinggi tiap tahunnya.

Artikel tersebut juga mengatakan bagaimana perempuan lajang di Amerika bisa menghabiskan hampir 1 juta dollar lebih seumur hidup untuk memenuhi kehidupan mereka sendiri. Dalam artikel berjudul "The High Price of Being Single in America" tersebut, penulis Lisa Arnold dan Christina Campbell berargumentasi, selain tidak dapat mengandalkan pemasukan dari pasangan, perempuan lajang juga harus mengeluarkan dana ekstra untuk keperluan seperti kesehatan dan sewa rumah.


Ada berbagai contoh mengenai biaya hidup yang harus ditanggung sendiri ketika kita melajang, namun bisa dibagi dengan pasangan bila kita menikah. Ketika Anda indekos, mungkin biayanya tidak terlalu tinggi. Namun semakin bertambah usia Anda, Anda menginginkan lebih banyak privasi sehingga pilihannya adalah mengontrak, bahkan membeli rumah. Cicilannya tentu akan terasa lebih tinggi bila Anda harus menanggungnya sendiri.

Dari sisi kesehatan, Anda juga harus menanggung semua biaya penggantian obat atau perawatan kesehatan lainnya sendiri. Kalau pun kantor Anda memberikan penggantian uang atau menanggung sejumlah biaya kesehatan, kadang-kadang plafonnya tidak sebanding dengan biaya yang telah Anda keluarkan. Bila Anda menikah, ada kemungkinan kantor suami menggunakan asuransi dengan plafon atau jatah yang lebih bervariasi. Dengan demikian, Anda bisa saling melengkapi.

Di negara lain, menjadi lajang juga membutuhkan biaya mahal. Dengan menggunakan patokan rata-rata dari Bureau of Labor Statistics Amerka, Huffington Post mengkalkulasi bahwa menjadi lajang di usia 20-an akan menghabiskan biaya sekitar 9.964 dollar Amerika hanya untuk biaya perumahan, sedangkan mereka yang sudah berpasangan "hanya" mengeluarkan biaya sebesar 8.844 dollar.

Yang membutuhkan biaya besar bukan hanya biaya hidup, yang sudah bisa diprediksi oleh para lajang, tetapi juga biaya gaya hidup. Para lajang harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar biaya liburan, makan, dan bahkan membeli pakaian agar terlihat lebih menarik.

"Ketika saya masih lajang, saya menghabiskan banyak uang untuk keperluan pribadi agar menjadi lebih menarik. Sekarang, kami (dia bersama pasangan) lebih berhati-hati dalam pengeluaran uang, dan memanfaatkannya untuk kegunaan yang lebih baik," ujar Farnaz Shahri, perempuan muda yang baru menikah.

Bagi para pria lajang, biaya besar yang dikeluarkan antara lain untuk membayari teman kencan atau kekasihnya saat berkencan. Bahkan mungkin biaya bensin ekstra karena harus mengantar ke sana-kemari. Jika sudah menikah, pasangan muda biasanya akan membagi semua pengeluaran tersebut sama rata.

Memang ada perbedaan antara pengeluaran antara mereka yang lajang dan yang sudah menikah, tetapi semua itu sebenarnya tergantung kepada cara Anda mengelola keuangan dengan baik. Banyak juga kok, para lajang yang lebih cermat mengelola keuangannya. Jangan lupa, ketika Anda menikah dan punya anak, nah... di situlah pengeluaran Anda mulai menanjak gila-gilaan.






"Rasanya pengeluaranku bukan cuma lebih tinggi, tapi juga butuh lebih banyak menabung untuk mengamankan masa depan anak. Aku jadi tak punya kontrol mengenai biaya-biaya, dan butuh sokongan lebih besar untuk melindungi keluargaku," tutur Wendy McKibben Spies, desainer Amerika yang berbasis di Natchitoches, Louisiana.

Bagaimana pengeluaran Anda ketika menikah juga akan dipengaruhi oleh tipe kepribadian Anda dalam hal uang. Kalau Anda menikah dengan pria yang hemat, Anda pun akan lebih cermat dalam mengeluarkan uang. Sedangkan jika Anda menikah dengan pria yang boros atau gemar "membeli" gaya hidup, keuangan Anda pun akan sangat terpengaruh.

Apakah Anda lajang atau menikah, sebenarnya yang penting adalah menentukan tujuan finansial Anda. Kemudian, Anda perlu merancang suatu perencanaan keuangan yang akan membantu Anda mencapainya. Dengan demikian, meskipun Anda tidak menikah (atau sebaliknya), keuangan Anda menjadi lebih aman.

6 Tanda Anda Siap Beli Rumah

Anda mungkin memendam keinginan untuk membeli rumah. Tetapi pertanyaannya, apakah Anda siap memiliki rumah? Mungkinkah Anda mampu? Saat ini tak hanya perempuan berumah tangga yang memimpikan sebuah rumah. Banyak juga lho, perempuan lajang yang juga mulai melirik buat membeli rumah.

