Senin, 03 Desember 2012

1 dari 5 Karyawan Selingkuh dengan Bos Demi Jabatan


 Cinta lokasi tidak hanya terjadi di lokasi syuting, tetapi juga di tempat kerja lainnya. Di kantor Anda menghabiskan hampir seluruh waktu produktif Anda. Sangat mungkin di sela-sela pembahasan soal pekerjaan itu, Anda juga membahas soal perasaan-perasaan Anda.

Di kantor-kantor pula, para karyawan kabarnya rela berselingkuh dengan atasannya untuk melicinkan jalan agar naik jabatan. Survei dari staffbay.com mengungkapkan, 20 persen karyawan akan mempertimbangkan untuk "tidur" dengan atasannya bila hal itu membuatnya dipromosikan.

Di luar dugaan, kecenderungan itu lebih banyak terjadi pada kaum pria daripada wanita. Sebanyak 30 persen pria bersedia "tidur" dengan si bos (wanita, tentunya!) demi promosi jabatan. Sedangkan kaum wanita yang rela melakukannya hanya 8 persen.

"Hasil survei ini sangat mengejutkan, khususnya melihat perbedaan besar antara perilaku pria dan wanita mengenai hal ini," papar Tony Wilmot, pendiri staffbay.com.

Sebanyak 5.000 pencari kerja dilibatkan dalam jajak pendapat dari situs lowongan kerja ini. Mereka ditanya mengenai harapan dalam karier, dan 7 persen di antaranya mengaku sudah pasti rela "tidur" dengan atasan untuk mengamankan jabatan yang diincar. Kemudian, 12 persennya tanpa ragu mengatakan bahwa hal itu pastinya merupakan sesuatu yang akan dipertimbangkan.

Dari pengalaman banyak orang, sebenarnya menjalin hubungan dengan rekan kerja -apalagi dengan bos- bukanlah sesuatu yang ideal. Terlepas dari kegembiraan karena bisa bertemu kekasih setiap saat, banyak juga situasi buruk yang bisa mengancam hubungan Anda. Yang terutama, Anda akan menjadi bahan gunjingan rekan kerja yang lain. Kemudian ketika hubungan tak berlanjut, situasi Anda dan si mantan akan serba canggung.

Itu sebabnya, Wilmot mengatakan bahwa hubungan asmara di kantor memang bukan langkah yang cerdas.

"Affair di kantor itu bukan ide yang bagus karena manajer senior sudah memiliki posisi pemegang kekuatan, dan karena itu tidak ada jaminan bahwa mereka akan terus berada dalam posisi tawar-menawar," katanya.

Ketika Anda sudah mengorbankan perasaan Anda demi mengambil hati si bos, dan ternyata tidak ada hasilnya, hal ini juga menjadi satu masalah baru bukan?

Kalau Senior Jadi Bawahan


Menjadi pribadi berprestasi di dunia kerja bisa terjadi pada siapa saja, termasuk junior yang belum lama bekerja pada suatu perusahaan. Usia tak selalu menjadi ukuran kesuksesan dalam karier, tapi kemampuan dan kualitas diri lah yang menentukan. Kalau Anda, sang junior memiliki prestasi cemerlang dan berhasil meraih promosi jabatan untuk memimpin para senior, tak perlu sungkan.

Terpilihnya Anda sebagai atasan bukan tanpa alasan. Majulah dengan percaya diri sebagai pemimpin dan tunjukkan bahwa Anda memang layak memimpin dengan kerendahan hati.
Billy Boen, pengusaha muda pemilik kafe ternama di Jakarta, telah melewati masa ini. Kepada Kompas Female, Billy berbagi pengalamannya. Tahu apa passion-nya dan memahami apa yang menjadi impiannya, mendorong Billy sukses dalam karier di usia muda.

Tak hanya bermimpi, Billy mewujudkan impiannya dengan aksi, menyelesaikan pendidikan S2 di usia 22. Pengusaha lulusan Utah State University dan State University of West Georgia di Amerika Serikat ini tak membuang waktunya. Selain didorong keinginan masa kecil menjadi bos, upayanya menyelesaikan pendidikan dalam waktu singkat menjadi aksi nyata demi meraih sukses. Tentunya didukung pula oleh sistem pendidikan yang membantunya lebih percaya diri, berkat mentoring dan coaching menjelang kelulusannya sebagai mahasiswa S1 Manajemen di Amerika.

Dengan berbagai kesiapan dan kualitas diri, Billy sukses menjadi general manager pada usia 26, dengan memimpin 240 karyawan. Pada usia 29, kariernya semakin cemerlang dengan menjadi direktur di perusahaan berbeda, memimpin 500 karyawan.
Dalam perjalanan kariernya, penulis buku Young On Top ini juga berpengalaman menjadi atasan untuk para seniornya. Prestasi yang membuat Billy berhasil meraih jabatan tinggi. Prestasi juga lah yang membuat junior mendapatkan penghargaan dari bawahan senior.

"Trust dan respect itu didapat dari prestasi. Jangan sekadar berharap dihargai, tapi upayakan penghargaan itu dari orang lain termasuk bawahan senior. Penghargaan dari orang lain akan muncul jika memang kita layak mendapatkannya, dengan menunjukkan bahwa kita bisa menjadi pemimpin," jelasnya di sela peluncuran program transformasi pria ala Nivea for Men di Jakarta.

Memimpin tim dari berbagai lapisan usia menjadi tantangan bagi pemimpin muda. Untuk berhasil menjalaninya, Billy memberikan saran. Bersikap rendah hati menjadi kuncinya. "Apa untungnya bersikap sombong, tidak akan ada yang mendengarkan kalau sombong," jelasnya.
Kepribadian baik dalam berperilaku merupakan faktor utama dalam kesuksesan seseorang dalam karier. Namun pengetahuan juga penting. Buka wawasan, dan berpikiran lah lebih terbuka, termasuk dengan mendengarkan apa kata senior yang menjadi bawahan, saran Billy.

"Senior punya pengalaman yang jauh lebih banyak, jadi jangan sungkan belajar dari mereka," lanjutnya.
Lagi-lagi perilaku punya peran penting terhadap kesuksesan karier seseorang. Bersikaplah dengan penuh rasa penghargaan kepada siapa saja dalam hal terkecil sekali pun. Sikap seperti ini akan memudahkan seorang junior yang menjalankan peran sebagai atasan para senior.

Hal yang tak kalah penting, lakukan pekerjaan dengan maksimal bersama tim. Buktikan bahwa Anda sebagai junior juga mampu menjadi pemimpin, menghargai pekerjaan tim Anda. Prestasi kerja menjadi ukuran penting agar Anda, si junior yang menjadi atasan, mendapatkan penerimaan bahkan dukungan dari seluruh anggota tim kerja Anda.

Agar Si Introver Punya Karier Cemerlang

Beberapa hal yang menonjol dari kepribadian intorver adalah enggan menjadi pusat perhatian, cenderung pendiam dan kurang berani "bersuara". Ketika orang lain mungkin bersemangat mengejar mimpi dan posisi, dia adem ayem saja dengan "dunianya". 

Di dunia kerja, kepribadian seperti ini di anggap kurang menarik. Itu sebabnya banyak kesempatan enggan mampir pada si introver. Nah, agar langkah karier tidak terhambat gara-gara kepribadian kita yang tertutup, simak saran dari Nancy Ancowitz, penulis buku Self Promotion for Introvert.

"Mana Suaranya?"
Salah satu ciri yang menonjol dari introver adalah pemalu. Ini ditunjukkan dengan volume suara yang kecil, bahkan nyaris sayup-sayup dan tidak menyakinkan. Akibatnya, lawan bicara membutuhkan konsentrasi penuh agar bisa mendengar suara Anda. Nah, untuk meningkatkan volume suara agar lebih terdengar dan jelas, cobalah berlatih. 