Ada banyak sekali alasan baik mengapa harus membeli rumah. Misal, tak perlu pusing memikirkan uang kontrakan, hingga investasi, karena nilainya akan selalu naik. Meski demikian Anda juga harus siap dengan segala risiko yang mengikuti di belakangnya, termasuk jika ledeng mampet, WC tersumbat, atap bocor, dan sebagainya.

Untuk mengetahui apakah Anda siap memiliki rumah sendiri, simak tanda-tandanya berikut:

1. Siap uang muka 20 - 30 persen
Bank biasanya memberikan pinjaman cicilan rumah dengan jumlah maksimal 70 persen dari jumlah total kredit yang dipinjam. Dengan begitu Anda harus menyiapkan uang muka sebesar 30 persen dari total harga rumah yang akan dibeli. Ketentuan uang muka 30 persen tersebut ditetapkan oleh pemerintah tahun ini untuk rumah yang luasnya 70 meter persegi. Meski demikian, ada pihak pengembang yang menetapkan uang muka sebesar 20 persen. Dalam segi pembayaran uang muka pun, pihak pengembang memberikan beragam cara, misalnya tunai, hingga cicilan pembayaran uang muka mulai tiga kali sampai 12 kali.

2. Utang dalam kendali
Permohonan kredit tergantung dari jumlah utang Anda. Intinya bank tidak akan meluluskan permohonan kredit Anda jika Anda memiliki jumlah utang yang besar. Idealnya cicilan utang Anda tidak boleh lebih dari 30 persen penghasilan dari total penghasilan Anda. Untuk itu, pastikan cash flow Anda sehat. Dengan kata lain saat ini Anda tak terlibat utang kartu kredit yang mencekik, atau pengeluaran yang melebihi pemasukan tiap bulannya.

3. Memiliki pendapatan tetap
Ketika Anda berkomitmen membeli rumah berarti Anda mampu membayar cicilan tiap bulannya. "Bila Anda membeli rumah bersama pasangan, salah satu dari Anda harus memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan tetap. Bila Anda lajang, maka Anda harus sudah memiliki pekerjaan tetap," jelas Allison Roger, penulis buku Diary of a Real Estate Rookie. Roger lebih lanjut menjelaskan, "Jika Anda sedang merencanakan melanjutkan sekolah atau beralih karier yang memaksa Anda meninggalkan pekerjaan saat ini, sebaiknya Anda menyiapkan tabungan yang cukup buat membayar cicilan sementara waktu."

4. Telah memikirkan anggota keluarga lain
Saat membeli rumah, sesuaikan juga dengan kebutuhan Anda. Termasuk siapa yang akan tinggal bersama Anda nantinya. Misalnya Anda berkeluarga, maka pastikan tersedia kamar untuk anak nantinya. Hal itu juga berlaku jika Anda berencana membawa orang tua tinggal bersama. Pikirkan kebutuhan Anda akan rumah hingga lima tahun ke depan, bukan hanya saat ini. "Bila kebutuhan ruang cukup banyak, dan Anda tidak mampu membeli rumah yang besar, tahan dulu pembelian rumah untuk sementara," jelas Roger. Atau, cari rumah di daerah pinggiran yang sesuai kebutuhan serta kantung Anda.

5. Siap merawat rumah
Biaya maintenance rumah akan sangat mengejutkan buat pemilik baru. Sebut saja biaya yang harus keluar untuk pemasangan kitchen set, tambahan pipa untuk ruang cuci baju, pemasangan teralis, pagar belakang rumah, penambahan daya listrik, dan seterusnya. Itu tidak termasuk biaya-biaya perbaikan bila ada yang rusak. Pergantian furniture setiap beberapa tahun atau mungkin tambahan lemari buku, pakaian, hingga lemari penyimpanan barang yang tak terpakai. Belum lagi iuran sampah, iuran keamanan, atau pajak bumi dan bangunan. Jangan heran jika Anda harus menyiapkan dana ekstra buat berjaga-jaga.

6. Tempat tinggal jangka panjang
Membeli rumah sebaiknya diputuskan sebagai tempat tinggal jangka panjang. Sebab, meski rumah merupakan investasi yang nilainya terus naik, akan tetapi rumah bukan dana cair. Anda tak bisa mengharapkan rumah Anda terjual dalam waktu dekat jika memutuskan pindah ke kota lain, atau bahkan negara lain. Bila Anda berencana bekerja di lain kota atau melanjutkan kuliah ke luar negeri, saran Roger, "Tahan dulu keinginan Anda membeli rumah. Sementara itu simpan uang Anda hingga saat yang tepat."