Jangan mengangkat alis dulu, latihan vokal tidak hanya berguna untuk penyanyi, kita pun membutuhkannya. Sering-seringlah latihan berbicara lebih keras. Berteriak? boleh, tapi di tempat yang sepi. Gunakan tape recorder agar kita bisa mengevaluasi apakah volume suara sudah meningkat atau belum. "Anda tak bisa menjual diri, jika suara Anda sangat kecil, tak terdengar, dan terkesan ragu-ragu," ungkap Nancy.

Jelaskan dengan dataOrang introver umumnya tak suka membual dengan target. Anda juga paling malas beradu argumen untuk mempertahankan pendapat. Kalau pendapat Anda sudah dipatahkan, Anda lebih memilih pasrah. Padahal belum tentu juga pendapat Anda salah dan yang mendebat Anda benar. 

Untuk menyiasati masalah ini, cobalah bermain dengan data. Tak harus ngomong panjang lebar berbusa, Anda bisa meyakinkan atasan dengan data-data yang akurat. Dengan begitu, apa yang kita ungkapkan benar adanya dan tak mengada-ada. 

Bila bicara soal target, sebutkan angka pastinya. Misal dengan bilang, "Target saya bulan depan, penjualan meningkat 25 perjualan dari bulan ini." Nah kalau to the point seperti ini, atasan pun merasa puas dan bisa menilai kemampuan kita yang sebenarnya.

"Bos, Tolong dong!"
Ketika merasa ada yang tak dimengerti dan kurang dipahami, jangan sungkan bertanya dan minta bantuan pada atasan. Ungkapkan bahwa kita membutuhkan bimbingannya untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik. 

Menurut Nancy, pendekatan ini berfungsi untuk menekankan bahwa atasan juga bertanggungjawab membantu kita untuk sukses. Dengan cara ini, kita akan terlihat bijaksana dan bisa bekerjasama dengan atasan. Siapa tahu, berikutnya atasan mempercayakan Anda pada proyek penting.

"Sudah cantikkah saya?"Hal ini memang terlihat sepele, tapi menurut Nancy, penampilan akan banyak berbicara bahkan sebelum kita berbicara. Penampilan sangat dibutuhkan untuk menunjukkan sikap profesional. Penampilan yang baik juga menjadi pemicu kita untuk meraih sukses. 

Ingin jadi bos? Berpakaianlah seperti bos. Agar lebih menonjol di kantor, cobalah lebih berani dalam berpakaian. Pilihkah baju dengan warna-warna ceria seperti merah, fuschia, biru atau tosca. Tambahkan aksesori penunjang seperti kalung dan ikat pinggang. Ini akan membuat kita terlihat lebih segar dan bersemangat.  

"Coaching" Anak Buah Bukan Hanya Tugas Staf HRD


Seorang teman, dikunjungi oleh "career coach" dari kantor pusatnya di luar negeri. Mereka ngobrol mengenai masa depan karier yang bersangkutan. Di ujung diskusi, teman saya menyatakan sesuatu yang membuat sang coach terperangah. Ketika sang coach menanyakan apa yang dibutuhkan oleh teman saya untuk mendukung kariernya, ia meminta agar salah satu anak buahnya diperhatikan. Teman saya dengan serius mengatakan: “Karyawan ini harus dikembangkan”.

Ia bahkan “separuh mengancam” dan memberi alasan bahwa kalau anak buahnya itu tidak diperhatikan, maka perusahaan tidak bisa mendapatkan manfaat dari si karyawan ini. Mengapa sang coach begitu surprise? Ia mengatakan bahwa di seluruh organisasi, baru kali ini ia mendengar ada orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri saja, tetapi juga anak buahnya.

Kita tentu bertanya-tanya, apakah gejala kurangnya concern atasan ke anak buah ini sudah menjadi umum? Inikah penyebab kelangkaan tumbuhnya pemimpin? Padahal, kita tahu persis ungkapan: “Orang hanya bisa berkembang menjadi leader, kalau dia bisa dan berhasil mengembangkan anak buahnya”. Ini berarti tidak hanya pengembangan diri anak buah yang tidak tersentuh, namun para atasan ini sendiri pun tidak berkembang menjadi pimpinan yang efektif.

Banyak kita mendengar pejabat atau pimpinan yang sudah terlalu sibuk sehingga pengembangan anak buah dan sumber daya manusia di sekitarnya seolah bukan urusannya. “Terlalu banyak substansi lain yang harus diurus. Biarlah pengembangan bawahan diurus oleh ‘ahlinya’”.

Ya, tidak sedikit orang lepas tangan dan menganggap ini adalah tugas dan tanggung jawab divisi sumber daya manusia, tidak termasuk dalam job description sebagai pimpinan. Bukankah jarang kita mendengar pejabat tinggi melakukan mentoring atau coaching, serta secara langsung memperbaiki kesalahan dan mengarahkan bawahan yang dilakukan dengan fokus untuk pengembangan bawahan? Apakah substansi bisnis, politik, proyek yang demikian kompleksnya, menyebabkan minat terhadap perkembangan anak buah sebagai aset terpenting ini tersisihkan?

Memang kita bisa melihat satu-dua leader akan tumbuh sendiri dengan cara yang tidak disadari organisasi, namun bukan produk organisasi yang memang berniat menciptakan leaders secara massal. Tidakkah kurang tumbuhnya penerus yang “kuat” di masa depan tidak dilihat sebagai ancaman yang serius?

Bermain manusia
Sumber kesalahan kita, bila kita mengeluh tentang langkanya kepemimpinan, adalah karena kita sendiri kurang banyak berminat pada manusia. Meski dalam keseharian kita berkomunikasi, bergaul, berempati, namun seberapa jauh kita siap untuk menggarap perkembangan orang lain? Apakah kita betul-betul berminat dan antusias untuk mengkotak-katik mindset-nya, habit-nya, ke-"bisa"-annya, sikapnya, mimpinya, sampai anak buah betul-betul mempunyai peluang untuk maju?

Kita melihat saat ini banyak perusahaan mengembangkan penilaian kinerja online, di mana semua analisa, penghargaan, pujian, ataupun teguran dilakukan oleh pimpinan pada anak buahnya secara tertulis. Hal ini memang efisien, tetapi pertanyaannya, apakah kita cukup mempunyai feel terhadap anak buah, mendeteksi potensi dan kompetensinya, mencatat perkembangan dan aspirasinya, bila tidak bicara dari hati ke hati? Padahal kita semua mengerti bahwa bila ada kesenjangan hubungan hati antara atasan dan bawahan, mustahil kita bisa melahirkan bibit-bibit leader yang baru secara produktif.

Membina bawahan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan membina pemain sepakbola. Pertama-tama, kita perlu memandangnya sebagai suatu fenomena yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Ada praktek, ada standar, harapan, dan agenda yang berbeda-beda di setiap individu. Permainan ini pasti melibatkan friksi, miskomunikasi, dan pembinaan rasa percaya. Ini memang permainannya, tidak mungkin dihindari. Hanya dengan penguasaan ini, anggota tim akan merasakan passion dan terlepas dari sense of duty yang berat.

Kita sering mendengar alasan seseorang keluar dari tempat kerjanya karena situasi tidak fun lagi. “Fun” seperti inilah yang perlu diciptakan seorang bermental coach di lingkungan kerjanya. Individu dalam kelompok perlu merasakan bahwa ia dituntut untuk menjadi "a better player" yang membutuhkan kemampuan problem solving, bersaing, dan  menciptakan hasil yang memuaskan. Baru dalam situasi inilah, seorang anggota tim akan merelakan waktu luangnya untuk mengerjakan pe-ernya demi penguatan sikap kerja dan kualitas kerja yang lebih baik.

Think: Journey
Kekuatan mental seseorang yang punya keahlian coaching adalah kemampuannya melatih bawahan atau anggota timnya untuk menghindari distraksi, penolakan, kelelahan, dan berkonsentrasi untuk memperpanjang nafas dalam melakukan tugas.

Di sinilah jam terbang seorang pemimpin berperan karena akan lebih mudah baginya untuk membuktikan pada bawahan bahwa ketangguhan akan menjadi jawaban atas kesuksesan bawahan. Seorang bermental coach tahu cara mendampingi individu ketika bertransisi dari satu situasi lama ke baru. Ia perlu mendampingi anak buahnya ketika meng-”oper gigi” dalam berkinerja. Ia pun perlu mengajari time awareness pada anak buahnya, baik awareness yang diukur dengan stopwatch, maupun kalender.

Hal yang juga sangat penting dalam coaching adalah kekuatan mengajarkan pada anak buah bagaimana menyikapi kesuksesan dan kegagalan. Bawahan harus tahu bahwa kariernya adalah perjuangan, karena itu ketangguhan untuk menghadapi pasang-surutlah yang harus dipompakan kepadanya. Sebetulnya prinsip dalam membimbing anak buah simpel saja: “They good, you care. They bad, you care. They fall, you‘re there.”

Orang yang punya passion pada manusia dan rajin dalam membimbing orang lain untuk maju, jarang sekali kita lihat meninggalkan tim atau menikmati hari tua dengan bersedih. Ia pasti terpuaskan melihat hasil bimbingannya, apalagi kalau berhasil menurunkan ketrampilan, pengetahuan, dan melihat anak buah menjadi lebih canggih dalam "bermain" dan ber"taktik". Bukankah kehidupan ini memang mempunyai sifat suksesif? Tidakkah kita ingin meninggalkan hidup dan dikenang sebagai legenda karena keberhasilan mensukseskan orang lain?

Pentingnya Role Model dan Mentoring untuk Sukses


Banyak anak muda Indonesia yang tak tahu cara meraih mimpi, mencapai sukses, bahkan tidak berani bermimpi. Mereka memilih untuk menjalani saja apa yang ada saat ini. Ketika punya mimpi pun, tak sedikit yang kehilangan arah dalam mewujudkannya.

Masalah ini dialami baik kalangan mahasiswa yang bersiap memasuki dunia kerja, maupun first jobber dan yang sudah lama berkarier tapi mandek karena tak tahu apa passion-nya, dan harus berbuat apa untuk meningkatkan kariernya.

Pengusaha berusia 31, penulis buku Young On Top, Billy Boen, mengatakan, kebanyakan anak muda yang tak tahu apa passion-nya. Mereka tak tahu apa yang diinginkan, sehingga terjebak dalam keadaan yang menghambatnya meraih kesuksesan.

"Problemnya di Indonesia kurang role model. Terlalu banyak berita negatif di media massa. Jadi banyak anak muda menjalani apa yang ada sekarang saja, dan tidak punya mimpi. Butuh role model dan dukungan yang memfasilitasi anak muda untuk meraih sukses, untuk diri dan lingkungannya, supaya anak muda punya kontribusi dan memiliki pandangan yang lebih positif," jelas Billy, saat peluncuran program Nivea for Men - Men In Mission di Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Sukses bagi Billy adalah apabila seseorang mampu mencapai apa yang diimpikan dari awal. Juga hidup seimbang, antara karier, keluarga harmonis, memiliki teman yang banyak, serta mampu bersenang-senang dan menikmati hidup. Sukses juga bisa bermakna seseorang bisa melakukan perubahan dalam diri sehingga bisa membuat perubahan positif bagi lingkungannya. Kesuksesan ini bisa diraih siapa saja, asal punya passion dan mimpi, serta melakukan aksi nyata menuju kesuksesan itu.

Sayangnya, banyak anak muda tidak tahu apa passion-nya. Tak banyak orang yang bekerja sepenuh hati karena merasa happy. Banyak juga yang tidak tahu arah mengenai apa yang akan dicapainya. Problem lainnya adalah, kurangnya keinginan kuat untuk melakukan perubahan yang mendorong seseorang bekerja untuk berkontribusi, bukan sekadar mematuhi tugas dari perusahaan atau atasan.

"Sukses itu menular ke orang lain. Setiap orang bisa menjadi mentor bagi yang lainnya untuk meraih sukses. Enggak asik kalau sukses sendirian," ungkapnya.

Karenanya penting bagi generasi muda memiliki mentor, role model yang mendukungnya meraih sukses. Selain role model dan mentoring, anak muda juga perlu memupuk kepercayaan diri. Billy mengatakan percaya diri artinya memahami kelebihan dan kekurangan diri. Penampilan pun perlu diperhatikan, bukan dengan melihat merek pakaian tapi lebih kepada menghargai orang lain dengan penampilan yang tepat.

"Ada orang yang sukses tapi tak memedulikan penampilannya. Tapi kita juga bisa memberikan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga penampilan. Penampilan yang tepat memberikan aura berbeda dan membuat kita lebih percaya diri karenanya," jelas Billy.

Kunci sukses lainnya adakah memiliki action plan. Ada gol spesifik dan langkah spesifik yang dilakukan untuk meraih sukses. Semua hal ini bisa diraih dengan berani bermimpi dan menemukan passion. Lagi-lagi, mentoring dan role model menjadi pendorongnya.

Billy mengungkapkan, sistem pendidikan Indonesia tidak menyiapkan mahasiswa tingkat akhir untuk memasuki dunia kerja. Di sinilah mentoring sebenarnya berperan. Dan anak muda Indonesia tak banyak memiliki kesempatan ini.

"Saya belajar di luar negeri dan di tingkat akhir saya belajar cara membuat CV yang baik, cara menghadapi wawancara, dengan begitu kita lebih siap memasuki dunia kerja," tutur pria yang sukses meraih posisi General Manager perusahaan bidang fashion di usia 26, dan menjadi Direktur pada usia 29, hingga akhirnya mendirikan perusahaan sendiri saat ini.

Billy menunjukkan bagaimana dengan passion yang kuat dan mimpi yang besar, didukung role model dari mentoring, seseorang bisa menikmati kesuksesan.

"Sejak kecil saya bercita-cita jadi bos, saya tidak tahu apa artinya. Saya bisa menjadi GM di usia 26 tahun karena mencolong start, menyelesaikan S1 dalam 2 tahun 8 bulan, dan melanjutkan S2. Saya tahu apa yang mau dicapai. Dan attitude juga penting, bagaimana kita menghargai orang lain dan mau belajar," kisahnya.

Billy meraih sukses bermodalkan passion, mimpi, juga aksi nyata, tanpa terlepas dari mentoring yang diyakininya berdampak besar pada diri anak muda.

Trik Wawancara Saat Pindah Kerja


Mengapa pindah kerja? Pertanyaan ini sering muncul saat wawancara kerja, terutama ketika Anda baru saja meninggalkan kantor lama. Banyak yang terganjal di wawancara kerja karena salah memberikan jawaban. Erina Collins, agen rekruitmen di Los Angeles, memberikan tip agar Anda tidak terpeleset lidah saat menjawab pertanyaan saat wawancara kerja.

1. Jangan curhat tentang atasan.
Menjawab bahwa Anda tidak suka dengan atasan. Apalagi curhat tentang sikap atasan yang Anda anggap tidak menyenangkan pada pewawancara.

Misal: "Atasan suka membuat saya jengkel karena gemar memberikan pekerjaan tambahan, sudah gitu gaju saya enggak naik-naik pula."

Kalau Anda menyatakan hal ini saat wawancara kerja, pewawancara akan berpikir bahwa Anda akan melakukan hal yang sama ketika pindah kerja dari perusahaan tersebut.

2. Bicara taktis dan diplomatis.
Jangan pernah memberikan jawaban yang menjelekkan tempat kerja lama Anda atau apa pun yang konotasinya negatif. Keburukan yang lama, cukup Anda curhatkan pada sahabat saja.

Sebaiknya katakan: "Saya menginginkan suasana kerja yang teratur dan terjadwal." Atau katakan, "Gaji saya sebenarnya baik-baik saja, tapi saya tentu akan senang kalau ada peluang peningkatan gaji di tempat lain."

Bisa juga dengan menjawab, "Suasana kantornya menyenangkan, saya belajar banyak di tempat lama, tapi saya merasa inilah saatnya saya mengembangkan sayap lebih lebar lagi di tempat baru."

Mengatasi Rasa Takut Gagal Saat Bekerja


 Apakah Anda takut menghadapi berbagai hal dalam hidup? Ternyata ketakutan ini dipengaruhi oleh jenis kelamin seseorang. Menurut penelitian yang dilakukan University of Massachusetts di Boston, perempuan dianggap kurang berani menghadapi resiko karena takut gagal. Namun, ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar.

Julie Nelson, chairwoman dari fakultas ekonomi di universitas tersebut mengungkapkan, pada beberapa bagian seperti pengaturan keuangan dan ekonomi, perempuan lebih berani menanggung resiko dibandingkan pria.
"Lebih tepatnya, perempuan dan laki-laki sebenarnya memiliki perilaku dan keberanian menanggung resiko yang sama dalam hal pengaturan keuangan," tukasnya.

Hanya saja, selama ini perempuan sering dianggap tak terlalu berperan di perusahaan. Akibatnya, perempuan sering merasa bahwa mereka tidak seharusnya berperan untuk mengambil resiko, demikian menurut Esther Rothblum, PhD, dari San Diego University. Tak heran, karena tidak biasa melakukan hal ini perempuan jadi merasa takut gagal ketika melakukan segala sesuatu.

Lantas apakah Anda ingin berhenti mencoba hal-hal baru karena takut gagal? Sebaiknya tidak. Berikut cara yang bisa digunakan untuk mengatasi rasa takut gagal dalam diri Anda.

1. Carilah pertanyaan terbesar dari ketakutan Anda

Perempuan kadang enggan menghadapi resiko. "Ini disebabkan adanya tingkat perfeksionisme yang tinggi dari diri Anda. Anda punya ketakutan tersendiri atas apa yang dipikirkan orang lain terhadap perbuatan Anda. Dan ini membuat Anda rendah diri," tukas Rothblum.

Akibatnya, Anda hanya punya sedikit keberanian dalam mengambil resiko atas berbagai hal yang sebenarnya bisa Anda lakukan lebih baik. Cara mengatasinya, mulailah untuk yakin pada diri sendiri bahwa Anda mampu melakukan hal tersebut sebaik-baiknya. Jangan terlalu memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain. Jika perlu carilah sosok yang bisa menginpirasi dan meningkatkan kepercayaan diri Anda dalam menghadapi tantangan.

2. Carilah dukungan
Sebelum memulai melakukan sesuatu, berhentilah untuk membayangkan berbagai kemungkinan negatif yang akan terjadi. Karena belum tentu hal ini bisa terjadi pada Anda, salah-salah justru membuat Anda jadi pesimis.

Tak ada salahnya untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, atau pasangan Anda. Ajak mereka ngobrol tentang masalah yang dihadapi, dan minta mereka untuk mendukung Anda agar lebih bersemangat menghadapi tantangan.

3. Yakin pada diri sendiri

Setiap orang memiliki kemampuan yang hebat dalam dirinya, hanya saja belum semua orang menyadarinya. Mengambil resiko untuk menjawab tantangan memang cukup berat, namun yakinlah bahwa Anda bisa melewatinya dan mendapatkan hasil yang baik. Tentu dalam setiap hal yang dilakukan, Anda akan mendapatkan risiko yang mungkin buruk. Hanya saja ini bukan akhir dari segalanya.

Daripada khawatir tentang hal buruk yang belum terjadi, pikirkan berbagai hal baik dan ingatlah bahwa Anda tidak akan tahu jika Anda tidak pernah mencobanya.